Menu Baru Web PWS Medan

Bergabunglah dengan Paguyuban Wargi Sunda versi FaceBook , dapatkan info PWS terbaru , Jangan lupa DOWNLOAD File berbentuk Powerpoint ( pps ) dari web ini , dan semuanya tentu saja Gratis untuk anggota dan pembaca setia Web PWS - Medan , Haturnuhun
Myspace tweaks at TweakYourPage.com

Senin, 07 Januari 2008

Bola Golf



Seorang pemain profesional bertanding dalam sebuah turnamen golf di lapangan golf Polonia - Medan.

Ia baru saja membuat pukulan yang bagus sekali yang jatuh di dekat lapangan hijau. Ketika ia berjalan di fairway, ia mendapati bolanya masuk ke dalam sebuah kantong kertas pembungkus makanan yang mungkin dibuang sembarangan oleh salah seorang penonton. Bagaimana ia bisa memukul bola itu dengan baik?

Sesuai dengan peraturan turnamen, jika ia mengeluarkan bola dari kantong kertas itu, ia terkena pukulan hukuman.

Tetapi kalau ia memukul bola bersama-sama dengan kantong kertas itu, ia tidak akan bisa memukul dengan baik. Salah-salah, ia mendapatkan skor yang lebih buruk lagi. Apa yang harus dilakukannya?

Banyak pemain mengalami hal serupa. Hampir seluruhnya memilih untuk mengeluarkan bola dari kantong kertas itu dan menerima hukuman. Setelah itu mereka bekerja keras sampai ke akhir turnamen untuk menutup hukuman tadi. Hanya sedikit, bahkan mungkin hampir tidak ada, pemain yang memukul bola bersama kantong kertas itu. Resikonya terlalu besar. Namun, pemain profesional kita kali ini tidak memilih satu di antara dua kemungkinan itu.

Tiba-tiba ia merogoh sesuatu dari saku celananya dan mengeluarkan sekotak korek api. Lalu ia menyalakan satu batang korek api dan membakar kantong kertas itu. Ketika kantong kertas itu habis terbakar, ia memilih tongkat yang tepat, membidik sejenak, mengayunkan tongkat, wus, bola terpukul dan jatuh persis di dekat lobang di lapangan hijau. Bravo!

Dia tidak terkena hukuman dan tetap bisa mempertahankan posisinya.

Renungan :
Ada orang yang menganggap kesulitan sebagai hukuman, dan memilih untuk menerima hukuman itu. Ada yang mengambil resiko untuk melakukan kesalahan bersama kesulitan itu. Namun, sedikit sekali yang bisa berpikir kreatif untuk menghilangkan kesulitan itu dan menggapai kemenangan


Djodi

http://www.djodiismanto.blogspot.com/

http://www.pwsmedan.blogspot.com/



Sabtu, 05 Januari 2008

DALAM 7 HARI YANG TELAH LALU DAN MUNGKIN AKAN TERULANG

Hari per-1,
tahajudku tetinggal
Dan aku begitu sibuk akan duniaku
Hingga zuhurku, kuselesaikan saat ashar mulai memanggil
Dan sorenya kulewati saja masjid yang mengumandangkan azan magrib
Dengan niat kulakukan bersama isya itupun terlaksana setelah acara tv selesai
Hari ke-2,
tahajudku tertinggal lagi
Dan hal yang sama aku lakukan sebagaimana hari pertama
Hari ke-3
aku lalai lagi akan tahujudku
Temanku memberi hadiah novel best seller yang lebih dr 200 hlmn
Dalam waktu tidak 1 hari aku telah selesai membacanya
Tapi... enggan sekali aku membaca Al-qur'an walau cuma 1 juzzAl-qur'an yg 114 surat , hanya 1,2 surat yang kuhapal itupun dengan terbata-bata
Tapi... ketika temanku bertanya ttg novel tadi betapa mudah dan lancarnya aku menceritakan.
Hari ke-4
kembali aku lalai lagi akan tahajudku
Sorenya aku datang keselatan Jakarta dengan niat mengaji
Tapi kubiarkan ustazdku yang sedang mengajarkan kebaikan
Kubiarkan ustadzku yang sedang mengajarkan lebih luas tentang agamaku
Aku lebih suka mencari bahan obrolan dengan teman
yg ada disamping kiri & kananku
Padahal bada magrib tadi betapa sulitnya aku merangkai
Kata-kata untuk kupanjatkan saat berdoa
Hari ke-5
kembali aku lupa akan tahajudku
Kupilih shaf paling belakang dan aku mengeluh
saat imam sholat jum'at kelamaan bacaannya
Padahal betapa dekat jaraknya aku dengan televisi dan betapa nikmat, serunya saat perpanjangan waktu sepak bola favoritku tadi malam
Hari ke-6
aku semakin lupa akan tahajudku
Kuhabiskan waktu di mall & bioskop bersama teman2ku
Demi memuaskan nafsu mata & perutku sampai puluhan ribu tak terasa keluar
Aku lupa.. waktu diperempatan lampu merah tadi
Saat wanita tua mengetuk kaca mobilku
Hanya uang dua ratus rupiah kuberikan itupun tanpa menoleh
Hari ke-7
bukan hanya tahajudku tapi shubuhkupun tertinggal
Aku bermalas2an ditempat tidurku menghabiskan waktu
Selang beberapa saat dihari ke-7 itu juga
Aku tersentak kaget mendengar khabar temanku kini
Telah terbungkus kain kafan padahal baru tadi malam aku bersamanya & ¾ malam tadi dia dengan misscallnya mengingat aku ttg tahajud.
Kematian kenapa aku baru gemetar mendengarnya?
Padahal dari dulu sayap2nya selalu mengelilingiku dan Dia bisa hinggap kapanpun dia mau
¼ abad lebih aku lalai....
Dari hari ke hari, bulan dan tahun
Yang wajib jarang aku lakukan apalagi yang sunah
Kurang mensyukuri walaupun KAU tak pernah meminta
Berkata kuno akan nasehat ke-2 orang tuaku
Padahal keringat & airmatanya telah terlanjur menetes demi aku
Tuhan andai ini merupakan satu titik hidayah
Walaupun imanku belum seujung kuku hitam
Aku hanya ingin detik ini hingga nafasku yang saat nanti tersisa
Tahajud dan sholatku meninggalkan bekas
Saat aku melipat sajadahku.....Amin....

