Menu Baru Web PWS Medan

Bergabunglah dengan Paguyuban Wargi Sunda versi FaceBook , dapatkan info PWS terbaru , Jangan lupa DOWNLOAD File berbentuk Powerpoint ( pps ) dari web ini , dan semuanya tentu saja Gratis untuk anggota dan pembaca setia Web PWS - Medan , Haturnuhun
Myspace tweaks at TweakYourPage.com

Jumat, 30 Mei 2008

HARTA YANG DIBAWA MATI


Suatu ketika malaikat El-maut pencabut nyawa mendatangi seorang pria kaya raya yang sedang dalam keadaan sekarat.
Pria tersebut si Kabayan , sangat sedih karena sepanjang hidupnya ia telah bekerja keras mengumpulkan harta namun kini ia harus meninggalkan semua itu. Lalu, ia memohon agar dalam kematiannya ia dibolehkan membawa serta harta kekayaannya ke alam baka.

Malaikat El-maut mendengar permohonan itu dan menjawab,
"Maaf, sesuai aturan Kabayan , anda tak diperkenankan membawa harta sekeping pun."

Kabayan kembali memohon dengan sangat agar malaikat El-maut bersedia berbicara pada Tuhan kalau-kalau permohonannya dikabulkan. Tak kenal gigih,Kabayan terus berdoa agar diperkenankan membawa serta hartanya ke alam baka.

Akhirnya malaikat El-maut meneruskan permohonan si Kabayan tersebut kepadaTuhan, dan ternyata doanya terkabulkan.

"Tuhan telah memutuskan untuk mengabulkan permohonanmu, tetapi kau hanya diperbolehkan membawa satu koper saja. Tak boleh lebih," demikian kata malaikat El-maut.

Betapa gembiranya Kabayan , lalu bergegas ia mengambil koper terbesar yang dimilikinya dan memenuhinya dengan batangan emas murni. Kemudian diletakkannya di sisi tempat tidurnya. Ia pun meninggal dengan rasa puas.

Setibanya di pintu surga, Kabayan bertemu dengan malaikat penjaga surga yang serta-merta menahannya.
"Hey, berhenti di situ. Kau tidak boleh membawa koper itu ke dalam surga!"

Lalu Kabayan menjelaskan bahwa ia telah mendapat ijin dari Tuhan dan menyilakan malaikat penjaga surga menanyakannya pada Tuhan. Malaikat penjaga surga pun menemui Tuhan untuk mengecek kebenaran cerita si Kabayan.

Setelah yakin, malaikat penjaga surga kembali pada Kabayan dan berkata,
"Ternyata benar Kabayan , kau hanya diijinkan membawa satu koper saja. Tapi saya harus memeriksa isi koper itu sebelum membolehkan kau masuk."

Kabayan menyerahkan kopernya, sambil berkata,
"Mohon berhati-hati, itu adalah barang paling berharga yang aku miliki".

Begitu malaikat penjaga surga membuka dan memeriksa isinya, malaikat malah tertawa terbahak-bahak,

"Ha..ha..ha..kau sebut ini berharga?
Tahukah kau Kabayan , emas batangan yang kau bawa itu di akhirat sini hanya dipakai untuk pembatas jalan setapak !!!"

Pojok Renungan:
Seberapa pun banyak dan berharganya kekayaan yang anda kumpulkan di dunia ,tak dapat anda bayangkan nilainya di akhirat kelak.
Bisa jadi itu sama sekali tak berharga.

Kamis, 29 Mei 2008

PERSEMBUNYIAN HAKIKAT DIRI MANUSIA


Pada suatu hari Tuhan mengumpulkan seluruh binatang di penjuru bumi dan berkata,

"Aku bermaksud menyembunyikan sesuatu dari manusia sampai mereka siap untuk mengetahuinya."

Para binatang itu bertanya-tanya keheranan,
"Apakah itu, wahai Yang Maha Pencipta?"

