Menu Baru Web PWS Medan

Bergabunglah dengan Paguyuban Wargi Sunda versi FaceBook , dapatkan info PWS terbaru , Jangan lupa DOWNLOAD File berbentuk Powerpoint ( pps ) dari web ini , dan semuanya tentu saja Gratis untuk anggota dan pembaca setia Web PWS - Medan , Haturnuhun
Myspace tweaks at TweakYourPage.com

Senin, 14 Juli 2008

Mari Kita Bakar Perahu itu..!


Suatu Ketika Thariq Bin Ziyad memerintahkan pasukannya untuk membakar semua kapal sehingga tidak ada satu kapalpun yang tersisa, pilihannya berjuang sampai titik darah penghabisan dan hidup mulia.

Sebuah langkah yang tidak populis bagi Thariq sekaligus tidak masuk akal bagi pasukannya yang tidak bernyali. Hanya mereka yang berjiwa matang, kuat dan bersemangat tinggi yang berjuang dan hidup mulia.

Langkah berani Thariq Bin Ziyad membakar perahu juga membakar semangat pasukannya untuk menang.

Pilihan sulit muncul bagi mereka, pasukan-pasukan berjiwa yang lemah. Hanya mereka yang berjiwa kuat & memiliki daya juanglah yang akan menang dalam kehidupan.

Jiwa-jiwa yang kuat tercermin dari wajahnya senantiasa optimis dan senantiasa siap untuk mengorbankan harta serta jiwanya bagi perjuangan.

Itulah sebabnya orang-orang yang kuat tidak pernah takut mati. Sebab kematian adalah jalan mendekatkan diri pada Alloh SWT sekaligus meraih janjiNya.\

Sama seperti dalam kehidupan kita sehari-hari.

Jika intelektualitas kita dibangun diatas semangat juang maka akan terlahir karya kehidupan yang terbaik.
Bangsa ini butuh etos & daya juang.

Mari Kita Bakar Perahu itu..!

Bulu Ayam


Nampak seekor Ayam dengan bulu-bulunya yang indah berjuntai berjalan-jalan di sebuah pematang sawah. Tak jauh disana nampak seorang petani yang sedang menjemur gabah yang baru saja dipanennya.

Melihat bulir-bulir padi yang terkumpul, Ayam yang tengah kelaparan itu berkata:

Wahai Kang Kabayan , bolehkah saya makan padi-padimu?”

Si Petani tersebut si Kabayan yang melihat ayam dengan bulu-bulunya yang indah menjawabnya ,

”Tentu saja boleh, namun apakah saya juga boleh memiliki beberapa helai bulu-bulumu yang indah itu?”

“Oh tentu saja boleh, silahkan ambil yang mana yang kau suka
kata si Ayam dengan mata berbinar mendengar pujian si petani.

Lalu, usai si Ayam makan dengan kenyang dan puas, dilanjutkan dengan pencabutan beberapa helai bulu-bulu indahnya oleh si Kabayan.

Menyadari bahwa bulu-bulunya memiliki nilai tukar, keesokan harinya si Ayam mendatangi rumah si Kabayan menawarkan bulu-bulunya, namun kali ini si Ayam menginginkan makanan yang lebih enak dari sekedar beras.

Kabayanpun setuju ,
Baiklah, saya akan menyediakan makanan yang enak, untuk setiap tiga puluh helai bulu-bulumu karena saya membutuhkan sebuah kemoceng untuk membersihkan debu-debu dirumahku

Hari demi hari berlalu, si Ayam sangat menikmati makanan enak yang setiap hari disajikan oleh si Kabayan tanpa menyadari bulu-bulunya yang kian menipis hingga makin nampak jelas kulitnya yang putih kemerahan.

Suatu malam turun hujan sangat deras disertai udara sangat dingin dan pagi harinya ditemukan seekor ayam tanpa bulu terbujur kaku mati kedinginan.

Kepada teman SMA yang bekerja di sebuah perusahaan tambang emas di bumi Papua yang dikenal kaya raya akan tembaga dan logam mulianya , saya bertanya ,

Emas disini kapan habisnya ya?”