Menyelamatkan " Nyawa "


Alkisah seorang raja memerintahkan pasukannya untuk memangkas pepohonan yang menjadi sumber kehidupan sebuah desa.

Warga desa protes karena pepohonan tersebut merupakan mata pencarian utama mereka. Pasukan tentara kerajaan yang mendapat titah paduka baginda raja tidak mendengarkan protes warga desa, mereka terus memotong dan menumbangkan pepohonan rimbun di desa tersebut.

Tiba di sebuah pohon yang besar seorang nenek tua memeluk erat batang pohon besar itu sehingga para pasukan kerajaan tidak bisa mengergaji dan merobohkannya.

Dilaporkan kejadian itu kepada baginda raja, sang raja memerintahkan untuk menebang pohon yang lain.

Warga desa belajar dari kejadian tersebut, melihat pohon yang dipeluk erat sang nenek tidak jadi dirobohkan dan dicabut oleh pasukan tentara kerajaan, mereka pun berhamburan ikut memeluk setiap pohon di desa tersebut. Akhirnya pohon-pohon yang merupakan "nyawa" desa tersebut bisa diselamatkan.

Renungan :
Begitu pun juga dengan anak-anak kita, peluk erat mereka dari serbuan budaya hedonis, narkoba, pergaulan bebas, pornografi, dan lain sebagainya.

Selamatkan 'nyawa' anak-anak kita, peluk erat mereka, jangan sampai tercerabut oleh hempasan badai kehidupan karena mereka penerus masa depan dan peradaban negeri ini.

Djodi

Bebas Banjir Itu BISA


Dulu ketika saya membeli rumah di daerah Bekasi untuk tempat tinggal keluarga kecil saya, pertanyaan yang saya ulang-ulang ke sales nya adalah:

“Bebas banjir kan mas?“

Jawaban nya waktu itu sedikit konyol :“Kalau disini banjir, monas udah tenggelem pak ..“.

Saya sedikit khawatir, karena waktu itu kami punya balita yang bakal ditinggal-tinggal seharian dengan hanya ditemani pembantu. Pada tahun 2002, hujan terus menerus mendera Jakarta.

Ternyata betul, perumahan yang kami tinggali bebas banjir. Tetapi ... nah ada tapi nya, jalan akses menuju perumahan tadi terpotong oleh genangan banjir setinggi roda mobil. Istri saya bersama anak kami, sempat mengalami harus berlayar dengan mobil, bahkan karena mobil kami sedan, air pun dengan mudah masuk dalam kabin melalui celah pintu. Ajaib nya istri saya berhasil membawa mobil kami keluar dari banjir dengan selamat. Bahkan sempat menjemput saya dari kantor. Sebelum akhirnya si mobil menyerah karena dinamo nya terbakar.

Waktu itu, banyak keluarga dan teman kami yang mengalami kejadian yang jauh lebih mengenaskan. Ada yang rumahnya terendam hingga 2 meter, perabotan rusak, mobil terendam, hingga pengalaman evakuasi ditengah malam yang gelap gulita. Karena khawatir hal semacam itu akan berulang, kami pun pindah lagi ke Medan - Sumatra Utara.

