Menu Baru Web PWS Medan

Bergabunglah dengan Paguyuban Wargi Sunda versi FaceBook , dapatkan info PWS terbaru , Jangan lupa DOWNLOAD File berbentuk Powerpoint ( pps ) dari web ini , dan semuanya tentu saja Gratis untuk anggota dan pembaca setia Web PWS - Medan , Haturnuhun
Myspace tweaks at TweakYourPage.com

Sabtu, 16 Februari 2008

Pencuri Lumbung

Suatu ketika, tinggallah sebuah keluarga kaya. Keluarga itu, terdiri dariorangtua, dan kedua anak laki-lakinya. Kekayaan mereka sangatlah berlimpah.Lumbung mereka, penuh dengan tumpukan padi dan gandum. Ladang mereka luas,lengkap dengan ratusan hewan ternak.
Namun, pada suatu malam, ada pencuri yang datang ke lumbung mereka. Sebagianbesar padi yang baru di tuai, lenyap tak berbekas. Tak ada yang tahu siapa pencuri itu. Kejadian itu terus berulang, hingga beberapa malam berikutnya.

Akan tetapi, tak ada yang mampu menangkap pencurinya.

Sang tuan rumah tentu berang dengan hal ini. "Pencuri terkutuk!!, akankuikat dia kalau sampai kutangkap dengan tanganku sendiri." Begitu teriaksang tuan rumah. "Aku akan menangkap sendiri, biar rasakan pembalasanku."

Kedua anaknya, mulai ikut bicara. "Ayah, biarlah kami saja yang menangkap pencuri itu. Kami sudah cukup mampu melawannya. Kami sudah cukup besar,tentu, pencuri-pencuri itu akan takluk di tangan kami. "Ijinkan kami menangkapnya Ayah!"

Tak disangka, sang Ayah berpendapat lain. "Jangan. Kalian masih muda dan belum berpengalaman. Kalian masih belum mampu melawan mereka. Lihat tangan kalian, masih tak cukup kuat untuk menahan pukulan. Ilmu silat kalian masih sedikit. Kalian lebih baik tinggal saja di rumah. Biar aku saja yang menangkap mereka." Mendengar perintah itu, kedua anaknya hanya mampu terdiam.

Penjagaan memang diperketat, namun, tetap saja keluarga itu kecurian. Sang Ayah masih saja belum mampu menangkap pencurinya. Malah, kini hewan ternak yang mulai di ambil. Ia sangat putus asa dengan hal ini. Dengan berat hati,di datangilah Kepala Desa untuk minta petunjuk tentang masalah yang dialaminya.

Diceritakannya semua kejadian pencurian itu.Kepala Desa mendengarkan dengan cermat. Ia hanya berkata, "Mengapa tak biarkan kedua anakmu yang menjaga lumbung? Mengapa kau biarkan semua keinginan mereka tak kau penuhi? Ketahuilah, wahai orang yang sombong,sesungguhnya, engkau adalah "pencuri" harapan-harapan anakmu itu. Engkau tak lebih baik dari pencuri-pencuri hartamu. Sebab, engkau tak hanya mencuri harta, tapi juga mencuri impian-impian, dan semua kemampuan anak-anakmu.Biarkan mereka yang menjaganya, dan kau cukup sebagai pengawas."

Mendengar kata-kata itu, sang Ayah mulai sadar. Pada esok malam,diijinkanlah kedua anaknya untuk ikut menjaga lumbung. Dan tak berapa malam kemudian, ditangkaplah pencuri-pencuri itu, yang ternyata adalah penjaga lumbung mereka sendiri.

Teman, pernahkan Anda bertanya kepada anak kecil tentang cita-cita danharapan mereka? Ya, bisa jadi kita akan mendapat beragam jawaban. Suatu ketika mereka akan menjadi pilot, dan ketika lain mereka memilih untukmenjadi dokter. Suatu saat mereka akan mengatakan ingin bisa terbang, dan saat lain berteriak ingin dapat berenang seperti ikan. Walaupun pada akhirnya kita tahu hanya ada satu jawaban kelak, namun, pantaskah jika kita melarang mereka semua untuk punya harapan dan impian?