Dari jawaban yang bervariasi menandakan bahwa tak ada yang tahu dengan pasti kapan habisnya, namun semuanya setuju jika ditambang terus tiap hari, maka suatu saat pasti akan habis.

Jumat, 11 Juli 2008

Mimiti Masantren


Jang Ibro mimiti masantren. Manehna can kungsi masak sorangan. Hiji mangsa ku seniorna dititah naheur cai jang nyieun ci kopi.
Atuh rada bingung. Nya pok nanya ka santri sejen, jang Juhe nu geus wanoh, nu hanjakalna teh sarua anyar jeung teu kungsi ngalaman masak di imahna.

Kang, abdi teh teu acan kantos naheur cai. dupi ari asakna kumaha, nya?”

Oh, gampil, upami tos ngagolak, cagap. Tah upami tos hipu, eta hartosna tos asak…”jang Juhe inget kana bubuahan, ari asak pan sok hipu. geus kitu, jang Ibro ka dapur, cai nuvgagolak dicagap. puguh we ngajerete, da cai sakitu panasna. balik deui ka jang Juhe.

Kang, cai teh kalah ka panas pisan geuning?”

“Oh..mun dina buah mah, teuas keneh meureun. ke antos sakedap…”

Kunti Jeung Tukang Sado


Kunti Jeung Tukang Sado

Dina hiji peuting kacaritakeun mang Udin tukang sado rek balik saenggeus mangkal di dayeuh, pas keur ditengah jalan mang Udin nu euker mengendarai kuda supaya baik jalanya, ningali aya awewe keur nangtung disisi jalan bari make baju bodas bari buukna panjang nepi ka bujurna, ku mang udin ditanya :

“Neng bade kamana wengi-wengi kieu’?”. “Nya eta mang bade ka ka bojong lopang” jawab na.

Tuluy singkat carita eta awewe teh milu ka mang udin da kampung mang udin ngaliwatan kampung nu rek dituju ku awewe eta. Pas nepi ka bojong lopang awewe eta turun bari ngasongkeun duit 20,000,.

Ah neng sawios atuh” ceuk mang udin.

Si awewe eta teu loba carita bari indit kana rungkun anu poek, barang teu lila mang udin kaget nempo duit 20,000 tadi rubah jadi daun kararas,

Bari nga gurutu mang Udin nyarita “Dasar Kunti lanak”,

teu lila sia wewe eta bijil dei tina rungkun anu poek bari nyarita
Dari pada amang mah TUKANG SADO


Rabu, 09 Juli 2008

Ujian atau Azab?

Ujian atau Azab?

sumber, http://mubarok- institute. blogspot. com

Indonesia kini masih dirundung oleh krisis multi dimensi yang tak kunjung usai, padahal negara-negara lain seperti Korea, Thailand dan Malaysia yang terlanda krisis ekonomi bersama Indonesia, mereka telah bisa keluar dari krisis itu.

Banyak orang mengatakan bahwa Indonesia
sedang diuji kemampuannya mengelola kehidupan berbangsa. Yang lain mengatakan bahwa bangsa Indonesia sedang menerima azab yang setimpal dengan kesalahannya.

Apa Bedanya ?

Baik ujian maupun azab, keduanya berwujud kesulitan. Ujian adalah satu proses seleksi untuk naik kelas. Kesulitan yang dihadapi oleh orang adalah kesulitan yang memang diprogram untuk mengukur tingkat kemampuannya mengatasi masalah dalam dunia realitas.

Boleh jadi
kesulitan dalam ujian lebih berat dibanding realitasnya. Jika ini yang
kita yakini maka sebagai orang beragama kita membayangkan bahwa Allah
SWT melalui sunnatullah Nya sengaja memberikan kesulitan kepada bangsa Indonesia ini agar kita terlatih menghadapi kesulitan yang lebih besar di waktu mendatang, liyabluwakum fi ma ata kum (Q/6:165).

Jika kita menyadari sedang diuji maka bangsa ini seyogyanya secara serius menghindari faktor-faktor penghambat dan mempersiapkan secara teliti faktor-faktor pendukung.

