Menu Baru Web PWS Medan

Bergabunglah dengan Paguyuban Wargi Sunda versi FaceBook , dapatkan info PWS terbaru , Jangan lupa DOWNLOAD File berbentuk Powerpoint ( pps ) dari web ini , dan semuanya tentu saja Gratis untuk anggota dan pembaca setia Web PWS - Medan , Haturnuhun
Myspace tweaks at TweakYourPage.com

Selasa, 22 Juli 2008

CEULEUKEUTEUK


TUKANG OBAT (3)

"Jang, aya obat lieur ?"
"Kantenan aya bapa, tah ieu landong lieur mah""Ngajaran sabotol"
Isukna katingali si tukang obat keur dicarékan laklak dasar.
"Gening kalahka beuki lieur saenggeus nginum obat ti manéh !?"
"Da éta mah minuman keras cap topi miring bapa"
"Hah siah ngabobodo ka aing ?!"
"Apan bapa hoyong lieur ......."

TUKANG OBAT (4)

"Bapak-bapak, Ibu-Ibu sekalian. Saya bawakan shampoo yang lain daripada yang lain !
Shampoo ini baik untuk rambut yang hitam dan berkilau !"
"Éh...bang...sayah meuli hiji !"

Sabulan tiharita si Ibu nepungan si abang tukang shampoo.

"Kumaha ari sia ! Buuk aing tetep waé huisan ! Ngabobodo ka urang kampung siah !"
"Jangan dulu marah Ibu ! Saya tidak bohong ! Shampoo ini memang baik untuk rambut yang hitam dan berkilau ! Bukan baik untuk rambut yang beruban seperti rambut Ibu itu !"

TUKANG OBAT (5)

"Bang kuring meuli obat flu sasachet"
"Ini Pak. Mudah-mudahan cepat sembuh"

Saminggu tiharita.

"Mana... cenah obat flu alus, tapi geus saminggu teu cageur-cageur !"
"Oh..bapak.... coba baca dikemasannya...bila sakit berlanjut, hubungi dokter,
jadi bukan hubungi saya.., bapa salah alamat....."


TUKANG OBAT (6)

"Bapa-bapa, ibu-ibu, mangga pilih obat-obatan abdi anu dipikapalay !"
Breng bapa-bapa sareng ibu-ibu marilih obat, anu cenah mah murah.
Sabulan ti harita. Para bapa-bapa sareng ibu-ibu protes.

"Yeuh ujang. Saurang ogé euweuh anu cageur ku obat manéh téh !"
"Apan saur abdi ogé obat-obatan, janten sanés obat leres...
cobi waé contona ucing-ucingan...apan sanés ucing saleresna sanés ?"


TUKANG OBAT (7)

"Mang....cenah obat nyamuk, tapi siga bateré urut éta mah ?"
"Ihhh....lain bateré urut samanéa ieu mah.....geus dijiad di kulon !"
"Kumaha tah prakprakan nganggona ?"
"Bateré dipoé, tuluy dipesék, gerus arengna, caian, semprotkeun wéh...."
"Kumaha lamun reungitna teu paéh ?"
"Gampang atuh...balédog waé ku bateré.."
"Kumaha lamun nyingcet teu keuna ?"
"Téwak reungitna, terus dibebek ku bateré, pasti paéhna !"
"Leres matih tah bateré téh nya m
ang"

TUKANG OBAT (8)

" Para sadérék......ieu téh obat kuat.."
"Wah...kuat naon waé tah mang ?"
"Kuat macul, kuat ngaronda, kuat manggul......."
"Da abdi mah seueur hutang....dupi aya obatna ?"
"Aya....!"
"Obat kuat naon tah mang ?"
"Obat kuat……….kaéra !"

TUKANG OBAT (9)

Si babah Ho Liang téh dagang obat di pasar Cipatujah. Diwawancara ku panwaslu.
"Bah...kaping lima badé milih capres anu mana ?"
"Ah...ceuk kuling mah kawéh caplés ogé alus....."
" Naha kitu ?"
"Enya, kawéh caplés ogé wawatulan kuling"
"Wah hébat si babah gaduh réréncangan capres...!"
"Cowa wéh...Wie Lan Tho nu woga tokoh emas........, Shie Mei Gha no woga tokoh sapatu,
A Mien adina A Shiong nu woga tokoh weusi, Soe Shie Loh nu woga tokoh wako.
Ngan Ham Tza nu kuling teu wawuh téh....."

Abah Téa
Paguyuban Wargi Sunda - Medn

Munajat Hari Ini


Ya Allah ya Tuhanku,Engkau maha pemberi.