Begitulah, seperti halnya dalam cerita diatas, ada banyak pencuri-pencuri impian yang berkeliaran di sekitar kita. Mereka, mencuri semua impian, dan merampas harapan-harapan yang kita lambungkan. Mereka, selalu menghadang setiap langkah kita untuk mencapai tujuan-tujuan hidup.

Bisa jadi, pencuri-pencuri itu bisa hadir dalam bentuk orangtua, teman,saudara, atau bahkan rekan kerja. Namun, yang sering terjadi adalah, kita sendirilah pencuri harapan dan impian itu. Kita sendirilah pencuri yang paling besar menghadang setiap langkah. Kita sering temukan dalam diri,perasaan takut, ragu, dan bimbang dalam melangkah.

Terlalu sering kita mendengarkan suara kecil yang mengatakan, "Saya tidak bisa, saya tidak mampu." Atau, sering kita berucap, "Sepertinya, saya tak akan mungkin mengatasinya." "jangan, jangan lakukan ini sekarang, lakukan ini nanti saja.Terus seperti itu.

Kegagalan, sering kita jadikan peniadaan dalam melangkah.

Namun, teman, seringkali bisa keliru. Kegagalan, adalah sebuah cara Allah SWT untuk menunjukkan kepada kita tentang arti kesungguhan. Kegagalan, adalah pertanda tentang sebuah usaha yang tak akan berakhir.

Kegagalan, adalah sebuah pelajaran tentang bagaimana meraih semua harapan yang terlewat.Memang, tak ada kesuksesan yang diraih dalam semalam. Karena itu, yakinlah,dengan kesabaran kita akan dapat meraih semua harapan dan impian.

Maka,yakinlah dengan semua impian kita. Jika kita mampu, dan nurani kita mengatakan setuju, jangan biarkan orang lain mencuri impian itu--terutama oleh diri kita sendiri.

Dan teman, jangan jadikan diri kita pencuri-pencuri impian orang lain.Yakinlah dengan itu semua, sebab Allah SWT selalu akan bersama kita.

Si Kikir Dan Malaikat Maut


Setelah bekerja keras, berdagang dan menjadi rentenir, si kikir telah menumpuk harta, tiga ratus ribu dinar. Ia memiliki tanah luas, beberapa gedung, dan segala macam harta benda. Kemudian ia memutuskan untuk beristirahat selama satu tahun, hidup nyaman, dan kemudian menentukan tentang masa depannya.

Tetapi, segera setelah ia berhenti mengumpulkan uang, Malaikat Maut muncul di hadapannya untuk mencabut nyawanya.

Si kikir pun berusaha dengan segala daya upaya agar Malaikat Maut itu tidak jadi menjalankan tugasnya. Si kikir berkata, "Bantulah aku, barang tiga hari saja. Maka aku akan memberimu sepertiga hartaku."

Malaikat Maut menolak, dan mulai menarik nyawa si kikir. Kemudian si kikir memohon lagi, "Jika engkau membolehkan aku tinggal dua hari saja, akan kuberi engkau dua ratus ribu dinar dari gudangku."

Tetapi Malaikat Maut pantang menyerah dan tak mau mendengarkannya. Bahkan ia menolak memberi tambahan satu hari demi tiga ratus ribu dinar dari si Kikir.

Akhirnya si kikir menulis berkata, "Kalau begitu, tolong beri aku waktu untuk menulis sebentar."

Kali ini Malaikat Maut mengijinkannya, dan si kikir menulis dengan darahnya sendiri:

"Wahai manusia, manfaatkanlah hidupmu. Aku tidak dapat membelinya dengan tiga ratus ribu dinar. Pastikan engkau menyadari nilai dari waktu yang engkau miliki."

