Menu Baru Web PWS Medan

Bergabunglah dengan Paguyuban Wargi Sunda versi FaceBook , dapatkan info PWS terbaru , Jangan lupa DOWNLOAD File berbentuk Powerpoint ( pps ) dari web ini , dan semuanya tentu saja Gratis untuk anggota dan pembaca setia Web PWS - Medan , Haturnuhun
Myspace tweaks at TweakYourPage.com

Selasa, 23 Oktober 2007

Pandangan Urang Sunda Terhadap Wanita


Pandangan Urang Sunda terhadap wanita dapat dilihat dari presedence- presedence kasundaan antara lain dari tokoh-tokohnya seperti Nyi Pohaci (Dewi Padi/ Kesuburan), Sunan Ambu (Dewi Yang Berkuasa), Dayang Sumbi (wanita pemberani dan sakti), Diah Pitaloka Citraresmi (wanita pemberani), Dewi Sartika (wanita pemberani dan pendidik), Cut Nyak Dien (Pahlawan Aceh yang sangat dihargai), dlsb.

Pandangan Urang Sunda Terhadap Wanita dapat dilihat dari presedence- presedence sebagai berikut:
  • Nyi Pohaci, Dewi Sri Dangdayang Tresnawati, Dewi Padi dipandang sebagai Dewi Kemakmuran & Kesuburan dapat dinterpretasikan bahwa pandangan terhadap wanita adalah sama. Dimana wanita dapat menjadi seorang Dewi yang setingkat dengan Dewa. Wanita justru menjadi simbol kemakmuran dan kesuburan (kebahagian) sehingga dalam ajaran Kasundaan wanita harus dipupusti dan dihormati. Dalam ajaran Kasundaan wanita tidak hanya bisa menjadi pemimpin tetapi juga menjadi setingkat Dewa.
  • Sunan Ambu dalam carita Lutung Kasarung merupakan seorang Dewi, Ibu-nya Lutung Kasarung yang memiliki kesaktian yang luar biasa, semua dewa tunduk sama Sunan Ambu.
  • Dayang Sumbi, menikah dengan anjing (simbol manusia biasa pada waktu itu), berani untuk mandiri di hutan belantara (hidup seperti biasa). Diceritakan bahwa Dayang Sumbi memiliki kesaktian yang sangat tinggi (boeh rarang dapat menerbitkan mathari, merubah gelap menjadi terang) tidak kalah sama Kesaktian Sangkuriang anaknya. Dapat diinterpretasikan bahwa boeh rarang (do'a putih bersih dan tulus) dari seorang wanita sangatlah punya kekuatan yang luar biasa, beyond imagination. Yang Maha Kuasa akan mengabulkan do'a seorang Ibu yang tulus. Sampai sekarang Do'a Ibu dipercaya mempunyai kekuatan yang luar biasa untuk kemakmuran dan kesuksesan sehingga salah satu PO Bis Urang Sunda yang dinamakan Do'a Ibu.
  • Prinsip Indung Anu Ngandung Bapa Anu Ngayuga, Ibu/ Wanita ditempatkan didepan sebagai yg mengandung, tanpa ada Ibu maka manusia tidak akan lahir.
  • Dyah Pitaloka Citraresmi memiliki keberanian yang luar biasa untuk mempertahankan Jati Diri dan sanggup berperang untuk menentang keserakahan Gajah Mada, ada cerita versi baru yang diceritakan di id.wikipedia.org, dimana disana disampaikan bahwa Dyah Pitaloka tidak bunuh diri melainkan bertarung melawan Patih Gajah Mada dan sempat melukai Gajah Mada dengan keris yang diwariskan dari Jayasingawarman. Terlepas benar atau tidaknya legenda tersebut dan walaupun Dyah Pitaloka Citraresmi memang melakukan Bunuh Diri dalam rangka tidak mau dijajah atau direndahkan bangsa lain maka dapat diinterpretasikan bahwa wanita Sunda jaman dulu memiliki keberanian yang tidak kalah dari pria.
  • Dewi Sartika, wanita Sunda yang tidak seterkenal Ibu kita Kartini tapi jasa- jasanya mendirikan Sekolah Perempuan di Jaman Belanda adalah suatu "breakthrough" pada jamannya. Hal tersebut dapat diinterpretasikan bahwa wanita Sunda memiliki pemikiran yang advance dan maju.
  • Cut Nyak Dien, Pahlawan Nasional merupakan seorang wanita pejuang dari Aceh nyang dibuang oleh Belanda ke Sumedang dan kebiasaan Urang Sunda maka begitu Cut Nyak Dien datang ke Tanah Sunda maka beliau dihormati dan dijaga serta dijadikan sesepuh. Dapat diinterpretasikan bahwa pandangan Urang Sunda untuk wanita dari manapun asalnya sangat dihargai bahkan untuk wanita buangan sekalipun.