Apa saja yang datang dari kemurahanMu, walaupun hal itu nampak kecil atau sedikit, maka pasti lebih baik, lebih besar dan lebih agung daripada apa yang disebut-sebut sebagai pemberian manusia, meskipun pada hakikatnya semua itu berasal dariMu juga.

Engkaulah yang memberi karunia yang dengannya seseorang mampu menghindari budi-jasa orang lain danyang dengannya dia mampu menolong atau meringankan beban orang lain.

Sesungguhnya Engkau lebih menyukai tangan yang di atas daripada tangan yang di bawah.

Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta wa astaghfirukawa atubu ilayka, amin.

Menyikapi Peristiwa

Salah satu kegiatan pengajian wargi PWS - Medan

Katakanlah,

''Siapakah yang dapat melindungi kamu dari takdir Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?'' Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh pelindung dan penolong selain Allah.'' (QS Al-Ahzab [33]: 17).

Setiap peristiwa yang terjadi di muka bumi ini, entah itu bencana maupun rahmat, disikapi dengan berbeda-beda antara orang satu dan lainnya. Banyak yang mengeluh, tapi tak kurang juga yang bersyukur.

Paling tidak ada tiga sikap yang selayaknya dijalani, bukan sebagian, tapi semuanya.

Pertama, mempercayai bahwa apa yang terjadi adalah takdir Allah. Ketika hal ini yang kita lakukan, semestinya tidak ada lagi keluhan dan protes. Sekaligus mengukuhkan keimanan dengan percaya pada qada dan qadar.

Takdir Allah adalah apa yang terjadi terhadap tiap-tiap manusia yang telah ditulis di Lauhul Mahfudz.

Sikap mempercayai kejadian sebagai takdir dari Allah SWT, sebaiknya diteruskan dengan sikap kedua.

Yakni, mengambil hikmah kejadian.
Allah SAW bersabda,

''Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidaklah pula sama orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh dengan orang-orang yang durhaka. Sedikit sekali kamu mengambil hikmah (pelajaran).'' (QS Al-Mu'min [40]: 58).

Setiap kejadian, selain takdir, pasti mempunyai hikmah. Ketika kita kalah dalam kompetisi sebuah jabatan, misalnya, selain takdir, kita harus bisa mengambil hikmah dari semuanya.

Ketika kalah, kita bisa lebih mengingat Allah SWT.
Ketika kalah, sesungguhnya kita diselamatkan Allah dari banyak masalah yang bakal kita terima ketika menang.

Sungguh Allah telah menyiapkan berbagai hikmah kehidupan, bagi orang-orang yang berpikir.

Ketiga, melakukan pembelajaran. Sebagai makhluk Allah yang paling sempurna, kita bisa mengevaluasi apakah 'strategi ' hidup kita sudah benar?

Seluruh pertanyaan tersebut harus dijawab dengan jujur untuk pembelajaran dan perubahan.

Bukankah Allah telah berjanji.'

'.... Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.'' (QS Ar-Ra'd [13]:11).

Wallahu a'lam bish-shawab.

Paguyuban Wargi Sunda - Medan
http://www.pwsmedan.blogspot.com/

Senin, 21 Juli 2008

Munajat Hari Ini


Ya Allah ya Tuhanku,Rezeki apa saja yang telah Engkau tetapkan untukku, cepat atau lambat pasti akan sampai juga kepadaku.

Apa saja yang telah Engkau tetapkan bagi hidupku selama aku tinggal di dunia ini pasti tidak akan lari kepada yang lain.

Jika aku dapati sesuatu diberikan kepadaku lalu sesuatu itu hilang atau dicuri atau diambil paksa oleh orang lain, maka sesuatu itu mestilah bukan bagian dari rezeki yang Engkau tetapkan untukku.

Aku ridho dengan apa yang telah Engkau cukupkan untukku.
Engkau maha suci dari sifat dzalim dan aniaya.

Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta wa astaghfirukawa atubu ilayka, amin.
Paguyuban Wargi Sunda - Medan

CEULEUKEUTEUK


TUKANG OBAT (1)


"Mangga bapa-bapa ibu-ibu ieu landong soca anu pangsaéna sa dunya!"
"Jang, éta téh obat mata ?"
"Sumuhun Ibu ! Sadaya gangguan soca tiasa dilandongan ku ieu obat"
"Cikan meuli hiji !"
Saminggu ti harita si Ibu datang deui.
"Jang, gening obat téh henteu matih ?"
"Ah piraku ! Na kumaha kasawat socana ?"
"Enya, salaki kuring mata karanjang......"
"Oh....atuh éta mah teu lebet kana daftar matihna landong ieu !"
"Cenah ceuk manéh bisa keur sagala rupa panyakit mata !"