Jumat, 15 Februari 2008

Ayahku Penjual "Martabak Telur"


Ada seorang pria tua menjual martabak telur dipinggir jalan kota Medan, banyak para pembeli mengatakan bahwa martabak telur yang dijualnya sangat enak. Dia membuat sebuah papan iklan yang mempromosikan bagaimana enaknya rasa martabak telur yang dia jual, dia berdiri dipinggir jalan raya dan berteriak "bapak..ibu...belilah martabak telurku ini"...sambil memelas-melas kepada setiap orang yang hilir mudik disepanjang jalan itu.

Kemudian orang-orangpun berdatangan membeli martabak telurnya. Karena banyak yang terjual maka laki-laki tua itu meningkatkan pembelian daging dan menteganya. Dia membeli kompor yang lebih besar sehingga dapat memenuhi kebutuhan pelanggan-pelanggannya. Untuk meningkatkan usahanya dia meminta anaknya yang lulusan dari perguruan tinggi swasta ternama di Yogyakarta untuk membantunya dalam menjalankan bisnis keluarga. Walaupun dari universitas ternama selama setahun sang anak ini mencari pekerjaan dari satu kantor ke kantor lain namun selalu tidak pernah diterima untuk bekerja.

Ketika ayah dan ibunya bertanya tentang hal itu dia selalu menjawab bahwa mencari pekerjaan sekarang ini sulit untuk didapat karena perekonomi Indonesia saat ini sedang memburuk. Sebenarnya dia gengsi ketika mendapat panggilan dari ayahnya untuk pulang ke Medan membantu bisnis ayahnya yaitu "menjual martabak telur" dipinggir jalan. Tetapi karena ayahnya memanggil untuk pulang kampung dan merasa dirinya menjadi anak yang shaleh, diapun beberapa kali datang ke Medan. Sang anak menganalisis semua aspek-aspek bisnis yang ada baik yang makro maupun yang mikro.

Setelah selesai menganalisis lalu sang anak berkata "Ayah.. apa ayah tidak melihat berita di TV atau membaca di koran mengenai apa yang sedang terjadi ?? Apakah ayah tidak menyadari bahwa Indonesia saat ini dalam kondisi krisis moneter ? lihat saja ayah.. harga kebutuhan pokok pada naik, minyak tanah sulit didapat, palagi gas dan harga bahan bakar minyak (BBM) untuk kenderaan naik hampir dua kali lipat, lalu listrik sering-sering padam terus kenaikan tarif listrik meningkat 90 persen, ditambah lagi perekonomian jepang sedang tidak stabil.

Pasti hal itu berdampak buruk dan akan mempengaruhi bisnis martabak kita ini. Kalau keadaan ekonomi memburuk,orang-orang akan mengurangi pengeluarannya untuk membeli. martabak telur ayah dan pasti akan mengalami penurunan penjualan. Ayah harus mengurangi berbagai high cost agar martabak telur yang ayah buat ini tidak terlalu mahal untuk dijual !!!.

Sang ayahpun berpikir sambil berjalan bolak-balik kesana-kemari " terngiang-ngiang didalam fikirannya bahwa anakku ini adalah anak yang pintar dia lulusan dari universitas ternama maka dia pasti mengerti apa yang aku rencanakan. Kemudian sang ayah mulai mengurangi pembelian daging dan rotinya, menurunkan papan promosinya dan tidak lagi berdiri dipinggir jalan untuk menawarkan martabak telurnya.

Penjualanpun menurun dalam waktu cepat, iapun berkata sambil menangis terisak-isak kamu benar anakku kita memang dalam masa krisis moneter dan resesi yang serius, kita harus bersabar karena sabar dan rendah hati adalah kunci dari keberhasilan"

Succes is my right.. silakan E-mail ini kirimkan ke banyak orang.