Jujur saja, saya tidak sanggup jika harus hidup di lingkungan yang terus menerus kebanjiran. Anehnya, jutaan orang di Jakarta mau, sanggup, dan bersedia hidup dalam banjir. Jakarta banjir? Ah sudah biasa. Begitu jawaban yang sering kita dengar.

Salah satu mantan sopir saya bercerita, kalau di tempat tinggal nya setiap musim hujan pasti banjir. Saya mendengar dengan sedikit risih cerita itu,

“Kenapa tidak pindah?” Tanya saya.
“Yah bagaimana lagi pak …”.Sudah biasa. Memang beginilah Jakarta. Bagaimana lagi.

Kalimat-kalimat ini mewakili pikiran-pikiran orang yang menyerah pada keadaan. Padahal kita semua mengakuai potensi kekuatan pikiran. Siapa yang dapat menyelamatkan Jakarta dari banjir kalau bukan warga Jakarta? Ketika sebagian besar warga Jakarta berpikiran bahwa banjir adalah tradisi, maka ya terjadilah banjir.
Sebagai tradisi!Padahal bebas banjir itu bisa.

Kota-kota lain di dunia bisa, jadi Jakarta harus bisa. Janganlah kita mengutuk “siklus banjir 5 tahunan“, tapi bersyukurlah bahwa Tuhan masih memberi waktu 5 tahun untuk berbenah. Sudah berulang-ulang dihantam banjir. Dan apa yang telah Jakarta lakukan disaat banjir belum tiba?
Warga nya tetap membuang sampah sembarangan, dan pemerintah nya menghambur-hamburkan uang untuk infrastruktur yang tidak mendesak. Padahal apa yang lebih penting dari membebaskan Jakarta dari banjir?
Busway bisa ditunda, bikin gedung baru bisa ditunda, trotoar baru bisa ditunda. Tapi membebaskan Jakarta dari banjir harus sekarang.

Saya pernah mengantarkan kolega, seorang CEO perusahaan otomotif dari Jepang yang baru pertama ke Jakarta saat saya masih kerja di PT. Astra International - Jakarta.

Kami menyusuri Sudirman – Thamrin menuju hotel tempat dia menginap. Waktu itu hujan deras turun. Tidak terjadi banjir, tapi genangan di jalan cukup banyak. Itupun sudah cukup membuat wajahnya tampak cemas.
Tidak tahan, dia berkomentar: “They should check the drainage system …”
Hampir saya nyeletuk “What drainage system?”

Bahkan seorang yang baru pertama ke Jakarta pun akan tahu bahwa sistem drainase di Jakarta tidak berfungsi. Dan anehnya kita tidak melakukan tindakan yang cukup untuk membereskan nya.

Jakarta (dan juga Indonesia) butuh pemimpin yang mampu memberi inspirasi bahwa kita bisa berubah kalau kita mau. Kalau sebagian besar warga Jakarta sudah yakin bahwa Jakarta bisa bebas banjir, maka pertanyaan berikutnya yaitu “bagaimana” akan lebih mudah dijawab.

Orang-orang yang yakin bisa, akan lebih mudah mendapat jawaban. Ide-ide cara baru yang belum terpikirkan sebelumnya akan bermunculan. Dan insyaAllah, alam semesta mendukung.

Banjir kali ini, alhamdulillah saya sekeluarga kini tinggal di nice city of Medan sudah hampir 6 tahun.
Saya turut bersimpati dengan banjir di Jakarta. Semoga para korban banjir di Jakarta diberi ketabahan, dan semoga seluruh warga Jakarta pikiran nya tercerahkan, bahwa bebas banjir itu bisa.

Djodi

Jumat, 04 Januari 2008

BATU KECIL


Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tower yang sangat tinggi.
Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada di bawahnya.

Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.

Oleh karena itu untuk menarik perhatian orang yang ada di bawahnya, ia mencoba melemparkan uang logam di depan temannya. Temannya berhenti bekerja, mengambil uang itu lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang kedua pun memperoleh hasil yang sama.

Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke arah orang itu. Batu itu tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit, temannya menengadah ke atas?

Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesan dan perintahnya.

Renungan :

Allah SWT kadang-kadang menggunakan cobaan-cobaan ringan untuk membuat kita menengadah kepadaNya.
Seringkali Allah SWT melimpahi kita dengan rahmat, tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepadaNya.

Karena itu, agar kita selalu mengingat kepadaNya, Allah SWT sering menjatuhkan "batu kecil" kepada kita.

Djodi Ismanto

Carita lucu urang sunda


Sosonoan

Opat poe katukang kang Panzi gura-giru kadokter cenah teu raraos body.Sabada dipariksa, dokter nyimpulkeun yen kang Panzi teh loba teuing sosonoan jeung pamajikanana tur euweuh watesanana.

Si dokter nyarankeun leuwih alus mun nek sosonoan kudu make jadwal nu matuh, saminggu cukup tilu kali

"Kumaha dok carana ngarah bisa nginget jadwalna??" Tanya kang Panzi

"Saena mah cirian we dinten naon wae anu awalanna tina huruf 'S' contona Senen, Salasa jeung Saptu," jawab dokter.

