Menu Baru Web PWS Medan

Bergabunglah dengan Paguyuban Wargi Sunda versi FaceBook , dapatkan info PWS terbaru , Jangan lupa DOWNLOAD File berbentuk Powerpoint ( pps ) dari web ini , dan semuanya tentu saja Gratis untuk anggota dan pembaca setia Web PWS - Medan , Haturnuhun
Myspace tweaks at TweakYourPage.com

Sabtu, 19 Juli 2008

Mengapa Tuhan Tidak Menolongku ?


Ada seorang laki - laki yang tinggal di dekat sebuah sungai, Kabayan namanya. Bulan - bulan musim penghujan sudah dimulai.

Hampir tidak ada hari tanpa hujan baik hujan rintik-rintik maupun hujan lebat.

Pada suatu hari terjadi bencana di daerah tersebut. Karena hujan turun deras agak berkepanjangan, permukaan sungai semakin lama semakin naik, dan akhirnya terjadilah banjir.

Saat itu banjir sudah sampai ketinggian lutut orang dewasa. Daerah tersebut pelan-pelan mulai terisolir. Orang - orang sudah banyak yang mulai mengungsi dari daerah tersebut, takut kalau permukaan air semakin tinggi.

Lain dengan orang-orang yang sudah mulai ribut mengungsi, si Kabayan tampak tenang tinggal dirumah.

Akhirnya datanglah truk penyelamat , sebuah Truck Mitsubishi Fuso berhenti di depan rumahnya.

Kabayan, cepat masuk ikut truk ini, nggak lama lagi banjir semakin tinggi”, teriak salah satu regu penolong ke lelaki tersebut.

Si Kabayan menjawab: “Tidak, terima kasih, anda terus saja menolong yang lain. Saya pasti akan diselamatkan Tuhan. Saya ini kan sangat rajin berdoa.”

Setelah beberapa kali membujuk tidak bisa, akhirnya truk Mitsubishi Fuso tersebut melanjutkan perjalanan untuk menolong yang lain.

Permukaan air semakin tinggi. Ketinggian mulai mencapai 1.5 meter. Kabayan masih di rumah, duduk di atas almari.
Datanglah regu penolong dengan membawa perahu karet dan berhenti di depan rumah lelaki tersebut.

“Kabayan, cepat kesini, naik perahu ini. Keadan semakin tidak terkendali. Kemungkinan air akan semakin meninggi.

Lagi-lagi si Kabayan berkata: ” Terima kasih, tidak usah menolong saya, saya orang yang beriman, saya yakin Tuhan akan selamatkan saya dari keadaan ini.

Perahu dan regu penolongpun pergi tanpa dapat membawa si Kabayan.
Perkiraan banjir semakin besar ternyata menjadi kenyatan. Ketinggian air sudah sedemikian tinggi sehingga air sudah hampir menenggelamkan rumah-rumah disitu. Kabayan nampak di atas wuwungan rumahnya sambil terus berdoa.

Datanglah sebuah helikopter SAR dan regu penolong.
Regu penolong melihat ada seorang laki-laki duduk di wuwungan rumahnya. Mereka melempar tangga tali dari pesawat.

Dari atas terdengar suara dari megaphone: ” Kabayan, cepat pegang tali itu dan naiklah kesini. “, tetapi lagi-lagi laki-laki tersebut menjawab dengan berteriak:”Terima kasih, tapi anda tidak usah menolong saya. Saya orang yang beriman dan rajin berdoa. Tuhan pasti akan menyelamatkan saya.

Ketinggian banjir semakin lama semakin naik, dan akhirnya seluruh rumah di daerah tersebut sudah terendam seluruhnya.
Bagaimana nasib si Kabayan tersebut?
Dia akhirnya mati tenggelam.

Di akhirat dia dihadapkan pada Tuhan. si Kabayan kemudian mulai berbicara bernada protes:

Ya Tuhan, aku selalu berdoa padamu, selalu ingat padamu, tapi kenapa aku tidak engkau selamatkan dari banjir itu?”

