Menu Baru Web PWS Medan

Bergabunglah dengan Paguyuban Wargi Sunda versi FaceBook , dapatkan info PWS terbaru , Jangan lupa DOWNLOAD File berbentuk Powerpoint ( pps ) dari web ini , dan semuanya tentu saja Gratis untuk anggota dan pembaca setia Web PWS - Medan , Haturnuhun
Myspace tweaks at TweakYourPage.com

Senin, 20 Oktober 2008

Jika Dokter Mengatakan "Tidak Ada Harapan"


Di rumah bercat putih itu saya diundang oleh satu keluarga. Ibu dari pemilik rumah itu cukup ramah. Hari itu kehadiran saya untuk memenuhi undangan tasyakuran. Sambil menunggu tamu lainnya datang saya mendengarkan penuturan sang ibu.

Katanya sejak setahun yang lalu suaminya terbaring koma dirumah sakit. hampir seminggu dua kali dirinya dan putrinya selalu menjenguk kondisi suaminya tidak berubah.

Kesembuhan suaminya kata dokter,
"tidak ada harapan." Bahkan sang dokterpun sudah menyerah. selalu saja sang ibu menyakini "Alloh alMusta'an." (Allohlah tempat meminta pertolongan) .

Sampai suatu hari ditengah kunjungannya melihat posisi tidur suaminya mulai berubah. tanda-tanda tersadar nampak dari gerakan. terbuka kelopak matanya membuat derai airmatanya bercururan. akhirnya alat bantu pernapasannya juga dicopotnya. Dokter terheran bagaiamana mungkin ini bisa terjadi.

"
Doa apa yang ibu mohonkan untuk kesembuhan bapak?" tanya saya.

"
Saya pergi mengunjungi rumah anak yatim, membantu dan mengurus orang tuanya yang janda sedang sakit dengan tujuan bertaqarrub kepada Alloh. supaya Alloh SWT memberikan kesembuhan kepada suami saya." Jawabnya.

Dengan mata yang berkaca-kaca, ibu itu mengatakan, "
Alloh tidak menyia-nyiakan harapan dan doa saya."

Dari cerita itu saya memahami bahwa ibadah sholat, doa, dan
mengeluarkan shodaqoh dan bertaqarrub kepada Alloh dengan kita
membantu orang lain yang sedang kesusahan.Maka Alloh SWT akan
menyelesaikan masalah kita sebab hanya Allohlah sang penolong kita.

"
Dan apabila hamba-hamba- Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS Al Baqarah
2:186).


sumber, http://agussyafii. blogspot. com

Kamis, 16 Oktober 2008

Hikayat Batu dan Pohon Ara


Alkisah pada suatu saat di sebuah negeri di timur tengah sana. Seorang saudagar yang sangat kaya raya tengah mengadakan perjalanan bersama kafilahnya. Di antara debu dan bebatuan, derik kereta diselingi dengus kuda terdengar bergantian. Sesekali terdengar lecutan cambuk sais di udara.

Tepat di tengah rombongan itu tampaklah pria berjanggut, berkain panjang dan bersorban ditemani seorang anak usia belasan tahun. Kedua berpakaian indah menawan.

Dialah sang Saudagar bersama anak semata wayangnya. Mereka duduk pada sebuah kereta yang mewah berhiaskan kayu gofir dan permata yaspis. Semerbak harum bau mur tersebar di mana-mana. Sungguh kereta yang mahal.
Iring-iringan barang, orang dan hewan yang panjang itu berjalan perlahan, dalam kawalan ketat para pengawal. Rombongan itu bergerak terus hingga pada suatu saat mereka di sebuah tanah lapang berpasir.

Bebatuan tampak diletakkan teratur di beberapa tempat. Pemandangan ini menarik bagi sang anak sehingga ia merasa perlu untuk bertanya pada ayahnya.


"Bapa, mengapa tampak olehku bebatuan dengan teratur di sekitar daerah ini. Apakah gerangan semua itu ?"


"Baik pengamatanmu, anakku," jawab Ayahnya, "bagi orang biasa itu hanyalah batu, tetapi bagi mereka yang memiliki hikmat, semua itu akan tampak berbeda".


"Apakah yang dilihat oleh kaum cerdik cendikia itu, Bapa?, tanya anaknya kembali.

"Mereka akan melihat itu sebagai mutiara hikmat yang tersebar, memang hikmat berseru-seru di pinggir jalan, mengundang orang untuk singgah, tetapi sedikit dari kita yang menggubris ajakan itu."