Melihat presedence- presedence tersebut maka sudah sepatutnya lah setelah Negara Indonesia merdeka dan terbentuk tentunya berbagai macam pelecehan serta diskriminasi perempuan dapat segera dipangkas dan sudah sepantasnya perempuan/wanita ditempatkan sejajar dengan laki- laki, baik dalam hal karir, politik, keagamaan, dlsb.


Fatwa Kuncen Kasundaan, "sing saha anu teu ngahargaan atawa ngahinakeun awewe jeung teu saluyu kana purwadaksina maka bakal dikutuk jadi kodok atawa bangkong mangga dipilih, dipilih, dipilih ;"।

Senin, 22 Oktober 2007

Waktu


Betapa hebatnya waktu mengatur kita, mengatur kehidupan kita
Ketika lonceng jam usai kerja berdering, tanpa diperintah segera kita berkemas. Menyimpan kertas dan pensil dalam laci, lalu meninggalkannya jauh-jauh. Seolah semua persoalan telah terpecahkan untuk hari itu.

Padahal masalah tetap terjaga selagi kita pejamkan mata. Namun, esok hari, ketika lonceng jam mulai kerja berdentang, semua tumpukan masalah kita aduk, seolah ia terlampau banyak tidur semalam.


Perselisihan pun bolehlah dilanjutkan kembali. Ah, betapa hebatnya waktu menghibur kita. Betapa bergairahnya waktu membangunkan kita. Saat kita mengatur waktu, sesungguhnya kita pun mengatur pikiran, emosi, dan perasaan kita. Karena waktu adalah lingkaran dimana kehidupan kita berjalan, kita atur waktu untuk mengatur kehidupan.

Kita rayakan sesuatu karena kita ciptakan hari besar. Kita heningkan diri karena kita tegakkan kesyahduan.

Dan semua itu kita rangkai dalam jalinan waktu. Maka, hanya mereka yang tak kenal akan waktulah yang terjerat dalam persoalan tiada berujung.


Bagi mereka yang tidak menghargai waktu, maka meraka akan menyia-nyiakan waktu, walau terkdang ada orang yang sangat kekurangan waktu. Dan ketika orang sudah divonis oleh suatu penyakit maka kehidupan orang tersebut menunggu waktu.


Maka hargai lah setiap waktu yang kau miliki, manfaatkan untuk kebaikan setiap waktu yang termiliki.

Kegagalan dan keberhasilan kita juga kita dapat dari cara kita mengatur waktu yang kita miliki, maka manfaatkan lah waktu yang ada saat ini, karena waktu tidak akan pernah bergerak mundur, dari pada menyesal di kemudian,
lebih baik kita memanfaatkan dan menghargai waktu।


Misi Hidup Dalam Sebuah Kerja


Usai Lebaran , kegiatan kembali menggeliat , proyek pembanguan infrastruktur mulai bergerak seiring kembalinya kaum urban dari National Holyday Travel alias Mudik.


Di satu sudut pusat kota , seorang wanita bertubuh gemuk , dengan senyum jenaka disela – sela pipinya yang bulat , duduk menggelar nasi bungkus dagangannya. Sesegera saja beberapa pekerja bangunan dan kuli yang telah menunggu sejak tadi segera mengerubungi dan membuatnya sibuk melayani.

Bagi mereka pilihan menu dan rasa bukan soal , yang terpenting adalah harganya yang luar biasa murahnya.