Regards,
Eddy Miraddy
member of PWS Medan

Selasa, 12 Februari 2008

Sinar Cahaya Ayat Qursi


Dalam sebuah hadis, ada menyebut perihal seekor syaitan yang duduk di atas pintu rumah. Tugasnya ialah untuk menanam keraguan di hati suami terhadap kesetiaan isteri di rumah dan keraguan di hati isteri terhadap kejujuran suami di luar rumah. Sebab itulah Rasulullah tidak akan masuk rumah sehingga Baginda mendengar jawaban salam dari isterinya. Di saat itu syaitan akan lari bersama-sama dengan salam itu.

Hikmat Ayat Al-Kursi mengikut Hadis-hadis:

Barang siapa membaca ayat Al-Kursi bila berbaring di tempat tidurnya, Allah SWT mewakilkan dua orang Malaikat memeliharanya hingga subuh.

Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir setiap sembahyang Fardhu, dia akan berada dalam lindungan Allah SWT hingga sembahyang yang lain.

Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir tiap sembahyang, dia akan masuk syurga dan barang siapa membacanya ketika hendak tidur, Allah SWT akan memelihara rumahnya dan rumah-rumah disekitarnya.

Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir tiap-tiap shalat fardhu, Allah SWT menganugerahkan ia setiap hati orang yang bersyukur, setiap perbuatan orang yang benar, pahala nabi2, serta Allah melimpahkan rahmat padanya.

Barang siapa membaca ayat Al-Kursi sebelum keluar rumahnya, maka Allah SWT mengutuskan 70,000 Malaikat kepadanya -mereka semua memohon keampunan dan mendoakan baginya.

Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir sembahyang, Allah SWT akan mengendalikan pengambilan rohnya dan dia adalah seperti orang yang berperang bersama Nabi Allah sehingga mati syahid.

Barang siapa yang membaca ayat Al-Kursi ketika dalam kesempitan niscaya Allah SWT berkenan memberi pertolongan kepadanya.

Dari Abdullah bin 'Amr r.a., Rasulullah S.A.W. bersabda, "Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat...",

"Utamakan SELAMAT dan SEHAT untuk Dunia-mu, utamakan SHOLAT danZAKAT untuk Ak hirat-mu" Subhanallah...

Kiriman dari Djodi

Burung Pelican


Selama bertahun-tahun di Monterey , California merupakan surga bagi burung-burung pelikan, sebab di kota ini ada banyak pabrik pengalengan ikan. Burung-burung pelikan menyukai kota ini karena saat para nelayan membersihkan tangkapan mereka dan memisahkan yang kurang bagus maka burung-burung pelikan segera berdatangan berebut makanan mereka.

Di Monterey ini burung-burung pelikan hidup enak tanpa harus bekerja keras untuk mendapatkan makanannya.

Seiring waktu berlalu, ikan-ikan di pantai California mulai berkurang dan satu demi satu pabrik pengalengan ikan ditutup. Itulah saatnya burung-burung pelikan mendapatkan masalah. Seperti yang kita tahu, burung-burung pelikan adalah pemancing alami yang hebat, mereka terbang berkelompok diatas gelombang laut, dan ketika mereka melihat ikan, mereka menyelam ke dalam air dan menyekop tangkapan mereka dengan paruhnya yang lebar.

Burung-burung pelikan yang ada di Monterey tidak pernah berburu selama bertahun-tahun, mereka telah menjadi gemuk dan malas.Kini makanan mereka telah lenyap dan mereka menderita kelaparan.

Para ahli lingkungan hidup di wilayah tersebut berpikir keras untuk menemukan cara menolong burung-burung pelikan itu, dan akhirnya mereka bersepakat dengan satu solusi. Mereka mendatangkan burung-burung pelikan dari wilayah lainnya, yang telah mereka teliti setiap hari, dan mereka mencampurnya dengan burung-burung pelikan lokal.

Para Pelican pendatang baru segera mulai memancing makanan mereka, dan tak lama kemudian burung-burung lokal yang kelaparan bergabung dengan mereka dan mulai memancing makanan mereka sendiri lagi.