TUKANG OBAT (2)

"Mangga karempel kadieu ! Ieu obat kumis ti India !"
"Meuli jang saplés mah ! Kumaha cara makéna ?"
"Gampil bapa. Oléskeun kana lambey, tapi kedah lambey bagian lebetna"
"Atuh kuring kudu nyengir terus ?"
"Jamak atuh bapa da mung sakedap, mung dua jam"
"Naon deui anu kudu diperhatikeun ?"
"Obat ieu teu kénging kana waos, margi janten teu matih deui"
Dongkap ka bumi si bapa ngolésan lambey lebet nganggo obat kumis téa.
Saminggu ti harita si bapa nepangan tukang obat di pasar.
"Jang, gening teu jadi kumisna ?"
"Pasti obatna kana waos nya ?"
"Enya saeutik. Atuda mani bau tikotok medok !"
(da enya, bahana tina bujur hayam ! Puas siah !)


Abah Téa

Sabtu, 19 Juli 2008

Mengapa Tuhan Tidak Menolongku ?


Ada seorang laki - laki yang tinggal di dekat sebuah sungai, Kabayan namanya. Bulan - bulan musim penghujan sudah dimulai.

Hampir tidak ada hari tanpa hujan baik hujan rintik-rintik maupun hujan lebat.

Pada suatu hari terjadi bencana di daerah tersebut. Karena hujan turun deras agak berkepanjangan, permukaan sungai semakin lama semakin naik, dan akhirnya terjadilah banjir.

Saat itu banjir sudah sampai ketinggian lutut orang dewasa. Daerah tersebut pelan-pelan mulai terisolir. Orang - orang sudah banyak yang mulai mengungsi dari daerah tersebut, takut kalau permukaan air semakin tinggi.

Lain dengan orang-orang yang sudah mulai ribut mengungsi, si Kabayan tampak tenang tinggal dirumah.

Akhirnya datanglah truk penyelamat , sebuah Truck Mitsubishi Fuso berhenti di depan rumahnya.

Kabayan, cepat masuk ikut truk ini, nggak lama lagi banjir semakin tinggi”, teriak salah satu regu penolong ke lelaki tersebut.

Si Kabayan menjawab: “Tidak, terima kasih, anda terus saja menolong yang lain. Saya pasti akan diselamatkan Tuhan. Saya ini kan sangat rajin berdoa.”

Setelah beberapa kali membujuk tidak bisa, akhirnya truk Mitsubishi Fuso tersebut melanjutkan perjalanan untuk menolong yang lain.

Permukaan air semakin tinggi. Ketinggian mulai mencapai 1.5 meter. Kabayan masih di rumah, duduk di atas almari.
Datanglah regu penolong dengan membawa perahu karet dan berhenti di depan rumah lelaki tersebut.

“Kabayan, cepat kesini, naik perahu ini. Keadan semakin tidak terkendali. Kemungkinan air akan semakin meninggi.

Lagi-lagi si Kabayan berkata: ” Terima kasih, tidak usah menolong saya, saya orang yang beriman, saya yakin Tuhan akan selamatkan saya dari keadaan ini.

Perahu dan regu penolongpun pergi tanpa dapat membawa si Kabayan.
Perkiraan banjir semakin besar ternyata menjadi kenyatan. Ketinggian air sudah sedemikian tinggi sehingga air sudah hampir menenggelamkan rumah-rumah disitu. Kabayan nampak di atas wuwungan rumahnya sambil terus berdoa.

Datanglah sebuah helikopter SAR dan regu penolong.
Regu penolong melihat ada seorang laki-laki duduk di wuwungan rumahnya. Mereka melempar tangga tali dari pesawat.

Dari atas terdengar suara dari megaphone: ” Kabayan, cepat pegang tali itu dan naiklah kesini. “, tetapi lagi-lagi laki-laki tersebut menjawab dengan berteriak:”Terima kasih, tapi anda tidak usah menolong saya. Saya orang yang beriman dan rajin berdoa. Tuhan pasti akan menyelamatkan saya.

Ketinggian banjir semakin lama semakin naik, dan akhirnya seluruh rumah di daerah tersebut sudah terendam seluruhnya.
Bagaimana nasib si Kabayan tersebut?
Dia akhirnya mati tenggelam.