Hampir – hampir mustahil ada orang yang bisa berdagang dengan harga sedemikian rendah.

Lalu apa untungnya ?


Wanita itu terkekeh menjawabnya , “ Bisa numpang makan dan beli sedikit kopi dan sabun “.

Tapi bukankah dia bisa menaikkan harganya sedikit ?

Sekali lagi ia terkekeh , “ Lalu bagaimana kuli – kuli itu bisa membeli ?” , “ Siapa yang mau menyediakan sarapan buat mereka ?”, jawabnya sambil menunjukkan para lelaki yang berlompatan keatas truck Mitsubishi Colt Diesel yang mengantar mereka ketempat bekerja.


Ah, betapa cantiknya , bila sebongkah misi hidup dipadukan dalam sebuah kerja. Orang – orang yang memahami benar kehadiran karyanya untuk orang lain , sebagaimana wanita tua diatas , yang bekerja demi setitik kesejahteraan hidup manusia., adalah tiang penyangga yang menahan langit ini agar tidak runtuh.


Merekalah beludru halus yang membuat jalan hdup yang nampak keras berbatu ini menjadi lembut bahkan menjadi pengobat luka kehidupan.


Bukankah demikian juga tugas kita dalam bekerja dimanapun kita berkarya yang menghadirkan secercah harapan dan kesejahteraan bagi sesama.


lihat artikel lain di http://pwsmedan@blogspot.com/



Sabtu, 20 Oktober 2007

Jangan Berdoa Dengan Bahasa Betawi


Menurut salah satu riwayat, dijelaskan berdoa bisa dengan menggunakan bahasa apa saja, bukan hanya dengan bahasa Arab, Yunani, Inggris ataupun apa saja bahasa Ibu kita.

Andaikan manusia itu digolong-golongkan, saya termasuk kaum nomaden. Hidupnya dalam satu periodik di kota satu dan di periodik lain di kota yang lain pula. Lahir di Kuningan, Remaja di Bandung, besar di Ibukota, dan sekarang tinggal di Propinsi Sumut..

Tentu saja sebagai insan yang memiliki kesenangan belajar bahasa daerah, saya selalu mencoba mempelajarinya di manapun saya berada.

Ada satu hal yang sangat sulit saya praktekkan dalam berdoa kepada Tuhan dengan berbagai bahasa adalah berdoa dalam dialek Bahasa Betawi, pengalaman saya ini bukanlah omong kosong, kalau anda ragu coba praktekkan saja sendiri.

Berikut adalah penggalan salah satu kalimat ketika saya berdoa dalam berbagai versi bahasa daerah. Yang paling netral adalah Bahasa Indonesia, contohnya : “Ya Tuhan aku memohon kepada Mu....”

Sekarang dalam Bahasa Jawa : “Duh..Gusti Pangeran, Kulo nyuwun pangapunten....”.

Dalam Bahasa Sunda : “ Nun Gusti, abdi nyuhunken....”

Nah sekarang cobalah praktekkan dalam Bahasa Betawi : “ Ya Tuhan, Gue mohon Elo..”, rasanya kok menjadi tidak etis, marilah kita mencobanya lagi yang lebih halus dengan Bahasa Betawi halus atau tingkat tinggi “ Ya Tuhan, ane mohon Ente..”, rasanya masih terasa janggal.

Agar lebih enak terdengarnya maka untuk orang Betawi kalau berdoa dengan menggunakan Bahasa Indonesia atau Bahasa Melayu.

Sebenarnya, maksud berbahasa adalah sebagai media untuk berkomunikasi agar bisa dimengerti baik oleh pembicara (komunikator) dengan pendengarnya. Hanya saja melalui budaya dan persepsi, tentunya harus ada adab sopan santun dalam berbahasa.

Karena Tuhan ( baca Allah SWT ) mencintai yang indah-indah seperti salah sifat Nya yang Maha Indah, maka sangatlah baik apabila berdoa kepada Nya dengan bahasa yang baik, bila perlu dengan bahasa sastra yang Indah।

Hakikatnya Allah itu memahami apa yang tersirat maupun tersurat dalam hati kita, bukankan “tak ada satu helai daunpun yang jatuh tanpa seijinNya?”, karena Tuhan itu Maha Meliputi Segala Sesuatu di alam ini ataupun alam akhirat nanti. Jadi bahasa apapun tetap baik, asal pandai menyajikannya.