Tuhan menjawab dengan singkat:

Aku selalu mendengar doa-doamu, untuk itulah aku telah mengirimkan Truk, kemudian perahu dan terakhir pesawat helikopter. Tetapi kenapa kamu tidak ikut salah satupun ?

Sebuah cerita menarik. Demikian juga dalam kehidupan kita, kita bekerja dan selalu melakukan doa kepada Allah s.w.t.

Dan Allah sudah sering mengirimkan “truk”,perahu”, dan “pesawat” kepada kita, tapi kita tidak menyadarinya.

Tahukah Kita


Kita lahir dengan dua mata di depan wajah kita, karena kita tidak boleh selalu melihat ke belakang.Tapi pandanglah semua itu ke depan, pandanglah masa depan kita.

Kita dilahirkan dengan 2 buah telinga di kanan dan di kiri, supaya kita bisa mendengarkan semuanya dari dua buah sisi.Untuk bisa mengumpulkan pujian dan kritik dan menyeleksi mana yang benar dan mana yang salah.

Kita lahir dengan otak didalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin apapun kita, kita tetap kaya. Karena tidak akan ada satu orang pun yang bisa mencuri otak kita, pikiran kita dan ide kita.Dan apa yang anda pikiran dalam otak anda jauh lebih berharga dari pada emas dan perhiasan.

Kita lahir dengan 2 mata dan 2 telinga, tapi kita hanya diberi 1 buah mulut. Karena mulut adalah senjata yang sangat tajam, mulut bisa menyakiti, bisa membunuh, bisa mengoda, dan banyak hal lainnya yang tidak menyenangkan.Sehingga ingatlah bicara sesedikit mungkin tapi lihat dan dengarlah sebanyak-banyaknya.

Kita lahir hanya dengan 1 hati jauh didalam tulang iga kita.
Mengingatkan kita pada penghargaan dan pemberian cinta diharapkan berasal dari hati kita yang paling dalam.Belajar untuk mencintai dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintai dia.
Berilah cinta tanpa meminta balasan dan kita akan menemukan cinta yang jauh lebih indah.

Jumat, 18 Juli 2008

CEULEUKEUTEUK


MONDOK

Profesor Ling Lung nganjang ka imah sobatna kira-kira 200 meter ti imahna.
Pas rék balik pisan, ngadadak turun hujan.

"
Prof. Ayeuna nuju hujan ageung, ulah mulih heula, bilih kahujanan"
"Aya payung henteu ?"
"Teu aya prof, dianggo pun anak ka pasar"
"Enya atuh, satuju kuring rék mondok di dieu"

Sahibul bait gura-giru meresihan kamar kosong keur profesor.
Kira-kira lima menit, kaluar ti kamar. Tapi naha bapa profesor
teu aya di kamar tamu ?
Kotatang-kotéténg dipilarian unggal juru, weléh teu aya.

Trok...trok....trok....trok... sora aya nu ngetrok panto hareup.
Rekét panto dibuka....

"
Euleuh euleuh....kunaon profesor jibreg, bucis kitu ?"
"Nyaéta, nyokot piyama heula di imah, pan rék mondok di dieu !"

Abah Téa

Membangun Bukit


Mungkin Anda pernah mendengar suatu peribahasa yang mengatakan “Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit”.

Pepatah ini benar adanya dan Anda bisa memanfaat makna dari peribahasa ini untuk kehidupan Anda. Artinya hal-hal kecil yang Anda lakukan atau juga Anda abaikan akan membuat perbedaan besar dikemudian hari.
Yang menjadi pertanyaan, apakah membuat perbedaan yang positif atau negatif?

Nah tahukah Anda kecelakaan Titanic disebabkan oleh hal “kecil” yang diabaikan?
Betul ! hanya dengan mengubah material paku penyambung dengan kekuatan sedikit dibawah standar, kapal tersebut bisa menjadi tenggelam.

