Menu Baru Web PWS Medan

Bergabunglah dengan Paguyuban Wargi Sunda versi FaceBook , dapatkan info PWS terbaru , Jangan lupa DOWNLOAD File berbentuk Powerpoint ( pps ) dari web ini , dan semuanya tentu saja Gratis untuk anggota dan pembaca setia Web PWS - Medan , Haturnuhun
Myspace tweaks at TweakYourPage.com

Rabu, 19 Maret 2008

KEADILAN DAN KELALIMAN



Tak lama setelah cukup lama memerintah , Gubernur Pasundan mengundang para ulama di kawasan itu.

Setiap ulama mendapat pertanyaan yang sama:
“Jawablah: apakah aku memerintah secara adil atau lalim ?.
Kalau menurutmu aku adil, maka dengan keadilanku engkau akan kugantung.
Sedang kalau menurutmu aku lalim, maka dengan kelalimanku engkau akan kupenggal.”

Beberapa ulama telah jatuh menjadi korban kekejaman Gubernur ini.
Dan akhirnya, tibalah waktunya Kabayan diundang.

Ini adalah perjumpaan resmi Kabayan yang pertama dengan Sang Gubernur.
Gubernur kembali bertanya dengan angkuh :
“Jawablah: apakah aku adil ataukah lalim.
Kalau menurutmu aku adil, maka dengan keadilanku engkau akan kugantung.
Sedang kalau menurutmu aku lalim, maka dengan kelalimanku engkau akan kupenggal.”

Dan dengan menenangkan diri, Kabayan menjawab :
“Sesungguhnya, kamilah, para penduduk di sini, yang merupakan orang-orang lalim dan bengis.
Sedangkan Anda adalah pedang keadilan yang diturunkan Allah yang Maha Adil kepada kami.”
Setelah berpikir sejenak, Sang Gubernur mengakui kecerdikan jawaban itu. Maka untuk sementara para ulama terbebas dari kekejaman sang Gubernur lebih lanjut.

Selasa, 18 Maret 2008

Keledai Membaca



Gubernur Pasundan menghadiahi Kabayan seekor keledai.
Kabayan menerimanya dengan senang hati.

Tetapi Gubernur berkata,
Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat hasilnya.”

Kabayan berlalu, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana.
Tanpa banyak bicara, Gubernur menunjuk ke sebuah buku besar. Kabayan menggiring keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya.

Si keledai menatap buku itu, dan tak lama mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir. Setelah itu si keledai menatap Kabayan.

“Demikianlah,” kata Kabayan, “Keledaiku sudah bisa membaca.”

Gubernur mulai menginterogasi, “Bagaimana caramu mengajari dia membaca ?”
Kabayan berkisah, “Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya.

Keledai itu harus belajar membalik-balik halaman untuk bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar.”

“Tapi,” tukas Gubernur tidak puas, “Bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya ?”
Kabayan menjawab, “Memang demikianlah cara keledai membaca: hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya.

Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti isinya, kita disebut setolol keledai, bukan ?”

Kabayan Memanah



Sesekali, Gubernur Pasundan ingin juga mempermalukan Kabayan .
Karena Kabayan cerdas dan cerdik, ia tidak mau mengambil resiko beradu pikiran.

Maka diundangnya Kabayan ke tengah-tengah prajurit Siliwangi.
Dunia prajurit, dunia otot dan ketangkasan.

“Ayo Kabayan ,” kata Gubernur,
“Di hadapan para prajuritku, tunjukkanlah kemampuanmu memanah.
Panahlah sekali saja.
Kalau panahmu dapat mengenai sasaran, hadiah besar menantimu.
Tapi kalau gagal, engkau harus merangkak jalan pulang ke rumahmu.”

Kabayan terpaksa mengambil busur dan tempat anak panah. Dengan memantapkan hati, ia membidik sasaran, dan mulai memanah.

Panah melesat jauh dari sasaran.
Segera setelah itu, Kabayan berteriak, “Demikianlah gaya Pak Bupati memanah.”
Segera dicabutnya sebuah anak panah lagi.
Ia membidik dan memanah lagi.
Masih juga panah meleset dari sasaran.
Kabayan berteriak lagi, “Demikianlah gaya Pak Walikota memanah.”

Kabayan segera mencabut sebuah anak panah lagi.
Ia membidik dan memanah lagi.
Kebetulan kali ini panahnya menyentuh sasaran.
Kabayan pun berteriak lagi, “Dan yang ini adalah gaya Kabayan memanah.

Untuk itu kita tunggu hadiah dari Paduka Pak Gubernur .”
Sambil menahan tawa dan menggeleng - gelengkan kepalanya , Pak Gubernur menyerahkan hadiah kepada Kabayan.