Mari kita mencoba, belajar menata doa kita, yang rasanya dari hari hanya itu-itu saja yang disampaikan, dan mencoba melangkah untuk mendoakan keluarga, kawan, dan seluruh bumi dan seisinya.

“Ya Tuhan kami, kami memohon ampun kepada Mu atas segala kesalahan kami,Semoga berkah Mu selalu hadir dalam tiap langkahku, dan seluruh mahluk ciptaan Mu, Semoga tetap damai di dunia dan akherat, amin..”.


Salam,

KACAMATA


Hal ini terjadi disuatu daerah yang banyak peternak domba

Disuatu Negara di Eropa.

Pada suatu musim panas yang cukup panjang, kalo di Indonesia

Sih dibilang kemarau kali….

Semua peternak mengeluh karena padang rumput kering sehingga makanan untuk domba-domba mereka sangat kurang, akibatnya domba-dombanya pada kurus kering.

Namun ada satu peternak yang tidak terkena imbas dari musim panas itu… heran donk….

Rombongan peternak itu lalu mendatangi peternak yang dombanya tetap gemuk dan bagus, sambil bertanya apa rahasianya sehingga ternaknya tetap sehat dan bagus dimusim kemarau yang panjang ini.

Tau gak jawaban peternak yang dombanya tetap subur dan gemuk tadi …..

Katanya "Tidak ada yang jadi rahasia hingga domba saya tetap gemuk, mereka tetap makan rumput yang ada Cuma mungkin perbedaannya semua domba saya semua saya kasih kacamata hijau, jadi walaupun sebenarnya rumputnya coklat kepanasan tapi mereka menganggap rumputnya tetap hijau….hehehe.

Moralnya…

Semua orang punya masalah masing-masing, tinggal bagaimana kita melihat dengan kacamata masalah, problem atau kacamata yang lain. Terserah kita mau pakai kacamata apa……This is . . . Pilihan Maneh Kang . . . . .


Sent by Djodi Ismanto ,
Mitsubishi Motors - Medan
www.djodiismanto.blogspot.com

Jumat, 19 Oktober 2007

Misteri Terowongan Sasaksaat



Dikerjakan Secara Manual dan Beraroma Mistis

MUNGKIN, Anda sudah tak asing dengan terowongan panjang di Sasaksaat, Desa Sumurbandung Kec. Cipatat Kab. Bandung Barat. Jika bepergian ke Jakarta menggunakan KA, Anda tentu melewati terowongan sepanjang 950 meter itu. Akan tetapi, tahukah Anda kalau sebenarnya terowongan tersebut dibuat secara manual, dengan ribuan pekerja yang berbekal pahat? Tahu pulakah Anda, bahwa hingga kini terowongan itu masih menyimpan aroma mistis, sehingga setiap tahun mesti ditumbal seekor domba jantan?


DUA pekerja menyusuri rel kereta api di depan terowongan Sasaksaat, Kp. Cipicung Desa Sumurbandung Kec. Cipatat Kab. Bandung Barat, Jumat (21/9). Terowongan yang dibangun antara 1902-1903 itu masih menyimpan aroma mistis yang sangat kental.*HAZMIRULLAH/"PR"
“Ya, berdasarkan kepercayaan masyarakat di sini, kalau tak ditumbal, pasti terowongan minta banyak korban. Makanya, setiap tanggal 16 Agustus, seekor domba jantan pasti disembelih untuk tolak bala,” ungkap Katmadja (47), penjaga pos terowongan Sasaksaat, di sela-sela pekerjaannya, Jumat (21/9).


Aroma mistis di terowong-an itu, kata Katmadja, masih begitu terasa, apalagi kalau malam hari. Untunglah, selama 4 tahun menjadi penjaga pos, dirinya sama sekali tak pernah melihat “penampakan” meski bulu kuduk merinding. “Pokona mah jelema nu beurangan moal kuat gawe di dieu. Jaba kudu ngontrol ti ujung ka ujung. Leumpangna oge kudu 15 menit sabalikan,” tuturnya.