Tuhan menjawab, "Pengetahuan atas hakikat diri mereka"

Kata Elang, "Berikan pada hamba, hamba akan menerbangkannya ke bulan"

Jawab Tuhan, "Jangan. Suatu hari mereka akan pergi ke sana dan menemukannya."

Kata Ikan Paus, "Biarkan hamba yang menyembunyikan jauh di dasar lautan."

Jawab Tuhan, "Jangan. Suatu saat mereka akan pergi ke sana pula."

Kata Banteng, "Kalau begitu hamba akan menguburkan di padang rumput."

Jawab Tuhan,"Tidak. Mereka akan membabat padang rumput dan menemukannya."

Akhirnya seekor Tikus Sawah yang selamanya hidup di perut bumi,berpenglihatan rabun, namun dapat melihat dengan jelas melalui mata hatinya,berkata,
"Sembunyikan saja di dalam diri mereka sendiri."
Dan Tuhan pun berkata, "Ya! Sudah Aku lakukan!"

Pesan Moral :
Jika demikian kemana lagi kita akan mencari pemahaman atas hakikat diri manusia selain menengok ke dalam diri kita sendiri?

CEULEUKEUTEUK


DIBUNGBUAN

Beurit 1: "Peuting mah kuring disuguhan ku manusa. Sangu pulen, hayam jeujeut, jaba dibungbuan. Tapi, ah teu didahar!"

Beurit 2: "Bodo maneh mah!"

Beurit 1: "Matak teu didahar ge ku sabab kuring pinter. Heueuh sangu jeung dagingna mah lezat, ngan eta bungbuna ..."

Beurit 2: "Naon bungbuna?"

Beurit 1: "Racun beurit!"


MI INSTANT

Nuryani carang iinditan numpak mobil.
Hiji poé ku Winarni diajakan ka dayeuh numpak beus regulér antar kota anu heurin hésé hitut-hitut acan.

Ditengah perjalanan hujan turun, kapaksa jandéla ditutup. Teu kungsi lila... sekh, pelengseng bau hitut mani puleeeen téh.

Digigireun Nuryani aya budak ngora tapi sigana mah lolong da maké kaca mata hideung.

“
Dari jenis baunya saya bisa menentukan, bahwa sipelaku sedang nyeri beuteung sanggeus
sarapan jéngkol nu loba teuing
“.

Atuh kontan Nuryani seueul hayang utah, tapi jandéla beus narutup da hujan, nya kapaksa ditahan-tahan sabisana.

Teu kungsi lila beus nepi ka hiji terminal, reg eureun. Nuryani teu miceun kasempetan deui, langsung muka jandéla, oroloooo..... mani paranjang siga cacing, éh ké heula lain cacing gening, tapi emi instant urut sarapan tadi isuk.

“ Ampuuuunn... Gusti...., béak dagangan aing ..........! “, sora nu ngajerit diluareun beus.
Panasaran ditingali ku Winarni. Euleuh-euleuh tukang leupeut nu kabagian rezeki téh, dina nyiruna mani pinuh ku emi !


Abah Tea

Durian Manis dan Durian Tanpa Rasa


Dua orang sedang melewati sebuah rumah yang memiliki kebun besar di depannya. Salah satu pohon di depan rumah tersebut adalah sebuah pohon durian.

Saat itu sedang musim durian sehingga kebetulan pohon tersebut sedang berbuah. Mereka berdua melihat beberapa durian yang sudah terlihat matang di pohon.

Salah seorang dari mereka si Kabayan mengatakan bahwa durian tersebut pasti manis. Sementara temannya Ujang mengatakan bahwa durian tersebut tidak ada rasanya.
Mengapa bisa berbeda?

“Mengapa kamu mengatakan bahwa durian tersebut tanpa rasa?” tanya Kabayan kepada Ujang.