Betapapun sulitnya ujian, tapi
mengerjakannya, dengan semangat dan optimis karena terbayang masa depan yang lebih baik pasca ujian.

Adapun azab adalah kesulitan sebagai akibat dari kesalahan yang
dilakukan. Dalam perspektif sunnatullah, keadilan akan mengantar pada kesejahteraan, siapapun yang melakukan.

Jika bangsa Indonesia,
terutama negara, menegakkan prinsip keadilan, maka kesejahteraan rakyat pasti tercapai. Menurut perspektif sunnatullah juga, jika
kezaliman merajalela, siapapun yang mengerjakan, apalagi jika dilakukan oleh negara, maka betapapun besarnya sumberdaya alam yang dimiliki, pada akhirnya krisis akan menimpa bangsa itu, dan krisis tersebut merupakan azab yang disebabkan oleh kejahatan.

Jika orang menghadapi kesulitan dalam ujian dengan penuh semangat berkorban, maka rakyat menghadapi kesulitan azab dengan penuh rasa kemarahan.

Secara psikologis, orang yang yang sedang marah biasanya
tidak dapat berfikir jernih.

Inilah yang sedang dialami oleh bangsa
Indonesia, perilakunya anarkis seperti perilaku orang marah, sehingga bukan solusi problem yang ditawarkan tetapi semuanya berlomba-lomba memberi kontribusi berupa problem baru.

Menurut al Qur'an, sekiranya penduduk suatu negeri perilakunya mencerminkan iman dan takwa (bermoral) niscaya sumberdaya alam akan berfungsi sebagai keberkahan Tuhan, sayang penduduk negeri itu mendustakan prinsip-prinsip kebenaran, maka Tuhan menurunkan (dari sumberdaya alam itu) azab sesuai dengan kejahatan mereka (Q/7:92).

Analisa yang sudah sering kita dengar menyebutkan bahwa kerusakan yang menimpa bangsa ini sungguh sangat mendasar, bukan hanya alamnya yang rusak, tetapi juga moralnya.

Hujan yang mestinya merupakan berkah dari
Tuhan berubah menjadi banjir. Sumber tambang seperti yang ada di Irian Barat (Freeport) yang semestinya menjadi kekayaan bangsa, berubah, keuntungannya dinikmati orang luar (AS), limbahnya kita yang harus menanggung.
Minyak yang hendak digali , justru lumpur yang keluar berkepanjangan.

Lalu harus bagaimana?, jika azab ini bersumber dari perilaku yang salah, maka solusinya adalah mengubah perilaku.

Bangsa, dengan
dipelopori oleh negara harus memiliki kemauan kuat dan kemauan bersama untuk mengubah perilaku.

KKN yang bukan saja merupakan wujud ketidak
adilan, tetapi sudah menjadi kezaliman harus dihapus secara sungguh-sungguh.

Jika telah sungguh – sungguh melakukan komitmen itu,
maka yakinlah kepada sunnatullah bahwa dibalik kesulitan ada kemudahan, fa inna ma`al `usri yusra (Q/94:5-6), bahwa habis gelap pasti terbit terang.
Insya Allah. Wallahu a`lam.


sumber, http://mubarok- institute. blogspot. com

Salam Cinta,
Agussyafii

Senin, 07 Juli 2008

4 Tingkatan Derajat Dari Lisannya Seseorang


Berbicara amatlah mudah, hanya menggerakkan lidah tanpa harus mengeluarkan tenaga ataupun biaya, tetapi dampaknya amatlah luar biasa bisa mengukur derajat seseorang atau bahkan menentukan nikmat atau bencana dunia akherat.

Nabi kita tercinta Muhammad s.a.w. sungguh terpelihara lisannya, beliau tidak berkata kecuali yang benar, akurat, tak ada yang sia sia, bersih dari maksiat, tak melukai hati sarat dengan makna, penuh dengan ilmu, melimpah hikmah, runtut. Indah mudah dicerna, dan menggugah serta merubah menuju kebaikan siapapun yang tulus menyimaknya.