Renungan :
~Disaat kita lemah, disaat kemampuan kita tidak terasah dengan baik, maka sangat bijak kalo kita memulai dengan mencontoh orang sukses. Karena kadang kala semangat dan motivasi yang dihadirkan oleh orang-orang sukses sangat berguna untuk memunculkan keistimewaan kita. Jangan pernah malu untuk belajar, dan ingatlah setiap orang memiliki kemampuan untuk sukses, hanya cara dan usaha yang membedakan kita apakah akan menjadi orang gagal ataupun sukses~


Kisah sebuah kebenaran


Pada zaman dahulu, ada seorang pedagang yang mempunyai seorang istri jelitadan seorang anak laki-laki yang sangat dicintainya. Suatu hari istrinya jatuh sakit dan tak berapa lama meninggal. Betapa pedihnya hati pria tersebut. Sepeninggal istrinya, dia mencurahkan segenap perhatian dan kasih sayangnya kepada anaklaki-laki semata wayangnya. Suatu ketika pedagang tersebut pergi ke luarkota untuk berdagang; anaknya ditinggal di rumah.

Sekawanan bandit datang merampok desa tempat tinggal mereka. Para penjarah ini merampok habis harta benda, membakar rumah-rumah, dan bahkan menghabisi hidup penduduk yang mencoba melawan; rumah sang pedagang pun tak luput dar isasaran. Mereka bahkan menculik anak laki-laki sang pedagang untuk dijadikan budak.

Betapa terperanjatnya sang pedagang ketika ia pulang dan mendapati rumahnya sudah jadi tumpukan arang. Dengan gundah hati, ia mencari-cari anak tunggalnya yang hilang. Ia menjadi frustrasi ketika mendapati banyak tetangganya yang terbantai dan mati terbakar. Di tengah kepedihan dan keputusasaan, ia menemukan seonggok belulang dan abu di sekitar rumahnya, didekat tumpukan abu itu tergolek mainan kayu kesayangan anaknya. Yakinlah sudah ia bahwa itu adalah abu jasad anaknya. Meledaklah raung tangisnya. ia menggelepar-gelepar di tanah sembari meraupi abu jasad itu ke wajahnya.Satu-satunya sumber kebahagiaan hidupnya telah terenggut..

Semenjak itu, pria tersebut selalu membawa-bawa abu anaknya dalam sebuah tas. Sampai setahun setelah itu ia suka mengucilkan diri, tenggelam dalam tangis sampai berjam-jam lamanya; kadang orang melihat ia tertawa sendiri,mungkin kala itu ia teringat masa-masa bahagia bersama keluarganya. Ia terus larut dalam kesedihan tak terperikan..

Musim berlalu. sang anak akhirnya berhasil meloloskan diri dari cengkeraman para penculiknya. Ia bergegas pulang ke kampung halamannya. Sesampai dikediaman ayahnya, ia mengetuk pintu rumah sembari berteriak senang, "Ayah,ini aku pulang!"

Sang ayah yang waktu itu lagi tertidur di ranjangnya, terbangun mendengar suara itu. Ia berpikir, "Ini pasti ulah anak-anak nakal yang suka meledekku itu!

Pergi! Jangan main-main!"

Mendengar sahutan itu, sang anak kembali berteriak, "Ayah! Ini aku, anakmu!"

Dari dalam rumah terdengar lagi, "Jangan ganggu aku terus! Pergi kamu!"

Sang anak menggedor pintu dan berteriak lebih lantang, "Buka pintu ayah! Ini betul anakmu!"

Mereka saling bersahutan. sang ayah terus bersikeras tidak membuka pintu.

Sang anak pun akhirnya putus asa dan berlalu dari rumah itu..

Renungan :
Sebagian orang begitu erat memegang apa yang mereka ANGGAP sebagai kebenaran. Ketika Kebenaran Sejati betul-betul datang, belum tentu mereka membuka pintu hati mereka.