Dengan material paku penyambung tersebut, kapal memang masih bisa beroperasi dengan baik dengan catatan tidak ada tabrakan.
Paku tersebut hanya cukup untuk menyambung saja, tetapi tidak cukup untuk menahan tabrakan.

Jadi tenggelamnya kapal raksasa tersebut hanya disebabkan oleh paku yang sangat kecil.

Begitu juga dalam hidup kita bisa jadi kehancuran hidup kita disebabkan oleh hal kecil yang selalu kita lakukan atau yang kita abaikan.

Mungin saja, ada hal kecil yang terus kita lakukan, padahal akan mengarahkan kepada kehancuran besar. Bisa juga ada hal kecil yang selalu Anda abaikan padahal akan membawa kepada keberhasilan besar.

Mulailah dengan menyingkirkan kebiasaan-kebiasaan negatif, sekecil apa pun.
Mulailah membangun kebiasaan-kebiasaan positif, sekecil apa pun.

Sungguh, kebiasaan negatif bisa menghancurkan Anda jika Anda terus memeliharanya.
Memang diperlukan upaya untuk membangun kebiasaan positif dan meninggalkan kebiasaan negatif. Namun jika Anda memiliki keinginan kuat ditambah dengan pikiran positif, maka semua itu bisa Anda lakukan.

Tip sederhana namun ampuh yang bisa Anda gunakan untuk membangun kebiasaan positif maupun menghilangkan kebiasaan negatif ialah dengan rajin-rajin memvisualisasikan kehidupan dimana Anda hanya melakukan kebiasaan yang positif saja.

Masih banyak teknik yang bisa kita lakukan untuk membangun kebiasaan positif yang nantinya bisa membangun diri Anda jika Anda konsisten melakukannya.

Ingat, lama-lama menjadi bukit.

Apakah bukit kehancuran atau bukit keberhasilan ?

Rabu, 16 Juli 2008

Ustad H. Harijono , tetangga sekampung di Bekasi - Jawa Barat

Dalam kegiatan keagamaan , di kota Medan dalam minggu - minggu ini diramaikan oleh kehadiran Ustad kondang H. Harijono , yang menggelar pengajian dan dzikir akbar yang bertempat di Mesjid Agung dan Hotel Tiara Medan.

Antusiasme masyarakatpun sangat positif , setiap pengajian digelar , pastilah ribuan umat hadir dari pelosok Sumatra Utara.

Ustad karismatik yang murah senyum inipun tak urung menjadi serbuan masyarakat yang ingin mendapat berkatnya.
Jangankan untuk bertemu muka , untuk sekedar bersalaman yang makan waktu 5 detik pun sulit setengah mati , mengingat ribuan umat yang ingin bertemu dengannya.

Buat saya pribadi , Pak H. Harijono ini bukan cuma sekedar ustad , beliau adalah " tetangga sekampung " di kediaman saya di kota Bekasi - Jawa Barat.

Jarak rumah kami cuma selemparan batu saja.

Saat dzikir akbar di Medan pun saya dan keluarga turut hadir , istri dan anak - anak sangat mengharapkan bisa bersalaman dengan beliau , namun ribuan umatpun mengharapkan hal yang sama.

Dapatkah keinginan tersebut terkabul ?
Sekaligus melepas rindu dengan " tetangga sekampung " di Bekasi - Jawa Barat tersebut.




Saat menunggu bertemu dengan Pak Ustad

Subhanallah ! ,
Atas izin Allah SWT , keinginan kami rupanya terkabul.

Saat melihat Ustad H. Harijono dikelilingi ribuan umat , ternyata ada santri beliau yang mengenali kami.

Akhirnya dengan dibantu informasi Pak Murtado ( santri ) , tidak disangka - sangka Pak Ustad bernyata berkenan menerima kami , tidak hanya sekedar bersalaman , namun beramah tamah bersama keluarga lewat " kunjungan khusus " .

Tidak kurang dari 30 menit waktu yang kami habiskan untuk bercerita segalam hal , mulai dari kemacetan di Bekasi , hilangnya lapangan bola ( tempat kami dulu bertanding sepak bola ) karena dibangun perumahan dll.