Sambil tersenyum Ujang menjawab, “Mata tidak bisa merasakan manis atau pahit. Jadi durian tersebut tidak punya rasa karena hanya bisa dilihat.”

“Kacian deh loe!”, ejek Kabayan sambil tertawa.

“Memang kamu bisa memakan durian itu?” kata si Ujang balik menyerang.

“Kenapa tidak?” jawab Kabayan sambil tersenyum yakin.

“Kamu mau mencurinya?
Yang punya rumah ini galak.
Kalau ketahuan bisa bahaya
!” kata Ujang.

“Siapa bilang mau mencuri? Saya akan mendapatkan durian itu tanpa mencuri.” bela Kabayan dengan yakin.

“Bagaimana mungkin? Memang kamu punya uang untuk membelinya?” tanya Ujang.

“Tidak juga, tetapi saya punya ini dan ini.” kata si Kabayan sambil menunjukan kepala dan otot bisepnya.

Ujang pun menantang, “Mari kita buktikan.”

Kemudian Kabayan menuju pintu pagar kebun tersebut dan memijit bel.
Pemilik rumah pun keluar dan bertanya kepada nya.
“Aya naon Kabayan ?”

“Apakah bapak perlu bantuan untuk membersihkan kebun Pak? Kami berdua siap membantu bapak.” kata Kabayan sambil melirik temannya Ujang.

Ujang pun seperti dihipnotis langsung mengangguk.

“Oh begitu!”, kata pemilik rumah, “kamu mau apa sebagai upahnya?” lanjutnya.

“Cukup satu buah durian saja pak.” kata Kabayan sambil melihat sebuah durian yang terlihat sudah matang.

“Kalian kan berdua, nanti saya kasih dua buah, masing-masing satu. Asal kalian bekerja dengan baik.”

“Siap pak!” kata Kabayan sambil memberi hormat layaknya tentara disusul oleh si Ujang.

Singkat cerita pekerjaan pun beres.
Mereka berdua menikmati durian masing-masing.
Si Kabayan bertanya kepada Ujang.

“Kumaha rasanya durian kamu Jang ?”
“Manis, he he.” jawab si Ujang sambil tertawa.


Pesan moralnya?
Silahkan simpulkan sendiri.
Jika mau berbagi kesimpulan atas cerita ini silahkan tuliskan pada form komentar.





Rabu, 28 Mei 2008

Solusi Cerdas


Alkisah di sebuah hutan tampak seekor kera kecil sedang memanjat pohon, tiba-tiba datanglah Angin Utara dan Angin Selatan.

Angin Utara berkata :
" Lihatlah anak kera itu, marilah kita berlomba siapa yang dapat menjatuhkan anak kera itu dari pohon!"

"Oke mari kita coba!" Angin Selatan menjawab.

Angin Utara dengan kencangnya mulai meniup anak kera tersebut, kera kecil langsung berpegang erat di pohon tersebut sehingga sulit bagi sang Angin untuk menjatuhkannya.
Kini tiba giliran Angin Selatan, dengan pelannya ia meniup si kera tersebut.

"Ha..ha.. dengan angin kencang saja ia tidak bisa jatuh bagaimana dengan tiupan seperti itu" ejek Angin Utara.

Angin Selatan diam saja, ia terus meniup dengan angin sepoi-sepoi sehingga tampak anak kera tersebut menjadi mengantuk, dan tak lama kemudian si anak kera tersebut tertidur dan jatuhlah ia ke tanah.

" Terkadang kelembutan dan pendekatan justru lebih mampu memecahkan persoalan dibandingkan kekerasan "

Di Jawa Timur , kalau tidak salah dari pemberitaan salah satu station TV swasta diinformasikan adanya temuan alat yang bisa mengubah singkong menjadi bio etanol dengan biaya produksi cuma Rp. 3000 / liter , jadi hanya setengah harga premiun sekarang.