Rahasianya adalah buah dari hati yang tulus jauh dari riya, hati yang tawadhu tak tersentuh sombong dan takabur, hati yang penuh kasih sayang bersih dari dengki dendam dan benci,..hati yang bersih.. bening.

Dan pula selalu berhati hati, pandai membaca situasi, tepat memilih kata, jitu memilih waktu dan suasana, sehingga hanya manfaat dan manfaat yang bertabur, bila mendengar tutur katanya selalu benar.

4 Tingkatan Derajat orang yang berbicara :

1. DERAJAT MULIA -cirinya adalah bila berkata sarat dengan hikmah, tak sia sia, ilmu dan zikir, sehingga apapun yg dibicarakan niscaya membawa manfaat bagi siapapun yang mendengarkannya.

2. DERAJAT ORANG BIASA -ciri khasnya adalah sibuk menceritakan peristiwa, heboh segala diceritakan bahkan terkadang lebih banyak bumbu penyedap berbau bohong, kata berhambur banyak tapi miskin dari arti dan makna, sayang memang banyak membuang waktu yang amat berharga tanpa membawa manfaat.

3. DERAJAT ORANG RENDAHAN -cirinya adalah sibuk mengeluh, mencela, menghina, menggerutu, komentar negative untuk apa saja, sulit didengar kebaikan dari mulutnya.. inilah ciri-ciri orang berpenyakit yang mulai kronis hatinya, akan merusak suasana dan menghancurkan amalnya sendiri serta tak disukai orang lain,

4. DERAJAT ORANG DANGKAL - cirinya adalah sibuk menceritakan dirinya sendiri, jasa baiknya, kekayaannya, kedudukannya, amal amalnya tentu maksudnya agar dirinya dihargai, dipuji dan dihormati padahal yang terjadi adalah sebaliknya.. benar benar sebaliknya, hina dina tak berharga.

naudzulbillahi min dzalik !!!

Source : Daarut Tauhid

SEMANGAT


''Maka sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.'' (QS Al-Insyiroh [94]: 5-6).

Banyak orang yang optimistis memandang masa depan; ia yakin segala keinginannya akan terwujud. Namun, ketika mendapatkan hambatan, ujian, dan cobaan, ia tak sanggup lagi meneruskan perjuangan untuk menggapai cita-citanya itu.

Tak berhenti di situ, ia membuat kesimpulan: bahwa itu bukan jodohku, ini bukan jalanku, aku tidak cocok di sini, tidak pantas menjadi itu, dan masih banyak lagi alasan lain yang membuat seseorang menjadi kehilangan semangat. Ia menjadi patah arang, atau bahkan frustrasi.

Sungguh kasihan orang seperti ini! Padahal, Allah menjanjikan 'nikmat' lain: bahwa setelah kesulitan itu pasti akan datang kemudahan. Ia tidak dapat menikmati karunia Allah yang telah diberikan kepada setiap hambanya termasuk potensi yang dimilikinya. Lalu bagaimana solusinya?

Sebenarnya banyak ayat Alquran yang menegaskan agar kita jangan berputus asa. Begitu pula hadis-hadis yang dikemukakan Rasulullah SAW. Salah satu ayat yang berkaitan dengan itu adalah surat Al-Insyiroh ayat 5 dan 6 yang berbunyi,

"Maka, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.''

Pada ayat-ayat tersebut terdapat kata inna atau 'sesungguhnya' , kata yang biasa digunakan untuk memperkuat dan menegaskan terhadap lafal dalam bahasa Arab, tak terkecuali dengan ayat-ayat di atas. Terlebih ayat tersebut dinyatakan dua kali. Subhanallah!

Tak perlu dijelaskan arti sebuah kesulitan atau kegagalan, tapi dua ayat itu cukup untuk memotivasi kepada kita agar selalu tetap semangat menghadapi setiap masalah. Karena sesungguhnya, pertolongan Allah itu dekat. Mungkin tahun ini gagal masuk perguruan tinggi impian, tapi siapa tahu justru kegagalan itulah yang menuntun kita ke sukses lain yang lebih besar.