Di akhirat dia dihadapkan pada Tuhan. si Kabayan kemudian mulai berbicara bernada protes:

Ya Tuhan, aku selalu berdoa padamu, selalu ingat padamu, tapi kenapa aku tidak engkau selamatkan dari banjir itu?”

Tuhan menjawab dengan singkat:

Aku selalu mendengar doa-doamu, untuk itulah aku telah mengirimkan Truk, kemudian perahu dan terakhir pesawat helikopter. Tetapi kenapa kamu tidak ikut salah satupun ?

Sebuah cerita menarik. Demikian juga dalam kehidupan kita, kita bekerja dan selalu melakukan doa kepada Allah s.w.t.

Dan Allah sudah sering mengirimkan “truk”,perahu”, dan “pesawat” kepada kita, tapi kita tidak menyadarinya.

Tahukah Kita


Kita lahir dengan dua mata di depan wajah kita, karena kita tidak boleh selalu melihat ke belakang.Tapi pandanglah semua itu ke depan, pandanglah masa depan kita.

Kita dilahirkan dengan 2 buah telinga di kanan dan di kiri, supaya kita bisa mendengarkan semuanya dari dua buah sisi.Untuk bisa mengumpulkan pujian dan kritik dan menyeleksi mana yang benar dan mana yang salah.

Kita lahir dengan otak didalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin apapun kita, kita tetap kaya. Karena tidak akan ada satu orang pun yang bisa mencuri otak kita, pikiran kita dan ide kita.Dan apa yang anda pikiran dalam otak anda jauh lebih berharga dari pada emas dan perhiasan.

Kita lahir dengan 2 mata dan 2 telinga, tapi kita hanya diberi 1 buah mulut. Karena mulut adalah senjata yang sangat tajam, mulut bisa menyakiti, bisa membunuh, bisa mengoda, dan banyak hal lainnya yang tidak menyenangkan.Sehingga ingatlah bicara sesedikit mungkin tapi lihat dan dengarlah sebanyak-banyaknya.

Kita lahir hanya dengan 1 hati jauh didalam tulang iga kita.
Mengingatkan kita pada penghargaan dan pemberian cinta diharapkan berasal dari hati kita yang paling dalam.Belajar untuk mencintai dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintai dia.
Berilah cinta tanpa meminta balasan dan kita akan menemukan cinta yang jauh lebih indah.

Jumat, 18 Juli 2008

CEULEUKEUTEUK


MONDOK

Profesor Ling Lung nganjang ka imah sobatna kira-kira 200 meter ti imahna.
Pas rék balik pisan, ngadadak turun hujan.

"
Prof. Ayeuna nuju hujan ageung, ulah mulih heula, bilih kahujanan"
"Aya payung henteu ?"
"Teu aya prof, dianggo pun anak ka pasar"
"Enya atuh, satuju kuring rék mondok di dieu"

Sahibul bait gura-giru meresihan kamar kosong keur profesor.
Kira-kira lima menit, kaluar ti kamar. Tapi naha bapa profesor
teu aya di kamar tamu ?
Kotatang-kotéténg dipilarian unggal juru, weléh teu aya.

Trok...trok....trok....trok... sora aya nu ngetrok panto hareup.
Rekét panto dibuka....

"
Euleuh euleuh....kunaon profesor jibreg, bucis kitu ?"
"Nyaéta, nyokot piyama heula di imah, pan rék mondok di dieu !"

Abah Téa

Membangun Bukit


Mungkin Anda pernah mendengar suatu peribahasa yang mengatakan “Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit”.

Pepatah ini benar adanya dan Anda bisa memanfaat makna dari peribahasa ini untuk kehidupan Anda. Artinya hal-hal kecil yang Anda lakukan atau juga Anda abaikan akan membuat perbedaan besar dikemudian hari.
Yang menjadi pertanyaan, apakah membuat perbedaan yang positif atau negatif?

Nah tahukah Anda kecelakaan Titanic disebabkan oleh hal “kecil” yang diabaikan?
Betul ! hanya dengan mengubah material paku penyambung dengan kekuatan sedikit dibawah standar, kapal tersebut bisa menjadi tenggelam.

Dengan material paku penyambung tersebut, kapal memang masih bisa beroperasi dengan baik dengan catatan tidak ada tabrakan.
Paku tersebut hanya cukup untuk menyambung saja, tetapi tidak cukup untuk menahan tabrakan.

Jadi tenggelamnya kapal raksasa tersebut hanya disebabkan oleh paku yang sangat kecil.

Begitu juga dalam hidup kita bisa jadi kehancuran hidup kita disebabkan oleh hal kecil yang selalu kita lakukan atau yang kita abaikan.