CEULEUKEUTEUK


KAPALANG

Si Madhapi urang Soréang téa, ayeuna mah kacaritakeun geus digawé di pabrik Mitsubishi Krama Yudha Motors.
Manéhna kost diimah penduduk urang Madura kira-kira sapangududan ti pabrik.
Kabiasaan goréng si Madhapi nyaéta kaluar tipeuting, sakapeung mah balikna wanci hayam kongkorongok sakali.
Sakali mangsa si Madhapi balik peuting, gabrag-gebrug nécé kana tétécéan imah anu brasna kakamar manéhna nu persis luhureun kamar anu boga imah. Lung sapatu beusina (safety shoes pabrik) dialungkeun ka luhureun palupuh papan kamarna. Nya puguh nuboga imah kaganggu saréna. Isukna si Madhapi diusir, tapi buru-buru manéhna ménta ampun jeung janji moal gandéng deui.

Sabulan dua bulan mah janjina bener, ngan sakali mangsa balik ngalayab peuting manéhna ngalungkeun sapatu nu kénca.... brug ! mani tarik pisan alatan ngambek teu papanggih jeung kikindeuwanana néng Ésih urang Rawasari.

Si Madhapi kaburu inget, terus sapatu nu katuhu diteundeun lalaunan ambéh teu ngagareuwahkeun nu boga imah. Aman ceu pikirna.

Isukna si Madhapi dicarékan laklak dasar.

"Kau sudah minta maaf, tapi berbuat salah yang sama. Kau lemparkan sepatu kau sebelah, aku tunggu yang sebelah lagi sampai pagi, sampai aku tidak bisa tidur lagi. Kali ini tidak aku maafkan. Keluar kau dari sini !".
Abah Tea
Kang Deddy Setiawan
PT. KTB - Jakarta

DINAIKKAN ATAU DITURUNKAN . . . .?


Dua truk diparkir bertolak belakang dan seorang pengemudi truk sedang berjuang untuk mengangkat sebuah peti besar dari truk yang satu ke truk yang lain.

Kabayan yang sedang kebetulan lewat ketika melihat keadaan seperti itu menyediakan diri untuk menolong.

Maka kedua orang itu bekerja dan berusaha sekuat tenaga selama lebih dari setengah jam, tanpa hasil.

"Saya khawatir, pekerjaan kita tidak akan berhasil," kata Kabayan yang coba membantu.
"Kita tidak akan pernah dapat MENURUNKAN barang itu dari truk." Kata si Kabayan

"Menurunkan!" seru pengemudi itu. "Masyaalah, saya tidak mau menurunkan, saya mau MENAIKKAN !"

Kabayan : " !@%%^&?>+(*&. . . . . . "

Senin, 17 Maret 2008

Kaki Keluar Dari Lingkaran


Kabayan dan istrinya yang masih pengantin baru sedang berbulan madu sedang menuju ke tempat tidur di hotel di daerah Cibeureum , ketika seorang perampok bertopeng masuk ke kamar mereka.

Perampok itu membuat sebuah lingkaran di lantai dengan sebuah kapur, memberi isyarat kepada si Kabayan dan berkata,
"Berdiri di lingkaran ini.
Kalau engkau keluar dari lingkaran ini, saya akan menembak kepalamu."

Sementara Kabayan berdiri di tempatnya, perampok itu mengambil semua barang yang dapat ia bawa dan memasukkannya ke dalam kantong.

Ketika ia hendak pergi ia melihat pengantin putri Kabayan yang cantik yang hanya terbungkus selembar kain.
Ia menghampirinya, membunyikan radio, berdansa dengannya, memeluk dan menciuminya - dan hampir saja memperkosanya seandainya pengantin putri itu tidak melawannya dengan berani.

Ketika akhirnya perampok itu pergi, pengantin putri itu memandang Kabayan dan berteriak,
"Lelaki macam apa kau!

Kau hanya diam terpaku di tengah-tengah lingkaran dan tidak melakukan sesuatu pun sementara saya hampir saja diperkosa!"

"Tidak benar kalau saya tidak melakukan sesuatu," protes si Kabayan.
"Apa yang kau lakukan?"
"Saya menentang perintahnya.
Setiap kali ia membelakangi saya, saya mengeluarkan kaki saya dari lingkaran . . . . !"
Bahaya yang siap kita hadapi adalah bahaya yang dapat kita hadapi dari jarak yang aman.

Siapa Yang Membuat Karedok ?


Ketika itu adalah saat makan siang di pabrik garment di kawasan Rancaekek , Bandung.

Seorang pekerja pabrik , si Kabayan membuka bungkusan makan siangnya dengan sedih.