Nincak poe kaopat kang Panzi teu kuat nahan, kapaksa ngalanggar saran dokter terus ngahudangkeun garwana nu keur sare,kulisik pamajikanana hudang bari satengah lulungu pok pamajikanana nanya

"Malem naon ieu teh kang?"

" Malem SUM'AT.Sssttt!!" tembal kang Panzi bari nyenghel.


Ditilang Bapa Polisi

Waktu eta teh s Bedul" ngangge motor bade ka kota pas di parapatan aya sora nu niup piriwit. Teu disangka nu niup piriwit teh ya eta polisi, si Bedul teuinang mokaha maneh na komplit make helem ieuh.

Langsung be maneh na eren. Terus yampeurkeun eta polisi nu ngaeureun keun manehna Bedul: "Ku naon pa abi di eureun keun??"

Polisi: "Arek mariksa"
Bedul : "Mariksa naon ?? Da abi mah teu nyandak NARKOBA..
Polisi: "lain eta maksud saya mah"
Bedul: "Atuh naon ? Lain eta mah make di pariksa sagala"
Polisi: "Ari SIM na mana ??"

Bedul: "Oh eta maha bi can gaduh pa!"Kacaritakeun s Bedul di tilang be ku polisi. Hiji mansa s bedul mawa motor deuio ngaliwat parapatan deui.

Si Bedul teu reuwaseun da mokaha maneh na ayeuna mah bogaeun SIM Langsung maneh na eureun Bedul: "Aya naon deui pa ??? SIM aya .... motor komplit Naon deui pa?"

Polisi: "maneh teu pakai helem... Kapaksa ku saya maneh di tilang..."Poe isuk na Si Bedul leumpang alias jalan jalan sorangan.

Pas kabeuneuran papanggih jeung polisi nu sok. Biasa nilang maneh na.Celetuk sibedul nanya ka eta polisiBedul: "Pa? Ku naon abi teu dipariksa ku bapa? SIM aya helem di angge"Polisi: "Maneh na teu mawa motorrrrrrrrrrrra???"

Bedul: "Ohhh euya ya... geuning aing bolohoy!"
Si Bedul ngaleos eraeun bari maneh na neunggeulan sirah sorangan


EUIS Jeung ASEP

Cik...rek kumaha lamun baraya jadi ASEP terus EUIS bebene ASEP anu radamahiwal nyarita jiga kieu :

Tong bendu,!.kang ASEP !..Sanajan urang sami-sami mikanyaah, EUIS micinta kang ASEP,!

Tapi dalah kudu dikumahakeun ! Jangji pasini boa moal bisa ngajadi !..Lain EUIS teu nyaah !.
Tapi ...tali paranti karuhun...kang !.Mangga reungeukeun ! Di kulawedet EUIS mah gulangkep, geura EMANG nikah jeung BIBI, AKI ngadahup ka NINI atuh kitu deui BAPA apan nikah ka EMA ! ari kang ASEP apan...lain baraya EUIS! Hampura kang ASEP !.EUIS..hampura!


Nanya Pasien

Dokter: "Maneh sok sabaraha kali mandi?"
Pasien 3 : "Tilu kali pak!"
Dokter: "Hah.........iraha bae?"
Pasien 1: "Kamari, isukan, pageto"
Dokter: "Ari ayeuna?"
Pasien 3 : "Ayeuna mah saptu atuh pa dokter...."Dokter pingsan.

Jilbab

"Kang Ibro, ceuk cenah, sanajan geus diterapkeun aturan kudu make Jilbab, di hiji kantor pemda tasik, nu dikerudung/jilbab ngan duaan.""Naha bet kitu?""Soalna ti tilu puluh padamelna, nu istri ngan duaan."

"Bedul teh... " hehe (MJ).


Ngagagambar Jurig

Dihiji tempat angker tim "gerayangan" keur ngadeteksi arwah nu ngageugeuh tempat eta.
Tim nugaskeun saurang ahli supranatural nu katelah mbah Rewok Genjlung anu pinter ngadeteksi mahluk halus kujalan ngagambar bungkeuleukanana.

Satengah jam tiharita kakara rengse,mbah Rewok Genjlung langsung ditanya ku salasaurang tim.

Tim : " Mahluk naon nu ngageugeuh tempat ieu teh mbah ?"
Mbah Rewok : " Kuntilanak !"
Tim : "Geuning gambarna aya dua rupa, naha kuntilanakna aya dua?"
Mbah Rewok : "Lain aya dua, tapi eta eta keneh, ngan bedana dina buukna !"
Tim : "Enya we, nu eta mah kiriting ari nu ieu mah lurus,geuning bisa kitu ?"
Mbah Rewok : "Bisi teu nyaho mah anu kiriting digambar samemeh indit kasalon, tah ari nu buukna lurus digambar balik ti salon tas di rebonding cenah."