"Apakah Bapa akan menjelaskan perkara itu padaku?"


"Tentu buah hatiku", sahut Sang Saudagar sambil mengelus kepala anaknya.

"Dahulu, ketika aku masih belia, hal inipun menjadi pertanyaan di hatiku. Dan kakekmu, menerangkan perkara yang sama, seperti saat ini aku menjelaskan kepadamu. Pandanglah batu-batu itu dengan seksama. Di balik batu itu ada sebuah kehidupan. Masing-masing batu yang tampak olehmu sebenarnya sedang menindih sebuah biji pohon ara."


"Tidakkah benih pohon ara itu akan mati karena tertindih batu sebesar itu Bapa?"


"Tidak anakku. Sepintas lalu memang batu itu tampak sebagai beban yang akan mematikan benih pohon ara. Tetapi justru batu yang besar itulah yang membuat pohon ara itu sanggup bertahan hidup dan berkembang sebesar yang kau lihat di tepi jalan kemarin."


"Bilakah hal itu terjadi bapa?"

"Batu yang besar itu sengaja diletakkan oleh penanamnya menindih benih pohon ara. Mereka melakukan itu sehingga benih itu tersembunyi terhadap hembusan angin dan dari mata segala hewan. Sampai beberapa waktu kemudian benih itu akan berakar, semakin banyak dan semakin kuat. Walau tidak tampak kehidupan di atas permukaannya, tetapi di bawah, akarnya terus menjalar.

Setelah dirasa cukup barulah tunasnya akan muncul perlahan. Pohon ara itu akan tumbuh semakin besar dan kuat hingga akhirnya akan sanggup menggulingkan batu yang menindihnya.

Demikianlah pohon ara itu hidup. Dan hampir di setiap pohon ara akan kau temui, sebuah batu, seolah menjadi peringatan bahwa batu yang pernah menindih benih pohon ara itu tidak akan membinasakannya. Selanjutnya benih itu menjadi pohon besar yang mampu menaungi segala mahluk yang berlindung dari terik matahari yang membakar."


"Apakah itu semua tentang kehidupan ini Bapa?" tanya anaknya.

Sang Saudagar menatap anaknya lekat-lekat sambil tersenyum, kemudian meneruskan penjelasannya.


"Benar anakku. Jika suatu saat engkau di dalam masa-masa hidupmu, merasakan terhimpit suatu beban yang sangat berat ingatlah pelajaran tentang batu dan pohon ara itu. Segala kesulitan yang menindihmu, sebenarnya merupakan sebuah kesempatan bagimu untuk berakar, semakin kuat, bertumbuh dan akhirnya tampil sebagai pemenang.

Camkanlah, belum ada hingga saat ini benih pohon ara yang tertindih mati oleh bebatuan itu, Jadi jika benih pohon ara yang demikian kecil saja diberikan kekuatan oleh Sang Khalik untuk dapat menyingkirkan batu di atasnya, bagaimana dengan kita ini.

Dan Yang Maha
Perkasa itu bahkan sudah menanamkan keilahian-Nya pada diri-diri kita. Dan menjadikan kita, manusia ini jauh melebihi segala mahluk di muka bumi ini. Perhatikanlah kata-kata ini anakku.

Pahatkan pada hatimu, sehingga engkau menjdi bijak dan tidak dipermainkan oleh hidup ini. Karena memang kita ditakdirkan menjadi tuan atas hidup kita.


Paguyuban Wargi Sunda - Medan
www.pwsmedan.blogspot.com

CEULEUKEUTEUK


GAJIH GURU.

Kuring saparakanca keur jalan-jalan di pakampungan, maksudna mah rek nganjang ka hiji imah akina salah saurang bentang kampus. Tepi ka imah nu dijugjug, tuluy dititah asup ku si mojang geulis. Kuring dariuk dipalupuh imah panggung eta bari ngareureuhkeun awak baka ku cape tas cross country. Si mojang mah sup wae ka jero sigana mah rek nyieun cai keur nyuguhan. Teu lila, jol aki-aki cetuk huis bari dikondang iteuk ti jero. Bajuna geus leuseuh tapi beresih. Jangotna geus ngeplak bodas, tapi carang. Huntuna geus ompong. Solongkrong kabehan nyolongkrong sasalaman ka si aki.

Assalamu’alaikum aki…!” ceuk kuring kabehan.

Wa ayaikum sayam!” (abong geus ompong kabeh huntuna!).

Timana cea ujang teh?” cenah nanya.

"Ti Bandung aki!” ceuk kuring deui.