Meski masa depan itu samar, tidak ada yang tahu kecuali Allah SWT dan hamba-hamba- Nya yang Ia kehendaki, tetapi kita dianjurkan mempersiapkan segala hal untuk menghadapi kemungkinan- kemungkinan yang ada. Maka dari itu, selayaknyalah kita mengarahkan tujuan kita hanya kepada Allah.

Segala sesuatunya ikhlas karena Allah. Semuanya dilakukan untuk menggapai rahmat Allah SWT. Karena keinginan atau cita-cita selain kepada Allah itu batil, sia-sia, dan rugi, karena bagaimanapun juga kita akan kembali pada-Nya. Mari menyongsong masa depan yang lebih cerah yang dinaungi dengan rahmat dan ridha Allah.

Sumber: Republika - Jumat, 04 Juli 2008

Jumat, 04 Juli 2008

Harta Karun Fira'un


Kabayan , si orang bijak bercerita:

Alkisah, seorang firaun memiliki ruang rahasia di kuburan piramidnya yang dibangun sewaktu ia masih hidup, di mana berbagai hartanya disimpan dan dipercaya akan menjadi bekalnya di dunia akhirat.

Namun, seorang pekerja pembangun ruangan yang dulu, diam-diam tanpa diketahui,berhasil lolos ketika para pembuat ruangan rahasia itu dibunuh setelah ruangan itu jadi, bercerita kepada dua orang anaknya,

Aku akan mati sebagai orang miskin, tapi kalian dapat masuk ke ruangan harta karun melalui peta rahasia ini sebagai warisan, karena firaun adalah seorang tiran, dan sesungguhnya ia menghisap kekayaan dari orang-orang miskin seperti kita.”

Ketika dua anak itu kemudian berhasil mengambil sebagian harta itu berkat peta warisan, salah seorang di antara mereka terjebak oleh perangkap rahasia.

Penggal dan bawa pergilah kepalaku ! Karena kalau para penjaga mengenaliwajahku, bukan hanya aku yang mati, tapi kamu juga akan bernasib sama, “desaknya kepada saudaranya.

Mereka berdebat beberapa lama, tapi akhirnya saudaranya bisa dibujuk untuk melakukannya, dan akhirnya bisa lolos dengan selamat.

Firaun yang baru kaget dan marah mengetahui bahwa pencuri telah memasuki kuburan ayahnya. Dan ia lebih kesal lagi hanya mendapati sesosok mayat tanpa kepala.Ia memerintahkan agar mayat itu diikatkan di sebuah tembok, dan dijaga siang malam, dengan harapan bahwa keluarga yang merasa memiliki jenazah itu akan menginginkannya, dan jika mereka mengklaimnya, ia akan ditangkap,

Ternyata saudaranya yang masih hidup ini seorang yang panjang akal. Ia membeli beberapa kantung anggur keras, memuatkan mereka pada seekor keledai, dan pada suatu malam melepaskannya di dekat para petugas penjaga jenazah.

Para pengawal itu mengambil kantung-kantung anggur dan minum hingga mabuk. Saat mereka lengah sang saudara mengambil mayat itu dan menguburkannya secara layak.


Kabayan si Bijak berkata,

Cerita ini sesuai dengan kerja dari pikiran. Harta karun itu melambangkan ilmu pengetahuan, sang firaun adalah kecenderungan pikiran yang sesat untuk menghalangi orang untuk belajar sesuatu yang berguna bagi mereka.

Sang ayah adalah orang yang mengetahui bagaimana cara mendapatkan pengetahuan,sedang dua orang anaknya adalah dua kondisi dari pikiran.
Anak pertama merepresentasikan fungsi pikiran yang gigih namun imajinatif; sedang saudaranya menunjukkan prinsip pikiran yang aktif dan selalu bisa bertahan, yang tak kalah cerdiknya dengan yang satunya.”

Dengan cara demikianlah baik seperti pada anak pertama atau kedua” , lanjut si Kabayan , “ pelayanan terhadap kemanusiaan berlanjut. Camkanlah bahwa pengajaran berlangsung dengan jalan yang istimewa.”