Tim : ?!@#


Kiriman Ratih Irawati
PWS Member


Kamis, 03 Januari 2008

THE 7 HABITS OF HIGHLY EFFECTIVE PEOPLE adalah 7 Kebiasaan Dari Orang-Orang Yang Sangat Efektif.



Efektif : Melakukan hal yang tepat (do right thing)
Efisien : Melakukan dengan tepat (do thing right)
Kebiasaan : Perilaku (behaviour) yang sering (berulang-ulang) dilakukan
Character Ethic (Prinsip-prinsip dasar)

Adanya prinsip-prinsip dasar yang positif dan orang hanya dapat mengalami keberhasilan yang sejati dan kebahagiaan yang abadi bila mereka belajar mengintegrasikan prinsip-prinsip tersebut kedalam karakter dasar mereka.

Contoh prinsip-prinsip dasar seperti :

Integritas, Kerendahan Hati, Kesetiaan (loyal), Keadilan, Keberanian, Kesederhanaan, Kesopanan, dll

Personality Ethic (Sikap dan Perilaku)
Keberhasilan merupakan suatu fungsi kepribadian, citra masyarakat, sikap dan perilaku, keterampilan dan teknik, yang melicinkan proses-proses interaksi manusia. Personality Ethic mengambil 2 jalan :

1. Teknik hubungan manusia dan masyarakat
2. Sikap mental positif

Paradigm / Paradigma (Cara pandang)
Adalah representasi mental. Adalah model, pattern, atau kumpulan ide-ide yang menjelaskan satu aspect. Paradigma bisa diumpamakan sebagai peta dari kota atau wilayah sehingga jelas bahwa peta bukanlah wilayah itu sendiri. Kita melihat dunia bukan sebagaimana dunia adanya, melainkan sebagaimana kita adanya - atau - sebagaimana kita terkondisikan untuk melihatnya. Tidak pernah lengkap dan tidak pernah sama.

Emotional Bank Account (Rekening Bank Emosional)
Rekening Bank Emosional mencerminkan tingkat kepercayaan dalam suatu hubungan. Seperti rekening keuangan di bank, kita memasukkan simpanan ke atau melakukan penarikan dari rekening ini. Perbuatan-perbuatan seperti berusaha untuk memahami terlebih dahulu, bersikap murah hati, menepati janji, dan bersikap setia.
"Kebiasaan 1" :
Jadilah Proaktif ( Be Proactive )
Bersikap proaktif adalah lebih dari sekedar mengambil inisiatif. Bersikap proaktif artinya bertanggung jawab atas perilaku kita sendiri (di masa lalu, di masa sekarang, maupun di masa mendatang), dan membuat pilihan-pilihan berdasarkan prinsip-prinsip serta nilai-nilai ketimbang pada suasana hati atau keadaan. Orang-orang proaktif adalah pelaku- pelaku perubahan dan memilih untuk tidak menjadi korban, untuk tidak bersikap reaktif, untuk tidak menyalahkan orang lain. Mereka lakukan ini dengan mengembangkan serta menggunakan keempat karunia manusia yang unik --- kesadaran diri, hati nurani, daya imajinasi, dan kehendak bebas --- dan dengan menggunakan Pendekatan Dari Dalam ke Luar untuk menciptakan perubahan. Mereka bertekad menjadi daya pendorong kreatif dalam hidup mereka sendiri, yang adalah keputusan paling mendasar yang bisa diambil setiap orang.

"Kebiasaan 2" :
Merujuk pada Tujuan Akhir ( Begin With The End in Mind ) Segalanya diciptakan dua kali --- pertama secara mental, kedua secara fisik. Individu, keluarga, tim, dan organisasi, membentuk masa depannya masing-masing dengan terlebih dahulu menciptakan visi serta tujuan setiap proyek secara mental. Mereka bukan menjalani kehidupan hari demi hari tanpa tujuan-tujuan yang jelas dalam benak mereka. Secara mental mereka identifikasikan prinsip-prinsip, nilai-nilai, hubungan-hubungan, dan tujuan-tujuan yang paling penting bagi mereka sendiri dan membuat komitmen terhadap diri sendiri untuk melaksanakannya. Suatu pernyataan misi adalah bentuk tertinggi dari penciptaan secara mental, yang dapat disusun oleh seorang individu, keluarga, atau organisasi. Pernyataan misi ini adalah keputusan utama, karena melandasi keputusan-keputusan lainnya. Menciptakan budaya kesamaan misi, visi, dan nilai-nilai, adalah inti dari kepemimpinan.