Kuliah maraneh teh meureun nya?” si aki nanya ka kabehan.

Muhun aki, abdi sareng ieu mah di ITB!”, waler si Atep bari nunjuk ka si David.

Heueuh, alus jalu…!, ari hidep?” ceuk si aki bari neuteup ka kuring.

Abdi sareng nu tiluan ieu mah di IKIP ki!” ceuk kuring teu eleh geleng.

Gehel teh, si Aki kalah ngajawab,

Heueuh, sing sabar wae ujang…guru mah gajihna teu sabaraha. Jeung sangsara jaba loba anu TBC

Si Atep jeung si David meuni nyakakak! (Gelo siah, ceuk kuring dina jero hate!)


Abah Téa

Selasa, 14 Oktober 2008

CEULEUKEUTEUK

Surat Ti Nini


Aya nini-nini indit ka kantor pos rek ngirim surat ka incuna.

Kulantaran bingung Si Nini ngadeukeutan salah sahiji petugas loket.


Aya nu tiasa di bantos Ni?”
”Aya Cep, Nini rek ngirim surat ka incu nini, naha di dieu aya perangkona?”
”Nya aya lah, piraku nya aya dong. Teras naon deui Ni?”
”Punten we atuh sakalian pangnuliskeun alamatna dina amplop”

Mangga Ni ku abdi engke dipangnyeratkeun alamatna. Naon deui Ni?”
”Cing pangnuliskeun suratna sakalian da nini mah teu bisa nulis”


Tret petugas teh nulis surat 2 folio bari di dikte ku Si Nini.
Geus anggeus nulis, surat dibikeun ka Si Nini supaya dibaca heula.


Mangga di aos heula N bilih lepat”

Punteun Cep tambahan saeutik deui di handapna”

“Tambihan naon Ni?”

“Tulis nya : N.B. Incu, hampura Nini nya, tulisan Nini teh goreng”
!!!%$#&()*&@!????”

Abah Téa

Senin, 13 Oktober 2008

CEULEUKEUTEUK


JAGOAN BASKET

Si Mardud katelah jago basket di kampung Tadah Acay.

Hiji isuk manéhna katingali keur jogging di trotoar jalan.

Palebah perumahan elite The Wang manéhna ningali jelema réa anu keur nonton imah kahuruan.

Kahuruanana palebah lantai 1 jeung 2.

Dina jandéla lantai 3 aya nini-nini anu keur ceurik bari mamangku ucing Parsi.

Si Mardud ngagorowok :


"Héy nini, alungkeun ucingna kadieu !"

"Ulah ! Luhur teuing !"

"Teu nanaon, kuring biasa nangkep bola basket !"

"Heug atuh ari kitu mah ! ", si ucing diciuman bangun deudeuh, tuluy dialungkeun.

Deregdeg si Mardud lumpat rék nampanan ucing...........

Kep katangkep ngan ku sabeulah leungeun...............

Lumpat.............drible................luncat.............

lung ......dialungkeun deui.....sup pas kana ring basket anu aya di hareupeun garasi...

Bekkkkk...........ucing ragrag...........paéh..........wéh................................

Abah Téa

Jumat, 10 Oktober 2008

Dari Abah Tea


Assalamu’alaikum Wr Wb


Hapunten abdi teu tiasa nyumponan uleman ieu.

Ngiring bingah sareng ngiring raos waé nya.

Wilujeng boboran, mugi ngahapunten kana sadaya kalepatan abdi.


Haturnuhun,

Wassalamu’alaikum Wr Wb.

Deddy Setiawan.

(Abah Téa)

Halal Bi halal PWS Medan , 12 Oktober 2008

Halal Bi Halal PWS Medan

Assalammu'alaikum Wr. Wb.

Diantos kasumpinganana ka seluruh Wargi Sunda - Medan
dina acara Halal Bi Halal Paguyuban Wargi Sunda Medan
( PWS Medan )

Hari Minggu , Tanggal 12 Oktober 2008
Jam 11.00 WIB
Tempat : di bumina Kang Muhayar
Jl. Purwo / Ngastino No. 1 ( sekitar RS Pirngadi - Medan )

Ajak Wargi Nusanesna

Info dari Kang Asep SY
Sie Sosial PWS Medan

Rabu, 08 Oktober 2008

Resep Obat Penyembuh Dosa

Seorang Badui datang kepada seorang tabib. Orang Badui itu bertanya, "Apakah tabib punya resep obat untuk menyembuhkan penyakit dosa?"