"Ah, Nasi jeung karedok deui !" gerutunya dengan suara keras.
Ini terjadi pada hari berikutnya, berikutnya dan berikutnya lagi.

Seorang pekerja lain yang selalu mendengar gerutu kawannya itu berkata,
"Kalau kamu tidak suka nasi dan karedok , mengapa engkau tidak minta kepada istrimu untuk menyiapkan makanan yang lain?"

"Itulah yang menjadi masalah , karena saya belum berkeluarga. Saya menyiapkannya sendiri." Kata Kabayan dengan sedih.

Orang yang belum mengalami penerangan batin tidak mampu melihat bahwa dirinya sendirilah yang merupakan sebab kesedihannya.

Kabayan Mengenai Pemerintahan Yang Baik


Ramai - ramai soal persenjataan negara ( Alutsista ) kita sekarang ini Kabayan terlibat pembicaraan dengan teman nya disaung tengah sawah.

Seorang teman berkata kepada Kabayan,
"Apakah unsur-unsur dasar untuk suatu pemerintahan yang baik?"
Ia menjawab, "Makanan, senjata dan kepercayaan rakyat."

"Tetapi," lanjut sang teman itu,
"Kalau anda dipaksa untuk melepaskan salah satu dari ketiga unsur itu, mana yang akan anda lepaskan?"
"Senjata."

"Dan kalau anda harus melepaskan satu lagi dari dua yang masih tinggal?" tanya lagi sang teman.
"Makanan."

"Tetapi tanpa makanan rakyat akan mati!" sang teman penasaran.
"Sejak dahulu, kematian merupakan bagian hidup manusia.
Tetapi rakyat yang tidak lagi mempercayai para pemimpinnya, sungguh celaka."

Tak Tahu Siapa yang Gagah



Di sebuah hutan terdapat raja hutan (singa) yang merasa dirinya hebat.

Dan untuk melegalisasikan kehebatannya, maka si singa bertanya kepada sebagian penghuni hutan.

Bertanyalah si singa kepada seekor gorila.
Singa : ‘Hai gorila, siapakah yang paling gagah di hutan ini?’
Gorila: ‘Anda tuan ku.’
Banggalah si singa mendengar itu.

Kemudian ia bertemu dengan seekor banteng.
Singa : ‘Hai banteng, siapakah yang paling gagah dan hebat di hutan ini?’
Banteng: ‘Sudah tentu Anda.’

Mendengar jawaban-jawaban dari sebagian hewan yang ia temui, merasa sombonglah si singa. Kemudian ia berjalan kembali, dan di tengah jalan ia bertemu dengan seekor gajah.
Singa : ‘Hai gajah, siapakah yang paling gagah dan perkasa di hutan ini?’
Tetapi gajah tidak menjawab, dan diluar dugaan singa, gajah langsung menghajar dan menginjak-injak singa hingga babak belur.

Kemudian gajah berlalu meninggalkan si singa.
Dengan badan yang sudah babak belur, si singa berkata kepada gajah, ‘Kalo nggak tau jawabannya jangan marah gitu dong ….

From
Daris Rajih

CEULEUKEUTEUK


TATARUCINGAN 8
Lulu : " Kunaon nya ibu ustadzah Erum henteu nganggo jilbab, padahal anjeuna pasti terangeun yén jilbab téh paréntah Alloh nu aya dina Al Qur'an ? ".
Lala : " Ibu ustadzah Erum nganggo hukum parasmanan ".
Lulu : " Nu kumaha hukum parasmanan téh téh ? "
Lala : " Enya, lamun urang keur parasmanan, nu kira-kira ngeunah dikeduk, nu teu
ngeunah diantep, lain kitu ? "

TATARUCINGAN 9
Anas : " Ustadz Madsa'i sering khotbah ihwal sodakoh. Tapi kunaonnya korét ? "
Anis : " Nu kitu kaasup golongan calo di terminal Baranangsiang ".
Anas : " Na kunaon kitu ?".
Anis : " Coba wéh tingali calo. Ka urang ngajakan ka Bandung, ari urang geus naék beus, manéhna mah angger wéh ninggalkeun manéh di terminal ".

TATARUCINGAN 10
Abu : " Si Adun loba duitna nya. Sigana unggal minggu sendalna genti nu alus".
Abi : " Lain loba duit, tapi ngamalkeun pituduh ajengan. Tinggalkeun nu goréng, cokot nu alus. Tah pituduh éta di amalkeun si Adun di masjid alun-alun".
Abu : " Kutan kitu ? ".

" Abah Téa "
Kang Deddy Setiawan
PT. Karama Yudha Tiga Berlian Motors - Jkt