"Kebiasaan 3" :
Dahulukan yang Utama ( Put First Thing First ) Mendahulukan yang utama adalah penciptaan kedua secara fisik. Mendahulukan yang utama artinya mengorganisasikan dan melaksanakan, apa-apa yang telah diciptakan secara mental (tujuan Anda, visi Anda, nilai-nilai Anda, dan prioritas-prioritas Anda). Hal-hal sekunder tidak didahulukan. Hal-hal utama tidak dikebelakangkan. Individu dan organisasi memfokuskan perhatiannya pada apa yang paling penting, entah mendesak entah tidak. Intinya adalah memastikan diutamakannya hal yang utama.

"Kebiasaan 4" :
Berfikir Menang/Menang ( Think Win Win ) Berfikir menang/menang adalah cara berfikir yang berusaha mencapai keuntungan bersama, dan didasarkan pada sikap saling menghormati dalam semua interaksi. Berfikir menang / menang adalah didasarkan pada kelimpahan --- “kue” yang selamanya cukup, peluang, kekayaan, dan sumber-sumber daya yang berlimpah --- ketimbang pada kelangkaan serta persaingan.


Berpikir menang-menang artinya tidak berpikir egois (menang / kalah) atau berpikir seperti martir (kalah / menang). Dalam kehidupan bekerja maupun keluarga, para anggotanya berpikir secara saling tergantung --- dengan istilah “kita”, bukannya “aku”. Berpikir menang / menang mendorong penyelesaian konflik dan membantu masing-masing individu untuk mencari solusi-solusi yang sama-sama menguntungkan. Berpikir menang / menang artinya berbagai informasi, kekuasaan, pengakuan, dan imbalan.

"Kebiasaan 5" :
Berusaha untuk Memahami Terlebih Dulu, Baru Dipahami (To Understand To Be Understood) Kalau kita mendengarkan dengan seksama, untuk memahami orang lain, ketimbang untuk menanggapinya, kita memulai komunikasi sejati dan membangun hubungan.

Kalau orang lain merasa dipahami, mereka merasa ditegaskan dan dihargai, mau membuka diri, sehingga peluang untuk berbicara secara terbuka serta dipahami terjadi lebih alami dan mudah. Berusaha memahami ini menuntut kemurahan; berusaha dipahami menuntut keberanian. Keefektifan terletak dalam keseimbangan di antara keduanya.

"Kebiasaan 6" :
Wujudkan Sinergi (Synergy)
Sinergi adalah soal menghasilkan alternatif ketiga --- bukan caraku, bukan caramu, melainkan cara ketiga yang lebih baik ketimbang cara kita masing-masing. Sinergi adalah buah dari sikap saling menghargai --- sikap memahami dan bahkan memanfaatkan perbedaan-perbedaan yang ada dalam mengatasi masalah, memanfaatkan peluang.

Tim-tim serta keluarga-keluarga yang sinergis memanfaatkan kekuatan masing-masing individu sehingga secara keseluruhannya lebih besar dari pada jumlah total dari bagian-bagiannya. hubungan-hubungan serta tim-tim seperti ini mengenyampingkan sikap saling merugikan (1 + 1 = 1/2). Mereka tidak puas dengan kompromi (1 + 1 = 1 1/2), atau sekedar kerjasama (1 + 1 = 2). Melainkan, mereka kejar kerjasama yang kreatif (1 + 1 = 3 atau lebih).

"Kebiasaan 7" :
Mengasah Gergaji ( Sharpening The Saw ) Mengasah gergaji adalah soal memperbaharui diri terus menerus dalam keempat bidang kehidupan dasar: fisik, sosial/emosional, mental, dan rohaniah. Kebiasaan inilah yang meningkatkan kapasitas kita untuk menerapkan kebiasaan-kebiasaan efektif lainnya.

Bagi sebuah organisasi, Kebiasaan 7 menggalakkan visi, pembaharuan, perbaikan terus-menerus, kewaspadaan terhadap kelelahan atau kemerosotan moral, dan memposisikan organisasinya di jalan pertumbuhan yang baru. Bagi sebuah keluarga, kebiasaan 7 meningkatkan keefektifan lewat kegiatan-kegiatan pribadi maupun keluarga secara berkala, seperti membentuk tradisi-tradisi yang merangsang semangat pembaharuan keluarga. [Stephen R. Covey]


Irwan Hadi
PWS Member

Rabu, 02 Januari 2008

7 Faktor Kehancuran Keluarga


Di dalam rumah tangga selalu memiliki rintangan dan penyebab kehancuran, dalam pandangan Psikofitrah ada 7 penyebab kehancuran keluarga.
Kehancuran keluarga ditengah masyarakat berarti juga kehancuran satu bangsa sebab keluarga adalah cermin dari satu bangsa.

1. Akidah yang keliru atau sesat,
misalnya mempercayai kekuatan dukun,magic dan sebangsanya. Bimbingan dukun dan sebangsanya bukan saja membuat langkah hidup tidak rationil, tetapi juga bisa menyesatkan pada bencana yang fatal.