Saya pun menginformasikan adanya komunitas warga Jabar yang tergabung pada Paguyuban Wargi Sunda - Medan , dimana banyak warga Bekasi - Jawa Barat yang turut aktif pada kegiatan pengajian komunitas tersebut.

Sang Ustad pun menyambut positif kegiatan pengajian PWS tersebut , dengan pesan beliau agar terus lebih di intensifkan dan selalu konssisten.

Tidak hanya itu , Sang Ustad yang ramah , murah senyum dan sangat santun ini juga mengajak kami berdzikir " khusus " buat keluarga kami , di lanjutkan dengan pengobatan untuk kami sekeluarga.

Pada dasarnya beliau senang menerima " tetangga sekampungnya " di kota Medan.

Semoga Allah SWT. membalas semua kebaikan yang diberikan kepada kami dan juga seluruh masyarakat kota Medan. Amin

Berphoto bersama Ustad H. Harijono seusai beramah tamah dengan beliau.

Senin, 14 Juli 2008

Mari Kita Bakar Perahu itu..!


Suatu Ketika Thariq Bin Ziyad memerintahkan pasukannya untuk membakar semua kapal sehingga tidak ada satu kapalpun yang tersisa, pilihannya berjuang sampai titik darah penghabisan dan hidup mulia.

Sebuah langkah yang tidak populis bagi Thariq sekaligus tidak masuk akal bagi pasukannya yang tidak bernyali. Hanya mereka yang berjiwa matang, kuat dan bersemangat tinggi yang berjuang dan hidup mulia.

Langkah berani Thariq Bin Ziyad membakar perahu juga membakar semangat pasukannya untuk menang.

Pilihan sulit muncul bagi mereka, pasukan-pasukan berjiwa yang lemah. Hanya mereka yang berjiwa kuat & memiliki daya juanglah yang akan menang dalam kehidupan.

Jiwa-jiwa yang kuat tercermin dari wajahnya senantiasa optimis dan senantiasa siap untuk mengorbankan harta serta jiwanya bagi perjuangan.

Itulah sebabnya orang-orang yang kuat tidak pernah takut mati. Sebab kematian adalah jalan mendekatkan diri pada Alloh SWT sekaligus meraih janjiNya.\

Sama seperti dalam kehidupan kita sehari-hari.

Jika intelektualitas kita dibangun diatas semangat juang maka akan terlahir karya kehidupan yang terbaik.
Bangsa ini butuh etos & daya juang.

Mari Kita Bakar Perahu itu..!

Bulu Ayam


Nampak seekor Ayam dengan bulu-bulunya yang indah berjuntai berjalan-jalan di sebuah pematang sawah. Tak jauh disana nampak seorang petani yang sedang menjemur gabah yang baru saja dipanennya.

Melihat bulir-bulir padi yang terkumpul, Ayam yang tengah kelaparan itu berkata:

Wahai Kang Kabayan , bolehkah saya makan padi-padimu?”

Si Petani tersebut si Kabayan yang melihat ayam dengan bulu-bulunya yang indah menjawabnya ,

”Tentu saja boleh, namun apakah saya juga boleh memiliki beberapa helai bulu-bulumu yang indah itu?”

“Oh tentu saja boleh, silahkan ambil yang mana yang kau suka
kata si Ayam dengan mata berbinar mendengar pujian si petani.

Lalu, usai si Ayam makan dengan kenyang dan puas, dilanjutkan dengan pencabutan beberapa helai bulu-bulu indahnya oleh si Kabayan.

Menyadari bahwa bulu-bulunya memiliki nilai tukar, keesokan harinya si Ayam mendatangi rumah si Kabayan menawarkan bulu-bulunya, namun kali ini si Ayam menginginkan makanan yang lebih enak dari sekedar beras.