Alat itu berharga sekitar 2 jutaan , mudah dirakit dan dipasang pada tiap tiap keluarga dan , pada gambar tayangan TV terlihat proses mulai pencabutan singkong di kebun sampai ke pengisian bio etanol ke sebuah sepeda motor dan proses memasak menggunakan kompor.

Ini adalah salah satu solusi cerdas , katimbang demo dijalan , sweeping angkutan umum , bakar ban , menutup jalan sampai dengan bentrok dengan aparat.

Padahal penemunya ngga sekolah . . . dan nota bene secara teknologi dan secara intelektual lebih rendah dari mereka yang belajar di perguruan tinggi . . . . . .
Keadaan apa pun yang kita hadapi sebenarnya bersifat netral. Kita lah yang memberikan label positif atau negatif terhadapnya.
Seperti yang dikatakan filsuf bijak, ... ''Peristiwanya sendiri tidak penting, tapi respon terhadap peristiwa itu adalah segala-galanya.''

Selasa, 27 Mei 2008

Singa Yang Berpura-pura Sakit


Alkisah di sebuah hutan terdapat seekor singa yang sudah tua. Setiap hari ia kelaparan karena tak sanggup berlari kencang dan jauh. Ia selalu kehilangan mangsa.

Meskipun setiap binatang saling memangsa, tetapi mereka sepakat untuk saling menjenguk bila salah satu diantara mereka sedang sakit. Tak kurang akal, singa tua itu memanfaatkan kesepakatan para binatang untuk menjerat mangsa. Ia mengaku sakit pada setiap binatang yang melewati tempat tinggalnya, sambil berpura-pura lesu dan lemah.

Berita tentang kondisi singa yang sakit dengan segera menyebar ke seluruh penjuru hutan. Semua binatang bersimpati dan berniat mengunjungi singa tersebut. Satu demi satu dari mereka bergiliran mengunjungi si singa dan bekas jejak kaki mereka terlihat jelas di sepanjang jalan hingga di depan gua.

Kesempatan tersebut jelas tidak dilewatkan si singa. Ia selalu memangsa semua binatang yang mengunjungi dirinya satu demi satu. Tetapi seekor srigala mencium gelagat yang kurang baik saat dirinya hendak masuk gua untuk menjenguk si singa. Srigala itu mengurungkan niat untuk masuk dan hanya menyapa si singa dari luar.

"Hei, mengapa mesti di luar. Masuklah! Kita berbincang di dalam saja," kata singa
menawarkan.

"Ah tidak, terima kasih," tukas srigala itu lantang.

"Aku meragukan kata-katamu. Boleh dibilang aku tidak mempercayaimu. Aku yakin kamu tidak punya niat baik dan hanya ingin memangsa aku, karena di sini aku hanya melihat jejak langkah binatang-binatang yang lain masuk tapi tidak ada jejak langkah mereka keluar dari sini," ucap srigala kesal.

Srigala mencium gelagat buruk dari si singa. Kebohongan si singa terbongkar juga. Akibatnya, singa itu harus menanggung resiko atas kebohongan yang ia lakukan, yaitu tidak dipercaya lagi oleh semua binatang penghuni hutan.

Pesan:

Berdasarkan ilustrasi kejadian tersebut terungkap bahwa kejujuran bersifat krusial atau sangat penting dalam hidup ini. Satu kebohongan saja akan menginfeksi karakter seseorang. Kebohongan bukan hanya bentuk dosa itu sendiri, melainkan menginfeksi jiwa kita dengan dosa.

"False words are not only evil in themselves, but they infect the soul with evil," kata Socrates. Karena setiap kebohongan akan mendorong seseorang untuk terus menciptakan kebohongan lain untuk menutupi kebohongan yang sebelumnya.

Kebohongan adalah sumber kegelisahan, karena kalaupun kebohongan itu tidak terbongkar sudah pasti itu sangat menyiksa batin. Lalu seandainya kebohongan itu sampai terungkap, maka reputasi yang sudah dibangun selama puluhan tahun sekalipun kemungkinan akan hancur seketika.