Senin, 11 Februari 2008

Kisah sikat gigi yang setia

"Jika hidup bisa mulia, mati harus lebih mulia"

Dikisahkan ada persahabatan abadi antara si mulut dan si sikat gigi. Mereka ini sahabat sejati. Saking dekatnya persahabatan mereka, mereka bisa bertemu sampai 3 kali sehari, min 2x sehari. Si sikat gigi adalah pribadi yang paling setia. Pekerjaannya ialah melayani si mulut. Si sikat gigi membersihkan si mulut supaya si mulut selalu tampil prima, sehat dan menawan.

Itulah pelayanan si sikat gigi kepada temannya itu si mulut. Si mulut tipe pribadi yang agak egois dan arogan. Suatu ketika, si mulut mulai berubah. Ia kini jarang menemui temannya si sikat gigi. Si mulut sudah punya teman baru, sahabat baru. Sahabat barunya adalah: si rokok, si permen, si gosip, si mimpi cepat kaya dan si malas. Ke lima sahabat barunya itu kini telah banyak menyita persahabatan si mulut dengan si sikat gigi. Si sikat gigipun hanya bisa bersedih hati, tidak bisa berbuat apa-apa.

Suatu hari, si mulut sakit giginya dan tidak menghiraukannya. Badannya yang lain ikut sakit dan meninggal. Si sikat gigi kini sebatang kara. Saudara-saudaranya si mulut merasa, segalanya sudah berakhir.

Mereka kini tidak memerlukan lagi dengan si sikat gigi. Si sikat gigipun dipatahkan dan dibuang ke tempat sampah, matilah ia. 10 th kemudian, si mulut menjadi tanah, begitu juga si sikat gigi. Ketika itulah mereka berjumpa lagi sebagai tanah.

Ketika si mulut melihat sahabat lamanya si sikat gigi datang, ia pun gembira setengah mati. Ia sambut dan peluk teman lamanya itu. Mereka saling bertukar pengalaman selama ini, sudah lama sekali mereka tidak berjumpa.

Si mulut menyesali perbuatannya dengan sahabat-sahabat yang salah. Ia baru tersadar, bahwa si sikat gigilah sahabat terbaiknya, bukan si rokok dsb. Iapun meminta semua saudara-saudaranya yang lain, si mata, si hidung, si telinga, si tangan, si kaki, semuanya, untuk berteman dengan si sikat gigi. Si sikat gigipun dengan kerendahan hatinya menerima persahabatan total itu dan mereka hidup bersama selamanya.

Suatu ketika, malaikat mengadili setiap perbuatan si mulut dan si sikat gigi. Setelah ditimbang-timbang, ternyata pahala si sikat gigi lebih banyak dari si mulut dalam hubungan persahabatan itu. Si sikat gigi tidak pernah mengeluh membersihkan yang kotor-kotor setiap hari, kena bau mulut, mengharumkan si mulut dan merawat si mulut dengan penuh setia. Si sikat gigipun dianugerahi bintang jasa oleh si Malaikat.

Si sikat gigi kinipun mendapat tugas baru yang lebih berkelas, lebih bergengsi, merawat semua gigi-gigi para Malaikat yang jumlahnya ribuan. Si mulut tidak mendapatkan kenikmatan dan kehormatan seperti si sikat gigi. Tetapi mereka tetap terus bersahabat. Si sikat gigi kini jadi Kepala Rumah Tangga Sorga. Tugasnya melayani para Malaikat. Ia dapat promosi bahkan sampai di Sorga.

Apa lesson learnt dari kisah ini?

Love, sacrifice, service excellence, loyalty, team work, faithfullness, and peace . . . . .

"Kaya bukan tujuan akhir, melainkan hidup mulia"

Source :
Harry 'uncommon' Purnama

Kisah Papan Nama Penjual


Seseorang mulai berjualan ikan segar dipasar. Ia memasang papan pengumuman bertuliskan "Di sini Jual Ikan Segar"

Tidak lama kemudian datanglah seorang pengunjung yang menanyakan tentang tulisannya."Mengapa kau tuliskan kata :DISINI ?
Bukankah semua orang sudah tahu kalau kau berjualan DISINI, bukan DISANA?"