“ Tidak penting apakah cerita ini nyata atau rekaan sebab yang terpenting ia sesuai untuk menjadi ilustrasi pengajaran.”

see article on :

Kamis, 03 Juli 2008

CEULEUKEUTEUK


BAHAN BOM

Yeuh manéh geus nyaho henteu béja ikhwal SPBU anu di peuntaseun kantor pulisi?”
“Encan. Na kunaon kitu?”
“Enya, kanyahoan nimbun jeung ngajual bahan bom rancangan urang Rusia”
“Gening teu di ségel ku pulisi?”
“Henteu, da cenah mah teu ngalawan aturan hukum”
“Gening?”
“Da bénsin mah perelu keur mobil jeung motor”
“Oh….bahan bom Molotov…….”


DI PERPUSTAKAAN

Kriiiiiiiing..........harita téh kira-kira jam 2 peuting telpon disada di imah kapala perpustakaan.

"
Halo, punten pa. Badé naros, perpustakaan téh bukana jam sabaraha ?"
"Ieu téh jam 2 peuting, kuring keur saré, lain wayah nananyakeun nu kitu deuleu !", ngambek.
"Tapi ieu penting pa"
"Jam 10 isuk-isuk bukana !"
"Henteu tiasa langkung énjing deui pa ?"
" Naha manéh maké kudu datang isuk-isuk pisan ? Pira gé nginjeum buku !"
"Sanés badé nambut buku pa, abdi ayeuna kakonci dilebet perpustakaan pa !"

Abah Téa
Kang Deddy Setiawan
PT. Krama Yudha Tiga Berlian Motor - Jakarta

Selasa, 01 Juli 2008

Paguyuban Warga Sunda di Medan Fokus Kegiatan Sosial

Paguyuban Warga Sunda (PWS) Medan Sekitarnya akan lebih fokus kepada aksi-aksi sosial dalam setiap kegiatannya.

Hal ini demi terjalinnya silaturahmi, baik sesama warga sunda maupun dengan warga lainnya di Kota Medan. Demikian disampaikan ketua panitia kegiatan bakti sosial PWS Kang Asep Syarifuddin, didampingi Ketua PWS Medan Tembung, Ade Hidayat, serta beberapa unsur pengurus PWS lainnya kepada beberapa mass media di Medan , di sela-sela acara sunatan massal dan donor darah di aula Masjid Taqwa Islamic Center Muhammadiyah, Jalan Mustafa, Medan, Minggu (29/6).

Menurut Asep, warga Sunda di Medan dan sekitarnya perlu bekerja sama dan mengeratkan tali silaturrahmi. Salah satu kegiatan yang paling tepat adalah dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan sosial keagamaan.

Kami berharap dengan kegiatan-kegiatan sosial yang kami laksanakan, dapat mempererat silaturahmi warga sunda di medan, baik itu dengan sesama warga Sunda maupun dengan warga suku lainnya,” ujarnya.

Warga Sunda di Medan dan sekitarnya, lanjutnya, saat ini berjumlah lebih kurang 2.000 orang, dan angka tersebut baru yang terdata. Diharapkannya, dengan kegiatan sosial ini warga Sunda lainnya dapat bergabung untuk mempererat silaturahmi.

Kang Ade Hidayat menambahkan, PWS akan rutin melaksanakan kegiatan-kegiatan sosial, bahkan akan dilaksanakan setahun sekali. Dana untuk kegiatan-kegiatan PWS murni berasal dari sumbangan para anggota.

Namun untuk kegiatan kali ini, dia sangat berterima kasih kepada Pimpinan Anak Cabang Muhammadiyah Kampung Dadap Medan, yang telah memberi izin kepada PWS untuk menggunakan tempat bagi pelaksanaan acara.

Pada kegiatan bakti sosial tersebut, PWS melaksanakan kegiatan khitanan massal terhadap 120 orang anak yang berasal dari keluarga kurang mampu. Sedangkan untuk kegiatan donor darah di ikuti oleh 60 orang peserta. Kegiatan tersebut dilaksanakan bekerja sama dengan tim kesehatan dari RS dr Pirngadi Medan dan RS Adam Malik Medan.