Kebohongan menjadikan masalah kecil semakin rumit, dan hidup terasa penuh rintangan. Dengan kata lain, kebohongan adalah sumber malapetaka.

Sangat manusiawi jika masing-masing diantara kita pernah berbohong, entah dalam skala kecil, sedang, maupun besar. Tetapi mengingat dampak buruk yang dapat menyertai kebohongan yang sudah kita ciptakan, milikilah keberanian untuk memperbaiki diri dengan bersikap jujur.

Kita masih memiliki kesempatan yang begitu luas untuk lebih baik.

"No one has ever done anything too bad to be forgiven. -

Tak seorangpun melakukan kesalahan yang terlalu besar untuk dapat diperbaiki kembali," kata Ruth Sheppard.

Kita dapat senantiasa melatih dan meningkatkan kualitas kejujuran dari hal-hal sederhana, yang berkenaan dengan orang lain dan terutama terhadap diri sendiri serta segala aktifitas kehidupan kita.

Mungkin kita dapat memulainya dengan berusaha berkomunikasi dan berinteraksi secara jujur dan terbuka sejak saat ini apapun resikonya. Tingkatkan kualitas kejujuran terus menerus sampai kita dapat merasakan tak ada lagi kekurangan yang menghambat atau mengganggu sosialisasi diri.

Pada saat yang sama kita juga akan dapat merasakan bahwa kejujuran kita jauh lebih berharga dibandingkan segalanya.

"No legacy is so rich as honesty. - Tak ada harta yang begitu melimpah seperti kejujuran," William Shakespeare dalam karyanya yang berjudul All's Well that Ends Well.

Source :
Kang Andrew Ho

Manusia dalam cermin


Bertahun-tahun lalu ada seorang penjelajah yang pergi ke alam liar Afrika. Di antara berbagai bawaan, dia membawa dua buah cermin ukuran besar.

Ketika tiba penjelajah ini menaruh cermin ini pada dua pohon yang berhadapan kala dia sedang mempersiapkan penjelajahan. Lalu dia memperhatikan seorang penduduk asli datang menghampiri satu dari cermin itu dengan tombak di tangannya.

Penduduk asli ini mulai menusuk-nusuk cermin itu, dan pada akhirnya membuat semua gerakan untuk membunuh lawan yang dia lihat di cermin. Akhirnya hancurlah cermin itu.

Penjelajah lalu berjalan ke arah penduduk asli dan menanyakan mengapa dia meremukkan kaca cermin itu.

Penduduk asli membalas : "Dia (bayangan dalam cermin) bermaksud membunuh saya, jadi saya bunuh dia lebih dulu".

Penjelajah menerangkan pada pria pribumi bahwa bukan untuk itu maksud cermin dibuat. Penjelajah membawa pribumi ini pada cermin satunya yang masih tersisa utuh dan menunjukkan padanya guna cermin :
bagaimana melihat jika rambutnya tersisir rapi,
untuk melihat apakah cat di wajahnya sudah tepat ,
dan untuk melihat bagaimana besarnya ototnya kini.

Penduduk asli begitu terpesona kala cermin itu mampu menunjukkan sisi terbaik dirinya dan merefleksikan seorang pria yang ramah.

Itulah yang terjadi dengan jutaan orang di sekeliling kita. Saat situasi sulit dengan naiknya harga BBM dunia dan kesulitan hidup ( cermin sekarang ini ) , mereka menjalani kehidupan dengan mengharapkan suatu pertarungan.

Mereka mengharapkan pertempuran dan itulah caranya mereka bersikap.
Mereka mengharapkan memiliki musuh dan mereka begitu yakin dengan hal itu.
Mereka mengharapkan untuk mengalami kesulitan, agar pemerintah melunak bagi kemudahan dan kepentingan sendiri.
Mereka minta agar perusahaan memberi pekerjaan lemburan dan membayar mereka dengan UMP yang berharga tinggi .