Kabayanpun setuju ,
Baiklah, saya akan menyediakan makanan yang enak, untuk setiap tiga puluh helai bulu-bulumu karena saya membutuhkan sebuah kemoceng untuk membersihkan debu-debu dirumahku

Hari demi hari berlalu, si Ayam sangat menikmati makanan enak yang setiap hari disajikan oleh si Kabayan tanpa menyadari bulu-bulunya yang kian menipis hingga makin nampak jelas kulitnya yang putih kemerahan.

Suatu malam turun hujan sangat deras disertai udara sangat dingin dan pagi harinya ditemukan seekor ayam tanpa bulu terbujur kaku mati kedinginan.

Kepada teman SMA yang bekerja di sebuah perusahaan tambang emas di bumi Papua yang dikenal kaya raya akan tembaga dan logam mulianya , saya bertanya ,

Emas disini kapan habisnya ya?”

Dari jawaban yang bervariasi menandakan bahwa tak ada yang tahu dengan pasti kapan habisnya, namun semuanya setuju jika ditambang terus tiap hari, maka suatu saat pasti akan habis.

Jumat, 11 Juli 2008

Mimiti Masantren


Jang Ibro mimiti masantren. Manehna can kungsi masak sorangan. Hiji mangsa ku seniorna dititah naheur cai jang nyieun ci kopi.
Atuh rada bingung. Nya pok nanya ka santri sejen, jang Juhe nu geus wanoh, nu hanjakalna teh sarua anyar jeung teu kungsi ngalaman masak di imahna.

Kang, abdi teh teu acan kantos naheur cai. dupi ari asakna kumaha, nya?”

Oh, gampil, upami tos ngagolak, cagap. Tah upami tos hipu, eta hartosna tos asak…”jang Juhe inget kana bubuahan, ari asak pan sok hipu. geus kitu, jang Ibro ka dapur, cai nuvgagolak dicagap. puguh we ngajerete, da cai sakitu panasna. balik deui ka jang Juhe.

Kang, cai teh kalah ka panas pisan geuning?”

“Oh..mun dina buah mah, teuas keneh meureun. ke antos sakedap…”

Kunti Jeung Tukang Sado


Kunti Jeung Tukang Sado

Dina hiji peuting kacaritakeun mang Udin tukang sado rek balik saenggeus mangkal di dayeuh, pas keur ditengah jalan mang Udin nu euker mengendarai kuda supaya baik jalanya, ningali aya awewe keur nangtung disisi jalan bari make baju bodas bari buukna panjang nepi ka bujurna, ku mang udin ditanya :

“Neng bade kamana wengi-wengi kieu’?”. “Nya eta mang bade ka ka bojong lopang” jawab na.

Tuluy singkat carita eta awewe teh milu ka mang udin da kampung mang udin ngaliwatan kampung nu rek dituju ku awewe eta. Pas nepi ka bojong lopang awewe eta turun bari ngasongkeun duit 20,000,.

Ah neng sawios atuh” ceuk mang udin.

Si awewe eta teu loba carita bari indit kana rungkun anu poek, barang teu lila mang udin kaget nempo duit 20,000 tadi rubah jadi daun kararas,

Bari nga gurutu mang Udin nyarita “Dasar Kunti lanak”,

teu lila sia wewe eta bijil dei tina rungkun anu poek bari nyarita
Dari pada amang mah TUKANG SADO


Rabu, 09 Juli 2008

Ujian atau Azab?

Ujian atau Azab?

sumber, http://mubarok- institute. blogspot. com

Indonesia kini masih dirundung oleh krisis multi dimensi yang tak kunjung usai, padahal negara-negara lain seperti Korea, Thailand dan Malaysia yang terlanda krisis ekonomi bersama Indonesia, mereka telah bisa keluar dari krisis itu.

Banyak orang mengatakan bahwa Indonesia
sedang diuji kemampuannya mengelola kehidupan berbangsa. Yang lain mengatakan bahwa bangsa Indonesia sedang menerima azab yang setimpal dengan kesalahannya.

Apa Bedanya ?

Baik ujian maupun azab, keduanya berwujud kesulitan. Ujian adalah satu proses seleksi untuk naik kelas. Kesulitan yang dihadapi oleh orang adalah kesulitan yang memang diprogram untuk mengukur tingkat kemampuannya mengatasi masalah dalam dunia realitas.