2. Makanan yang tidak halalan thayyiba.
Menurut hadis Nabi, sepotong daging dalam tubuh manusia yang berasal dari makanan haram, cenderung mendorong pada perbuatan yang haram juga (qith`at al lahmi min alharam ahaqqu ila an nar). Semakna dengan makanan, juga rumah, mobil,pakaian dan lain-lainnya.

3. Kemewahan.
Menurut al Qur'an, kehancuran suatu bangsa dimulai dengan kecenderungan hidup mewah, mutrafin (Q/17:16), sebaliknyakesederhanaan akan menjadi benteng kebenaran. Keluarga yang memiliki pola hidup mewah mudah terjerumus pada keserakahan dan perilaku menyimpang yang ujungnya menghancurkan keindahan hidup berkeluarga.

4. Pergaulan yang tidak terjaga kesopanannya (dapat mendatangkan WILdan PIL).
Oleh karena itu suami atau isteri harus menjauhi "berduaan" dengan yang bukan muhrim, sebab meskipun pada mulanya tidak ada maksud apa-apa atau bahkan bermaksud baik, tetapi suasana psikologis "berduaan" akan dapat menggiring pada perselingkuhan.

5. Kebodohan.
Kebodohan ada yang bersifat matematis, logis dan ada juga kebodohan sosial. Pertimbangan hidup tidak selamanya matematis dan logis, tetapi juga ada pertimbangan logika sosial dan matematika sosial.

6. Akhlak yang rendah.
Akhlak adalah keadaan batin yang menjadi penggerak tingkah laku. Orang yang kualitas batinnya rendah mudah terjerumus pada perilaku rendah yang sangat merugikan.

7. Jauh dari agama.
Agama dalah tuntunan hidup. Orang yang mematuhi agama meski tidak pandai, dijamin perjalanan hidupnya tidak menyimpang terlalu jauh dari rel kebenaran.

Orang yang jauh dari agama mudah tertipu oleh sesuatu yang seakan-akan "menjanjikan" padahal palsu.


Wassalam,
Agussyafii

Kucing Berhaji


Alkisah, ada seekor kucing dewasa yang sudah berkecukupan. Ia hendak menunaikan ibadah haji karena merasa ada sebuah kewajiban dan tentu untuk menyambut seruan Tuhan. Berangkatlah ia dengan semangat ketertundukan.

Setelah menunaikan segala macam rukunnya, pulanglahlah ke tempat tinggal semula. Setelahnya, lebih banyak berdzikir, tak lupa "mengenakan" aksesoris layaknya para pelaku haji. Dan di luaran, tampilan mendadak shaleh.

Berhajinya seekor kucing itu terdengar sampai berbagai penjuru. Termasuk sampai terdengar pada sarang segerombolan tikus.

Pemimpin tikus, sebagai yang dituakan, berinisiatif untuk berekonsiliasi dengan sang kucing.

"Wahai rakyat tikus semuanya, dengarlah, sang kucing telah berhaji, sudah saatnya kita berdamai dengannya."
Salah satu rakyat tikus menjawab, "Tuanku, jangan, kucing tetap kucing, dia tetap akan memburu kita."

"Apa salahnya kita mencoba menjalin komunikasi, siapa tahu ada peta jalan damai antara warga tikus dan kucing."

Walaupun rakyat tikus amat gelisah dengan pendapat pemimpin tikus, tapi tetap memutuskan untuk berangkat menemui sang kucing.Berangkatlah ia dengan hati-berdebar- debar. Sesampainya di sarang kucing, pemimpin tikus mencoba tersenyum dan menyampaikan niat baiknya untuk berdamai. Awalnya, sang kucing diam saja. Semakin lama didiamkan, pemimpin tikus mulai gelisah.

Lalu, sang kucing memandangi sang tikus dengan tatapan beringas, lantas melompat, mencoba menerkam dan memangsa tikus. Untung sang tikus sudah siap sedia dan berhasil meloloskan diri dari terkaman sang kucing. Berlari dan terus berlari meninggalkannya. Sampai di sarang tikus, rakyat yang sejak awal khwatir bertanya,

"Bagaimana, tuanku, apakah perdamaian berhasil?
"Celaka, benar katamu, sang kucing tetap kucing, dia tetap akan memangsa kita."

Renungan :
Kisah ini adalah sindiran bagi kita semuanya. Haji bagi umat Islam memang sebuah kewajiban untuk yang mampu. Kita pasti mempunyai niat untuk menunaikannya, alangkah bahagianya kita bisa pergi ke tanah suci.

Tapi, ada dimensi lain yang patut kita ingat. Haji bukanlah sebuah trend atau bahkan sebuah gaya hidup agar dipandang "wah". Juga bukan melulu berdimensi ketuhanan semata.