Coba terka apa yang sebenarnya terjadi?

Ini benar-benar kedengaran seperti kebanyakan tayangan popular di TV. Mereka mempertunjukkan unjuk kekerasan ( bukan lagi unjuk rasa ) , perkelahian, kekerasan , menutup jalan , serta argumentasi yang melibatkan karakteristik terburuk dari manusia.

Renungan :
Apakah jenis cermin yang Anda lihat setiap pagi saat melihat orang yang Anda lihat.
Allah Swt. memberikan pada setiap kita kekuatan untuk memilih dan itu termasuk untuk dunia, orang-orang dan hasil yang kita harapkan.

Apa yang Anda pikir dan lihat sekarang ini pada akhirnya akan menjadi seperti apa jadinya Anda.
Ini bukan prinsip baru, hanya saja perlu lagi diingatkan pada kita sekarang dan untuk waktu ke depan.

CEULEUKEUTEUK


Dokter Anto, Dokter Ulle, jeung pasen nu maju ka sehat

Dr Anto jeung Dokter Ulle keur silisimbeuhan pangalaman.

"Ayeuna-ayeuna teh kuring keur nyanghareupan kasus nu kacida pabaliutna," cek Dokter Anto.
"Pabaliut kumaha?" cek Dokter Ulle.

"Kuring teh keur ngubaran pasen nu ngarokona opat bungkus sapoe, meh taya eureunna nginum alkohol teu bina ti nu keur hanaang bae, sarta peutingna getol pisan ngulayaban neneangan awewe pibatureun sare."

"Ari pabaliutna kumaha, kitu?"

"Tah, ieu yeuh masalahna teh. Manehna teu bisa ngeureunan eta kabiasaan gorengna, tapi heranna teh manehna maju ka sehat bae."


GAMBAR CAKCAK

Silobahutang téh urang Batak asli nu digawé di salah sahiji pabrik mobil Mitsubishi . Silobahutang rada bangor, sigana mah alatan sering kaluar kota tugas ti kantorna.
Hiji waktu Silobahutang ditugaskeun ka Australia. Kulantaran manéhna jelema bangor, ka pamajikanana ogé jadi curiga baé.

Silobahutang : “ Selama aku tugas, kau jangan main sérong ya ! “
Silobahutang boga akal, manéhna ngagambar cakcak persis dihandapeun bujal pamajikanana, ceuk pikirna gambar cakcak ieu bisa ngajaga si legok hangseur karesepna, lamun pamajikanana sérong jeung lalaki séjén pasti kudu mandi junub, tah pasti gambar cakcakna leungit.
Pamajikanana nyahoeun yén Silobahutang sok jajan ari tugas luar kota, jadi manéhna ngalayanan kikindeuwanana sabot Silobahutang tugas luar kota. Tapi poho kalahka mandi, jadi wéh gambar cakcakna leungit.

Buru-buru manéhna ménta kikindeuwanana ngagambar cakcak di tempat nu asal, ngan pohoeun kamana ngalieukna hulu cakcak gambar salakina.
Kacaritakeun Silobahutang geus tugas sabulan. Balik ti Australia langsung mariksa gambar cakcakna.

Silobahutang : “ Hey, mengapa pula cicak ini menéngok ké atas, padahal aku gambar déngan posisi menéngok ké bawah. Kau sérong yah ? !”
Pamajikanana : “
Héy, sudah sébulan aku tak mandi. Mungkin cicaknya tidak tahan baunya ! “
Silobahutang : “ Oh, bégitu yah ?!”, kaharti ceuk pikirna.

Abah Téa.