Boleh jadi
kesulitan dalam ujian lebih berat dibanding realitasnya. Jika ini yang
kita yakini maka sebagai orang beragama kita membayangkan bahwa Allah
SWT melalui sunnatullah Nya sengaja memberikan kesulitan kepada bangsa Indonesia ini agar kita terlatih menghadapi kesulitan yang lebih besar di waktu mendatang, liyabluwakum fi ma ata kum (Q/6:165).

Jika kita menyadari sedang diuji maka bangsa ini seyogyanya secara serius menghindari faktor-faktor penghambat dan mempersiapkan secara teliti faktor-faktor pendukung.

Betapapun sulitnya ujian, tapi
mengerjakannya, dengan semangat dan optimis karena terbayang masa depan yang lebih baik pasca ujian.

Adapun azab adalah kesulitan sebagai akibat dari kesalahan yang
dilakukan. Dalam perspektif sunnatullah, keadilan akan mengantar pada kesejahteraan, siapapun yang melakukan.

Jika bangsa Indonesia,
terutama negara, menegakkan prinsip keadilan, maka kesejahteraan rakyat pasti tercapai. Menurut perspektif sunnatullah juga, jika
kezaliman merajalela, siapapun yang mengerjakan, apalagi jika dilakukan oleh negara, maka betapapun besarnya sumberdaya alam yang dimiliki, pada akhirnya krisis akan menimpa bangsa itu, dan krisis tersebut merupakan azab yang disebabkan oleh kejahatan.

Jika orang menghadapi kesulitan dalam ujian dengan penuh semangat berkorban, maka rakyat menghadapi kesulitan azab dengan penuh rasa kemarahan.

Secara psikologis, orang yang yang sedang marah biasanya
tidak dapat berfikir jernih.

Inilah yang sedang dialami oleh bangsa
Indonesia, perilakunya anarkis seperti perilaku orang marah, sehingga bukan solusi problem yang ditawarkan tetapi semuanya berlomba-lomba memberi kontribusi berupa problem baru.

Menurut al Qur'an, sekiranya penduduk suatu negeri perilakunya mencerminkan iman dan takwa (bermoral) niscaya sumberdaya alam akan berfungsi sebagai keberkahan Tuhan, sayang penduduk negeri itu mendustakan prinsip-prinsip kebenaran, maka Tuhan menurunkan (dari sumberdaya alam itu) azab sesuai dengan kejahatan mereka (Q/7:92).

Analisa yang sudah sering kita dengar menyebutkan bahwa kerusakan yang menimpa bangsa ini sungguh sangat mendasar, bukan hanya alamnya yang rusak, tetapi juga moralnya.

Hujan yang mestinya merupakan berkah dari
Tuhan berubah menjadi banjir. Sumber tambang seperti yang ada di Irian Barat (Freeport) yang semestinya menjadi kekayaan bangsa, berubah, keuntungannya dinikmati orang luar (AS), limbahnya kita yang harus menanggung.
Minyak yang hendak digali , justru lumpur yang keluar berkepanjangan.

Lalu harus bagaimana?, jika azab ini bersumber dari perilaku yang salah, maka solusinya adalah mengubah perilaku.

Bangsa, dengan
dipelopori oleh negara harus memiliki kemauan kuat dan kemauan bersama untuk mengubah perilaku.

KKN yang bukan saja merupakan wujud ketidak
adilan, tetapi sudah menjadi kezaliman harus dihapus secara sungguh-sungguh.

Jika telah sungguh – sungguh melakukan komitmen itu,
maka yakinlah kepada sunnatullah bahwa dibalik kesulitan ada kemudahan, fa inna ma`al `usri yusra (Q/94:5-6), bahwa habis gelap pasti terbit terang.
Insya Allah. Wallahu a`lam.


sumber, http://mubarok- institute. blogspot. com

Salam Cinta,
Agussyafii