Katmadja menduga, aroma mistis di terowongan Sasaksaat ada kaitannya de-ngan pajaratan di puncak bukit Cidepong yang biasa disebut “Geger Hanjuang”. Terowongan Sasaksaat memang menembus bukit itu. “Kata masyarakat, dari dulu, daerah ini memang sanget,” katanya.
Agus Mulyana, dosen Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia, membenarkan hal tersebut. Dalam artikel berjudul “Kuli dan Anemer; Keterlibatan Orang Cina Dalam Pembangunan Jalan Kereta Api Di Priangan (1878-1924)”, Agus mengungkapkan, sebelum pekerjaan pembangunan terowongan dimulai, terlebih dahulu digelar upacara sesajian.


“Upacara ini bertujuan meminta keselamatan agar dalam pembangunan terowongan tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan masyarakat bahwa pada tempat-tempat tertentu khususnya tempat-tempat yang dianggap angker, ada yang ‘menguasainya’. Gunung yang dijadikan tempat pembuatan terowongan dianggap ada makhluk yang ‘menguasainya’,” katanya.
**

TEROWONGAN Sasaksaat, kata Agus, diba-ngun saat dibukanya lajur Karawang-Padalarang. Sebagaimana tertulis di din-ding terowongan, projek pembangunan tersebut berlangsung selama setahun, 1902-1903. “Baru tahun 2004, PT KA merenovasi dinding terowongan. Sedikitnya 120 pekerja dilibatkan. Pekerjaan itu memakan waktu 3 bulan,” tutur Katmadja.


Agus Mulyana meng-ungkapkan pula, pengerjaan terowongan diserahkan sepenuhnya kepada pemborong khusus dari Eropa. Soalnya, pekerjaan itu membutuhkan teknologi tinggi, biasa dikenal sebagai teknologi Belgia. “Lahan yang ada dalam terowongan cukup sulit. Lahan di atas gunung memiliki kadar air tinggi sehingga merembes ke dalam bagian bawah bangunan terowongan, bahkan bisa menimbulkan longsor,” tulisnya.

Untuk menanggulangi rembesan air, dilakukan penyemenan di lapisan atas terowongan. Bahan yang digunakan dalam penyemenan tersebut yaitu campuran semen portland, pasir dan kapur. Apabila air terus-menerus mengalir, lapisan atas terowongan dilapisi de-ngan seng. Agar lapisan atas terowongan kuat, penyemen-an yang dilakukan memiliki ketebalan 0,85 meter.


Kesulitan lainnya, bukit Cidepong dipenuhi oleh batu-batu cadas. Pengeboman tak dibenarkan untuk menghancurkannya karena bakal menimbulkan getaran berpotensi longsor. “Untuk menghindari risiko, maka dilakukan dengan cara penge-boran. Tapi, tidak bisa menggunakan mesin karena khawatir dapat menimbulkan getaran. Untuk menghindari getaran tersebut, pengeboran dilakukan dengan menggunakan tangan,” ucapnya.

Untuk mempercepat penyelesaian, pembangunan terowongan Sasaksaat dilakukan siang dan malam.Untuk penerangan digunakan lampu yang dinyalakan dengan dinamo. Agar sirkulasi udara di dalam terowongan tetap segar maka digunakan mesin yang digerakkan pula dengan dinamo. Berbagai golongan tenaga kerja terlibat. Mulai dari orang pribumi, Cina dan orang Eropa. (Hazmirullah/”PR”)***

Si Kabayan Raheut Curuk


Salam baktos haturan ka seluruh pengurus jeung anggota PWS - Medan , hapunten teu acan tiasa nepangan, jalaran nya kitu tea ….. sun …… pabaliut !

Kum ka sadayana, utamina nu ngageugeuh ramat loka PWS - Medan , Ki Sunda sareng Urang Sunda, pon kitu deui Baraya Sunda, wilujeng boboran siam mugi kersa ngahapunten samudaya kalepatan lahir tumekaing batin. Minal’aidin wal faidzin, taqobalallohu minnaa waminkum, shiyamanaa washiyamakum. Kullu aamiin wa antum bikhoir !