Senin, 26 Mei 2008

Masyarakat Kecil itu Hebat


Naiknya harga BBM memang membuat masyarakat susah, sebab mempunyai efek yang berganda,
seperti naiknya ongkos angkutan umum,
maka hal tersebut juga akan membuat biaya operasional akan naik juga,
dan wajar apabila harga-harga barang kebutuhan akan naik pula.

Namun demikian, masyarakat kecil cuma bisa pasrah, sebab apa?....
Itulah, sebelum naiknya harga BBM pun masyarakat kecil sudah susah hidupnya,
jadi sebenarnya naik atau tidak naik harga BBM tidak membuat masyarakat itu putus asa, sebab sepertinya "kesusahan" itu sudah menjadi bagian dari "cara hidup" dari masyarakat kecil, jadi mereka sudah biasa menghadapinya.

Oleh karena itu, sepertinya yang ribut dan sewot dengan kenaikan harga BBM ini adalah hanya "orang-orang besar" saja dan justru yang kebanyakan duit.

Makanya secara mentalitas rakyat kecil lebih siap memghadapi rintangan dan tantangan , hidup masyarakat kecil!...... anda hebat, bisa bertahan dengan situasi dan kondisi yang seperti ini, semoga hidup anda selalu "berkah",

amin......

CEULEUKEUTEUK


SI SOMA & BULÉ.

Si Soma budak hideung lestreng siga négro.
Hiji mangsa tumpak beus kota ti St Hall ka Lémbang keun anu heurin pasedek-sedek, nya kapaksa nantung.

Di jero beus aya aki-aki jeung nini-nini bulé anu nangtung ogé.
Basa Inggris Soma ngan pas-pasan pisan, kitu gé pédah baé aya kursus gratis di kantor,
tapi kulantaran si aki-aki bulé ngajakan ngobrol, nya kapaksa ngaladénan.

"What country do you come from?", ceuk si bulé
" Indonesia Sir!".
"Oh, I thought you are an African's negro. Can you speak English?"
"Yes I can Sir".
"Good, so please explain me about your family in English".
"Oh, I can't Sir !"
"Why ?"
"Because I have no family in English !"
"????"

Bari jeung rada teu ngarti si aki-aki bulé terus ngajakan ngobrol

"By the way, where were you born?"
"Bandung Sir"
"Which part?"
"All parts of me Sir, from my leg up to my head"
"????"

Palebah Lédeng aya ucing ngaliwat, beus ngerém ngadadak,
si Soma teu dihaja nincak suku si aki-aki bulé.

"Oh, I am sorry !", ceuk Soma
"I am sorry too" (kadéngéna ku si Soma : two)
"????....I am sorry three"

"What is it for?" ceuk si Bule (kadéngéna ku si Soma : four)
"???.....I am sorry five Sir"

"?????.....Are you sick?" (kadéngéna ku si Soma : six)
"???.....I am sorry seven Sir"

“?????.....eitt…” mobil ngagaléong, si bulé méh labuh.
(kadéngéna ku si Soma : eight)
"???.....I am sorry nine Sir"


WAWANCARA

Pamuda nécis parakatangtang-parakaténgténg nepungan manager HRD.

"Saha ngaran anjeun ?", manager HRD interview.
"Di Indonesia mah Daud, tapi nuju di Amrik David"
"Sabaraha gajih keur digawé di Amérika ?"
"Mung 10.000 dolar sasasih, lumayan"
"Jadi hayang nampa sabaraha gajih di dieu ?"
"Nya kinten-kinten 100.000 dolar cekap lah"
"Kumaha lamun 1.000.000 dolar sabulan, tambah mobil Baby Benz,
tambah imah anyar di Pondok Indah ?"
"Ah bapa mah, nyiar-nyiar piatoheun waé. Ulah heureuy atuh pa !"
bari atoh.
"Apan didinya anu ngajakan heureuy ti heula lain !"


Abah Téa.
Kang Deddy Setiawan
PT. Krama Yudha Tiga Berlian Motors