Mungin saja, ada hal kecil yang terus kita lakukan, padahal akan mengarahkan kepada kehancuran besar. Bisa juga ada hal kecil yang selalu Anda abaikan padahal akan membawa kepada keberhasilan besar.

Mulailah dengan menyingkirkan kebiasaan-kebiasaan negatif, sekecil apa pun.
Mulailah membangun kebiasaan-kebiasaan positif, sekecil apa pun.

Sungguh, kebiasaan negatif bisa menghancurkan Anda jika Anda terus memeliharanya.
Memang diperlukan upaya untuk membangun kebiasaan positif dan meninggalkan kebiasaan negatif. Namun jika Anda memiliki keinginan kuat ditambah dengan pikiran positif, maka semua itu bisa Anda lakukan.

Tip sederhana namun ampuh yang bisa Anda gunakan untuk membangun kebiasaan positif maupun menghilangkan kebiasaan negatif ialah dengan rajin-rajin memvisualisasikan kehidupan dimana Anda hanya melakukan kebiasaan yang positif saja.

Masih banyak teknik yang bisa kita lakukan untuk membangun kebiasaan positif yang nantinya bisa membangun diri Anda jika Anda konsisten melakukannya.

Ingat, lama-lama menjadi bukit.

Apakah bukit kehancuran atau bukit keberhasilan ?

Rabu, 16 Juli 2008

Ustad H. Harijono , tetangga sekampung di Bekasi - Jawa Barat

Dalam kegiatan keagamaan , di kota Medan dalam minggu - minggu ini diramaikan oleh kehadiran Ustad kondang H. Harijono , yang menggelar pengajian dan dzikir akbar yang bertempat di Mesjid Agung dan Hotel Tiara Medan.

Antusiasme masyarakatpun sangat positif , setiap pengajian digelar , pastilah ribuan umat hadir dari pelosok Sumatra Utara.

Ustad karismatik yang murah senyum inipun tak urung menjadi serbuan masyarakat yang ingin mendapat berkatnya.
Jangankan untuk bertemu muka , untuk sekedar bersalaman yang makan waktu 5 detik pun sulit setengah mati , mengingat ribuan umat yang ingin bertemu dengannya.

Buat saya pribadi , Pak H. Harijono ini bukan cuma sekedar ustad , beliau adalah " tetangga sekampung " di kediaman saya di kota Bekasi - Jawa Barat.

Jarak rumah kami cuma selemparan batu saja.

Saat dzikir akbar di Medan pun saya dan keluarga turut hadir , istri dan anak - anak sangat mengharapkan bisa bersalaman dengan beliau , namun ribuan umatpun mengharapkan hal yang sama.

Dapatkah keinginan tersebut terkabul ?
Sekaligus melepas rindu dengan " tetangga sekampung " di Bekasi - Jawa Barat tersebut.




Saat menunggu bertemu dengan Pak Ustad

Subhanallah ! ,
Atas izin Allah SWT , keinginan kami rupanya terkabul.

Saat melihat Ustad H. Harijono dikelilingi ribuan umat , ternyata ada santri beliau yang mengenali kami.

Akhirnya dengan dibantu informasi Pak Murtado ( santri ) , tidak disangka - sangka Pak Ustad bernyata berkenan menerima kami , tidak hanya sekedar bersalaman , namun beramah tamah bersama keluarga lewat " kunjungan khusus " .

Tidak kurang dari 30 menit waktu yang kami habiskan untuk bercerita segalam hal , mulai dari kemacetan di Bekasi , hilangnya lapangan bola ( tempat kami dulu bertanding sepak bola ) karena dibangun perumahan dll.

Saya pun menginformasikan adanya komunitas warga Jabar yang tergabung pada Paguyuban Wargi Sunda - Medan , dimana banyak warga Bekasi - Jawa Barat yang turut aktif pada kegiatan pengajian komunitas tersebut.

Sang Ustad pun menyambut positif kegiatan pengajian PWS tersebut , dengan pesan beliau agar terus lebih di intensifkan dan selalu konssisten.

Tidak hanya itu , Sang Ustad yang ramah , murah senyum dan sangat santun ini juga mengajak kami berdzikir " khusus " buat keluarga kami , di lanjutkan dengan pengobatan untuk kami sekeluarga.

Pada dasarnya beliau senang menerima " tetangga sekampungnya " di kota Medan.

Semoga Allah SWT. membalas semua kebaikan yang diberikan kepada kami dan juga seluruh masyarakat kota Medan. Amin

Berphoto bersama Ustad H. Harijono seusai beramah tamah dengan beliau.