Si Kabayan Raheut Curuk

Kacaturkeun di lembur Salikur Rahul keur mangsana usum langlayangan. Abong heueuh keur usumna, nu maraen langlayangan teh sihoreng lain ngan ukur barudak, tapi oge aki-aki jeung nin …….. eh, bit ! Euweuh ketang nini-nini mah !
Si Kabayan teu tinggaleun, harita teh keur getol nyieunan langlayangan keur pakeeun jeung keur jualeun. Lumayan cenah keur meuli suluh ! Da nyaeta ari kudu ngala sorangan mah sangheuk cenah, bongan sok matak cape !
Urang susul nurutkeun judul, urang teang gancangna carita, tengah peuting keur jemplang jempling Si Kabayan ngahariring lir anu keur humarurung, aeh tibulak, kuduna mah humarurung lir ucing gering keur ngahariring, atra pisan kadengena ku sang garwa, Si Kabayan lir nu gering kanyenyerian. Atuh geuwat Raden Ajeng Nyai Iteung ngorejat hudang, seja narok aeh nakon ingkang panutan, na ku naon bet humarurung kawas nu nguyung.
Kieu cenah gunem caturna Si Kabayan (K) jeung Nyi Iteung (I) teh :
I : Ku naon akang, geuning bet humarurung ? Tiris ?
K : Lain Nyai, lain tiris, tapi ieu curuk kami nyanyautan !
I : Cikan ngilikan !
K : Yeuh geura jeueung ku Nyai, curuk kami mani bukekeng, jadi sagede kieu !
I : Ah, sagedena oge curuk, moal sagede eta !
K : Hus, bet geuning jorang nyaneh mah Iteung !
I : Jorang kumaha ari akang !
K : Geuning bieu bet make nyebut sagede “eta”. Ari “eta” teh naon ?
I : Maksud Iteung mah sagede ieu akang, ieu yeuh ……….. halu lulumpang !
K : Ih, ari sugan teh !
I : Hayu atuh akang, cuang ka kandang munding, ke di ditu cuang ubaran !
K : Ari nyaneh Iteung, minculak teh kabina-bina, nanahaonan uubar di kandang kebo !
I : Saur Abah ………….. mun isuk jaganing geto urang ngalaman raheut curuk, (tah
kawas akang ayeuna), lelepkeun we kana “eta” munding bikang !
K : Montong kalah ngaheureuyan deuleu Iteung, curuk kami teh enyaan nyeri !
I : Ongkohna ge saha nu ngaheureuyan, da ieu oge enyaan. Hayu cuang buktikeun !
Si Kabayan eleh geleng, kuniang hudang, terus ngikclik nuturkeun ingkang garwa. Kabeneran peuting harita teh bulan keur mabra, bubuhan keur tanggal wewelasan. Gancangna carita, tepi weh ka kandang kebo tea Kabeneran munding bikang teh depana nonggeng ka luar. Mokaha, mebeskeun curuk kana “etana” teh teu matak hese da bisa dirongkong ti luar.
I : Sok atuh atuh akang lelepkeun curukna.
Si Kabayan nurut, tapi gancang dibetot deui.
I : Ulah ngan ukur anclom atuh akang, anggur keueumkeun sing rada lila !
Si Kabayan nurut deui, curukna dilelepkeun deui, ayeuna mah terus dikeueumkeun salila-lila. Kakara diludang sanggeus Nyi Iteung ngajakan balik. Enya we, curuk Si Kabayan teh ayeuna mah kempes bari jeung teu nyeri deui cenah. Ngan orokaya, heuleut sababaraha peuting ti harita, pareng dina tengah peuting nu sepi jempling, katambah alam keur poek mongkleng bongan bulan teu nembongan, kacaturkeun Si Kabayan gering deui, humarurung kawas nu kungsi kaalaman. Ana ditanya ku sang garwa, walonna teh sarua jeung nu tiheula. Kieu cenah gunem caturna.
I : Ku naon deui akang ?
K : Haduh halah Iteung, ieu curuk kami nyeri deui.
I : Duh kumaha atuh akang, da ayeuna mah keur poek bulan, etana ge moal kajeueung !
K : Ah naaaa bet ngeok memeh dipacok, urang rarampa we !
I : Nya heug atuh, hayu !
Gancangna carita, Si Kabayan jeung Nyi Iteung geus cunduk kanu dijugjug.
I : Baeu akang, mana curukna ?
K : Ieu Iteung !
I : Euleuh, bareuh-bareuh enyaan ayeuna mah akang, geuning jadi gede pisan !
K : Nyaeta, tak tage !
I : Sok atuh akang, geuwat lelepkeun !
Si Kabayan nurut, tapi teu lila Nyi Iteung nyarita deui.
I : Ulah dikeueumkeun wae atuh akang, bisi buruk !
K : Beu, bet lalawora. Kumahakeun atuh Iteung ? Bedo ?
I : Hih, atuh moal cageur ari bedo mah akang !
K : Dikeueumkeum matak buruk, dibedokeun moal cageur ! Jadi lieur yeuh !
I : Ih, puguh ngarah teu lieur ! Pulang antingkeun angguranan akang !
K : Haaaar, na ari maneh Iteung !
I : Da ieu mah lain eta munding, akang ………. nu Iteung !
K : Euleuh, kutan ! Hadena weeee, ieu oge lain curuk, Iteung ………. nu kami !