Tabib menundukkan kepalanya sejenak sambil berpikir. Lalu ia menjawab, "Dengarkan resep ini. Jika kamu kerjakan maka kamu akan mendapat penyembuhan dari Allah."

Ambillah akar-akar kemelaratanmu dan jiwa kesabaran. Lalu campurkan dengan bubuk pikiran, dan dicampur (kadarnya sama) dengan rendah hati dan kekhusyukan, kemudian ditumbuk semua dalam lumpang taubat dan di basahi dengan air mata, lalu ditempatkan dalam tempat rendah diri kepada Allah dan dimasak dengan api tawakal kepada-Nya.

Setelah itu aduklah dengan sendok istigfar sehingga tampak taufik dan kehormatan diri. Kemudian, pindahkan ke mangkok cinta dan dinginkan dengan udara kasih sayang. Sesudah disaring dengan saringan kesusahan dan ditambah dengan hakikat iman serta campurkan dengan takut kepada Allah.

Teruskan minum obat itu selama hidupmu dan hatimu akan sembuh dari segala keluhan dan akan hilang rasa sakit dosa. [A.A. Salim Basyarahil]

Nu Kasép & nu Geulis

Ditulis ku Kang Iwan

Senen, 07 Mei 2007

Dina hiji mangsa, kacaturkeun aya hiji jajaka gandang nu keur néangan pipamajikaneun. Manéhna ngumbara ka unggal lembur jeung dayeuh, ti gunung tepi ka laut, malah tepi ka leuweung sagala..

"Kusabab aing kasép, pamajikan ogé kudu geulis, kudu sampurna kageulisanana, sangkan turunan aing karasép jeung gareulis" pokna téh.

Singgetna, manéhna papanggih jeung hiji lalaki kolot di leuweung nu ngabogaan 3 putri nu gareulis kawanti-wanti. Kulit hejo carulang, biwir ngagondéwa, gado endog sapotong, jeung saterusna.... jeung saterusna...

"Aki, nembé ayeuna kuring ningal istri2 anu sakitu gareulisna. Sim kuring téh nuju milari pibojoeun. Manawi diwidian, salah sahiji putri aki badé dijantenkeun istri ku abdi."

"Aéh-aéh, kasép, sanajan tiluanana ogé mangga téh teuing, aki mah rido."

"Ah, moal atuh ki, ageung teuing waragadna, oge bilih janten présédén awon engké pami diliput ku média infotainment."

"Oh.. saé.. saé ari kitu mah!"

"Nanging, abdi téh bingung, kedah milih anu mana...."

"Teu kedah bingung kasép, mangga waé ditingali ti luhur satungtung rambut, ti handap sausap dampal. Nanging tengah2na mah teu kedah nya kasep, pamali!"

"Ah, teu kedah ditingal tengahna mah atuh ki, tos kabayang ieuh ku abdi na ogé.. héhé.."

Sanggeus dititénan...

"Aki, punten, si bungsu téh geuning gaduh cacat sakedik, saleresna mah teu katingal, nanging ari diperhatoskeun mah geuning éta cepil nu kénca langkung alit batan nu katuhu. Atuh nu nomer dua ogé ngagaduhan cacat sakedik, malah moal katingal, éta indung-sukuna geuning ageung sapalih."

"Dupi si cikal kumaha adén?"

"Perfect!"

"Tos yakin, Kasép?"

"Absolutely!"

"Mangga atuh ari kitu mah..."

Singget carita, manéhna kawin jeung si cikal. Kacida bagjana manéhna ahirna bisa meunangkeun pamajikan nu geulis tur sampurna. Sababaraha bulan ti harita, pamajikanana ngalahirkeun, orokna lalaki, keur hideung teh, goreng patut deuih..

Manéhna bingung, tuluy tatanya ka si aki naha bisa kajadian bapana kasép indungna geulis, tapi anakna goréng patut kitu.

Si aki ngajawab,

"Sabenerna si cikal téh boga cacat saeutik, malah teu katingali."

"Naon tea ki?"

"Harita manéhna téh geus kaburu reuneuh...ku urang Afrika ....."

Abah Téa

Selasa, 07 Oktober 2008

Kadé duit palsu


Assalamu’alaikum Wr Wb.

Kumaha saréhat?

Abah mah kamari ieu keur mudik, keuheul pisan, pédah narima duit palsu, mangkaning saratus rébuan deuih………

Lamun alo-alo narima duit saratus rébuan, omat kudu dipariksa heula nya.

(attachment: duit palsu téa)

Wassalamu’alaikum Wr Wb.

Abah Téa