"Benar juga!" pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata "DISINI" dan tinggallah tulisan "JUAL IKAN SEGAR".

Tidak lama kemudian datang pengunjung kedua yang juga menanyakan tulisannya."Mengapa kau pakai kata SEGAR ? Bukankah semua orang sudah tahu kalauyang kau jual adalah ikan segar, bukan ikan busuk?

"Benar juga" pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata "SEGAR" dan tinggallah tulisan "JUAL IKAN"

Sesaat kemudian datanglah pengunjung ke tiga yang juga menanyakan tulisannya : "Mengapa kau tulis kata JUAL? Bukankah semua orang sudah tahu kalau ikan ini untuk dijual, bukan dipamerkan?

Benar juga pikir si penjual ikan,, lalu dihapusnya kata JUAL dan tinggallah tulisan "IKAN"

Selang beberapa waktu kemudian, datang pengunjung ke 4, yang jugamenanyakan tulisannya : "Mengapa kau tulis kata IKAN?, bukankah semua orang sudah tahu kalau ini Ikan bukan Daging?"

Benar juga" pikir sipenjual ikan, lalu diturunkannya papan pengumuman itu.

Renungan:
Bila kita ingin memuaskan semua orang, kita takkan mendapatkan apa-apa!

Jumat, 01 Februari 2008

Belajar Dari Penjual Koran


" Memberikan pelayanan lebih dari hal yang diharapkan pelanggan merupakan kunci sukses suatu interaksi atau bisnis."

Seperti biasanya pagi hari saat perjalanan menuju kantor dari daerah rumah di kawasan Johor - Medan , saya selalu mencari koran nasional yang juga terbit di Medan.

Biasanya saya beli dari pengecer di daerah lampu merah Simpang Titi Kuning ( Deli Tua ) kearah Tanjung Morawa Medan , bukannya ngga mau berlangganan ke agen koran yang note bene harganya lebih murah , namun pelayanan serta service yang diberikan si pengecer koran membuat saya tidak bisa berpaling hati darinya.

Seperti kebiasaannya yang sudah - sudah , ia selalu hapal nomor polisi , serta kebiasaan antri mobil saya di lajur 2 lampu merah.

"Selamat pagi Pak , ini korannya" sementara ia sigap melihat uang yang saya sodorkan , untuk segera memberi kembalian sesuai dengan jumlah yang harus diberikannya , tidak lupa dia kemudian berkeliling mobil saya dan segera menginformasikan kalau ada yang kurang beres , ban yang agak kempes atau lampu rem yang cuma menyala sebelah.

Sangat hebat untuk seorang pengecer koran di lampu merah.Namun pagi hari ini sangat luar biasa sekali , setelah memberikan kembalian pembayaran dari saya , dia langsung lari kepinggir jalan , kemudian dia kembali lagi membawa karung kecil.

" Pak , ini untuk Bapak dan keluarga dirumah , rambutan di kebun saya di Binjai sedang panen ", katanya sambil tersenyum. Agak terperanjat saya mendengarnya , lalu dia berkata lagi " Semua pelanggan saya juga kebagian kok " katanya sambil menunjuk tumpukan karung buah rambutan yang ia tumpuk dipinggir jalan.

Belum lagi saya mengucapkan terimakasih karena masih terbengong - bengong , dia sudah menyambut pelanggan lain dan melakukan lagi hal yang sama seperti diatas.

Dari penjual koran eceran di lampu merah kota Medan , saya mendapatkan ilmu luar biasa tentang Customer Satisfaction dan Marketing , yang mungkin secara teori otak kita sudah dapat banyak mendapat pelatihan , training , seminar serta gathering tentang CS , sementara hati kita belum juga bergerak melaksanakannya.

Itulah sebabnya untuk berlangganan koran saya belum berpaling ke lain hati.