www.pwsmedan.blogspot.com

Kamis, 18 Oktober 2007

Pengurus PWS - Medan 2007 - 2009


Susunan Pengurus PWS – Medan
Periode 2007 - 2009


Pelindung :
Irjenpol Nurrudin Usman , SMIK

Penasehat :
1. Mayjen ( Purnawirawan ) Rudi Supriyatna , MM
2. Kolonel ( Purnawirawan ) Jana Sujana
3. Okky Sukardian
4. Ir. Rachmat Warganda

Ketua Umum :

DANI KUSTONI , SH SIK

Wakil Ketua Umum :

ASEP YUDI , SE

Bendahara :

1. Ir. Royke Surahman
2. Dra. Lili Garliah , S Psi

Sekretaris :

1. Drs. Asep Tatang
2. Ir. Dedi Mulya
3. Ir. Djodi Ismanto

Ketua I :

Asep Sarifudin

Bidang Kerohanian

1. H. Kamarudin Tasik
2. Ir. MM Arasy
3. Drs. Thosin Burhani
4. Ibu Anwar
5. Ibu Iyah
6. Teh Evi

Ketua II :

Ir. Erwin Zubir

Bidang Dana dan Usaha

1. Budi Satrio
2. Asih Herlina
3. Korinawati Teruna , SE
4. Heni
5. Euis
6. Risna , SH ( Notaris )

Ketua III :

Ir. Yayat Surya , MM

Bidang Humas / Informasi

1. Ir. Didin M. Ilyas ,Msi
2. Nina Husen , SH
3. Rachman , SE
4. Sofi
5. Mubeli
6. R.E Iskandar

Ketua IV :

Ade Hiayat , S Sn

Bidang Kesenian

1. Ade Nugroho
2. Dede Sutisna

Minggu, 07 Oktober 2007

Etos Kerja dan Pulang Mudik
Sekilas chatting imaginer dengan Aa . . . . .