Ada dimensi lain yang perlu kita amalkan, yaitu dimensi sosial dengan menterjemahkan simbol-simbol haji yang telah dilaksanakan.
Salah satunya seperti dituturkan Ustadz Quraish Shihab,
"pakaian biasa" ditanggalkan dan "pakaian ihram" dikenakan.

Artinya, menanggalkan segala macam perbedaan dan menghapus keangkuhan.Dengan berhaji, kita belajar menghargai sesama manusia, tidak melakukan lagi penghisapan atau penindasan terhadap manusia lain. Kita semua hakikatnya sama, miskin kaya, pejabat tinggi atau rakyat biasa.

Dan, kita juga perlu meninggalkan karakter-karakter jahat yang barangkali sudah melekat erat dalam diri sekian lamanya. Kalau setelah berhaji tetap punya karakter dan perilaku sama, maka sia-sialah semuanya.

Source : Yon's Revolta
KotaSantri.com

Selasa, 01 Januari 2008

Hukum Alam Yang Belum Berjalan


Suatu saat anda pasti pernah tidak berjumpa dalam waktu yang lama dengan rekan akrab anda. Apa yang terjadi ?
Pastilah saat perjumpaan , terjadilah pertemuan hangat dengan menceritakan kenangan indah yang pernah dialami bersama.
Ujung – ujungnya biasanya diakhiri dengan perpisahan dengan kata – kata : “ Jangan lupa ya datang dan mainlah kerumah “

Saat kita mengatakan hal itu , maka terjadilah ketentuan ( hukum alam ) dengan harus mempersiapkan “ kemudahan , fasilitas , sarana informasi dll “ yang kita akan berikan jika sang rekan datang berkunjung ke tempat kita atau sebaliknya.

Akhir tahun 2007 , saya menyempatkan membawa keluarga berlibur ke daerah wisata Danau Toba , tepat pada tanggal 31 Desember 2007.
Jika mendengar , melihat dan memperhatikan slogan pariwisata negara kita saat ini : “ Visit Indonesia 2008 “ ( Datang ya ke Indonesia 2008 ), tentu sudah membayangkan betapa indahnya liburan kali ini.

Namun apa yang terjadi ?
Hukum alam yang saya sebutkan diatas , kemudahan , fasilitas , sarana dll , sungguh memprihatinkan.
Bukannya tidak tidak ada , sangat banyak namun memakai azas SUMUT , Semua Urusan Menggunakan Uang Tunai , yang tentunya dengan tarif yang super tinggi.

Sebut saja mulai dengan sejak tiba , tarif mobil masuk daerah wisata dengan penumpangnya Rp. 5.000,- hanya dengan sticker tanpa tanda terima , dan itu rasanya masih wajar.

Tiba di lokasi tentu harus cari tempat parkir ,nah jangan berpikir cuma dengan tariff 1000 atau 2000 perak saja , namun kena patok Rp. 10.000,- per mobil , dan inipun di kelola oleh perorangan yang kurang jelas kemana larinya dana tersebut..

Beberapa tahun lalu saat berkunjung ketempat yang sama , saya dengan bebasnya bisa berjalan disepanjang pantai danau menikmati sejuk dan jernih nya air danau dengan bebasnya.
Sekarang seluruh garis pantai telah “ dikapling “ oleh orang – perorangan , jangan harap lagi bisa berjalan dengan bebas , karena sudah milik “ penguasa danau “.

Di garis pantai bermunculan tenda - tenda yang membuat kurang nyaman

Masih mau menikmati ? Silahkan saja , tersedia tikar dan naungan tenda , dan . . . tentunya tidak gratis.
Kemarin saya coba tanya , disebutkan harga Rp. 50.000,- per tempat / per tikar , nah nawarnya aja udah bingung dengan harga segitu , padahal cuma mau santai sekitar setengah jam saja. Bagaimana dengan pengunjung yang kelas ekonomi atau malah turis asing yang semua pengeluaran sudah dihitung dengan cermat ?

Banyak hal lain yang mau saya tuliskan , namun semakin banyak ditulis semakin sedih dengan slogan pariwisata kita “ Visit Indonesia 2008 “

Bagimanapun “ jalan – jalan “ haruslah mengeluarkan duit , namun jika sarana yang disediakan kurang memadai , berharga mahal , dan kurang jelasnya pengelolaan , tentu akan membuat jera orang datang berkunjung lagi.

Memang banyak dilansir bahwa daerah wisata Danau Toba yang semakin sepi pengun jung kalau ngga mau dibilang terpuruk ,padahal sarana transportasi berupa jalan raya , rambu – rambu dll dari Medan dan kota lainnya sudah makin memadai.

Semua itu hanyalah faktor luar belaka , harus utamanya didukung oleh faktor dalam pengelola daerah wisata itu terlebih dahulu , maukah berbenah di “ Hukum Alam “ seperti tersebut diatas.