Lihat artikel di : http://www.andriewongso.com/
Regards,

DJODI ISMANTO
Mitsubishi Motors - Group Sumatra Berlian
From nice city of Medan

Kelelawar


Perang meletus di planet ini! Bukan perang Baratayuda! Bukan pula perang Teluk! Perang itu terjadi antara bangsa burung melawan bangsa binatang buas.Saat pertempuran fajar hari itu, burung-burung nyaris kalah.

Lalu kelelawar melihat gelagat bahwa mereka akan kalah total. Ia menjauh dan bersembunyi dibalik pohon, dan berdiam diri hingga pertempuran itu berakhir.Lalu binatang-binatang buas meninggalkan medan pertempuran, dan kelelawar ikut bergabung bersama mereka! Setelah beberapa saat para binatang buas itu saling bertanya, "Lho, bukankah kelelawar itu termasuk burung yang bertempur melawan kita?"

Percakapan itu didengar kelelawar, ia pun berkata, "Oh, tidak. Aku termasuk bangsa kalian. Aku bukan bangsa burung. Apa kalian pernah melihat burung bergigi ganda? Kalian bisa periksa mulut burung-burung itu, pasti tidak adayang bergigi ganda. Kalau kalian bisa menemukan seekor burung saja yangbergigi ganda, maka aku boleh kalian tuduh sebagai burung. Tapi, kalau tidak, itu artinya aku adalah sebangsa dengan kalian, binatang buas!"

Binatang-binatang buas terdiam. Dibiarkanlah kelelawar hidup di perkampunganmereka. Perang sempat jeda, sampai akhirnya tiba-tiba bangsa burung menyerbu perkampungan binatang buas. Binatang-binatang buas itu kalang kabut.Pertempuran itu berlangsung tak lama.

Kelelawar hanya menyaksikan pertempuran itu dari balik ranting-ranting pohon. Berakhirlah perang itu dengan kemenangan bangsa burung! Dan, kelelawar ikut pulang ke perkampungan bangsa burung. Saat para burung melihatnya, mereka menegur kelelawar, "Hai,kamu itu musuh kami. Kami melihat engkau bersama binatang buas itu dan ikut melawan kami!"

"Tidak, kalian salah lihat!" kelelawar mengelak. "Aku ini bangsa kalian. Apa kalian buta dengan mengatakan aku sebagai binatang buas? Apakah kalian pernah melihat seekor binatang buas memiliki sayap?

Temukan seekor yang bersayap, baru kalian bisa tuduh aku si binatang buas!" gertak kelelawar.Burung-burung tak lagi berkicau, mereka diam dan membiarkan kelelawar
membuat sarangnya berdampingan dengan mereka.

Tak ada perang yang tak berakhir! Pepatah itu ternyata berlaku untuk keduabangsa binatang itu. Mereka berdamai dan sepakat mendirikan Persatuan Bangsa Binatang. Dalam sidang perdana PBB itu, mereka gunakan untuk membahas kelelawar. Setelah sekian banyak prajurit memberikan kesaksian, maka pimpinan sidang PBB berkesimpulan: "Jadi, kelelawar itu selalu berpindah-pindah pihak selama peperangan berlangsung? Siasat kelelawar itu benar-benar menunjukkan bahwa dia itu cacat moral, tercela sebagai binatang.Kelelawar tidak memiliki integritas!"

Sidang PBB pun menjatuhkan vonis kepada kelelawar, "Hai, kelelawar, kami akan kenakan sanksi embargo kepadamu! Mulai sekarang kamu hanya boleh terbang pada malam hari. Kamu tidak akan pernah mempunyai teman, baik mereka yang terbang maupun yang berjalan!"Kelelawar pun tertunduk lesu meratapi nasibnya. Ia tidak pernah menyadar ibahwa integritas itu merupakan kekayaan yang bisa dipakai untuk mengatasi kesulitan hidup ini.

Integritas merupakan kekayaan yang bisa dipakai untuk mengatasi kesulitan hidup ini.