Aa_online : Assalamualaikum …
Djodi Ismanto : Waalaikumsalaam …
Djodi Ismanto : Aa .. lama gak online nih, … kemana aja ?
Aa_online : Ah … Aa mah disini aja, Kang Djodi kumaha damang? sekarang tugas di Medan ya . Djodi Ismanto : Baik A, kumaha bulan madu?
Aa_online : Ah, eta deuy, eta deuy … hehehe …
Djodi Ismanto : Sori A, habis kaget nih Aa nikah lagi
Aa_online : Aduh kenapa atuh musti kaget sagala. Kan berpoligami teh diijinkan Allah.
Djodi Ismanto : Diijinkan lho A, bukan diwajibkan
Aa_online : Betul. Hukumnya sunnah.
Djodi Ismanto : Kenapa sih Aa, nikah lagi?
Aa_online : Aduuh ini lagi pertanyaannya … Kumaha nya ngajawabnya?
Djodi Ismanto : Apa ada yg kurang dari Teteh?
Aa_online : Wah, insya Allah bukan karena itu, Teteh itu wanita yang sangat luar biasa.
Djodi Ismanto : Ya sok udah lah A , Saya cuma mau nanya tentang etos kerja dilihat dari sudut Islam ?
Aa_online : Begini ya , kita contoh aja atuh Nabi Muhammad SAW, beliau itu orang yang benar - benar menganut . . aduh lupa naon eta . . . Etos Kerja , beliau benar - benar tulus dalam melayani mulai dari istri - istri beliau , umat beliau dan lain - lain.Mulai dari urusan rumah tangga , beliau tidak pernah atuh merepotkan istrinya , semua yang bisa dikerjakan beliau pasti dikerjakan , istilahnya ya menurut Aa , Nabi kita itu ringan tangan.Beliau selalu memudahkan urusan , meringankan masalah . . bukan begitu ilmu Etos Kerja Kang Djodi ?
Djodi Ismanto : Jadi A , Etos Kerja itu berarti tugas mulia dong karena dengan membantu , memudahkan serta membuat orang lain senang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad.
Aa_online : Nuhun , betul sekali itu , jadi ngga usah setengah - setengah dalam melakukan sharing ilmu dengan rekan sekerja ya , karena dalam Islam pun itu masuk tugas yang mulia.Dan semua itu bisa dilatih sejak dini , kalau sekolah , disiplin mulai sejak SD , begitu juga saat kita bekerja. Kan Perjalanan Panjang dimulai dari langkah pertama.
Aa_online : Ngomong – ngomong Lebaran tahun ini Kang Djodi kumaha ? Mudik nteu ?
Djodi Ismanto : Maunya sih mudik A , tetapi saudara yang di Bandung dan Cirebon malah mau ke Medan , jadi lieur nih A ?.
Aa_online : Ngga usah bingung atuh , moal dipaksakeun buat mudik , kan bagus kalau yang di Bandung atau Cirebon datang ke Medan , biar mereka tahu budaya dan keindahan negeri kita , betul , tidak ?
Apalagi di Medan kan ada naon eta . . . aya . . PWS , Persatuan Wargi Sunda – Medan , jadi ngga akan putuslah tali silaturahmi dengan tanah Pasundan, apalagi Aa kenal baik dengan ketuanya , Kang Dani Kustoni
Djodi Ismanto : Ngomong – ngomong ini Aa Gym nanti Lebaran aya di Darut Tauhid – Bandung khan ?.
Aa_online : Ah , kumaha atuh , ini teh . . . .Aa DeM , . . . ini Dedi Mulya , saya kan kawan Kang Djodi di PWS , kita kan sama – sama di sekretariat PWS bantu Kang Dani di Medan . . . . .
Djodi Ismanto : Euleuh – euleuh kumaha yeuh , saya kira dari tadi mah Aa Gym yang dari Bandung . . . . . .jadi ini Kang Dedi Mulya yang salah satu pengurus PWS – Medan , sorry ya Kang saya kira AA Gym he he he ? Kalau yang nikah tadi kumaha Kang ?
Aa_online : Ah , itu kan cuma becanda aja Kang he he he
Djodi Ismanto : Ya sok , udah ya Aa Dedi , hatur nuhun atuh atas penjelasannya tentang etos kerja dan ilmu nya . , Wassalammualaimum wr.wb.
Aa_online : Walaikum salam wr.wb , sami - sami atuh , salam ya dengan teman – teman PWS lainnya.
Regards,
DJODI ISMANTO
Mitsubishi Motors - Group Sumatra Berlian
From nice city of Medan
www.djodiismanto. blogspot. com

Buka Puasa Bersama

Marhaban Ya Ramadhan

Buka Puasa Bersama PWS - Medan , Minggu, 07 Oktober 2007 Jam : 17.00 Wib , Dibumi Kang Ariansyah , Jl. Ngumban Surbakti No. 32 , Dengan Siraman Rohani Ustd. Tosin Burhani.

Puspen PWS - Medan
Informed by : 061 - 77717860