Berani Gagal . . . . . Menu Baru Web PWS Medan
Sabtu, 17 Mei 2008
Sukses Yang Tertunda
Berani Gagal . . . . . Ungkapan yang aneh . . . yang jarang kita dengar.
Kegagalan adalah sukses yang tertunda , itulah yang sering kita dengar.
Ayo bangkit dari kegagalan
Bangkit untuk tidak selalu menyerah menghadapi segala masalah.
Kehidupan itu seperti roda , kadang diatas , kadang dibawah
Jadi jangan pernah menyerah untuk meraih sukses anda yang tertunda
Masih ada ajang pembalasan di Olympiade Beijing 2008
Jumat, 16 Mei 2008
Thomas - Uber Cup 2008

Hari-hari ini kita di hentakkan – dibangkitkan lagi semangat nasionalisme dan kebangsaan Indonesia, oleh langkah dan prestasi Tim Uber dan Tim Thomas Indonesia. Walaupun di sisi lain kita juga turut prihatin atas melejitnya harga minyak dunia, sehingga membawa ekses langsung bagi kebijakan anggaran Negara dan hajat hidup rakyat Indonesia.
Bila kita menyaksikan permainan Tim Uber dan Tim Thomas Cup berlaga menghadapi lawan, kita melihat langsung, betapa semangat daya juang, pikiran, tenaga dan hidupnya benar-benar secara total mereka curahkan untuk menggapai cita-cita sebagai juara.
Akankah Uber Cup dan Thomas Cup, kembali bersanding di Tanah Air Indonesia?!Mereka semua akan membuktikan – di tangan merekalah prestasi itu akan terukir!
Saya membayangkan, mereka telah meniti kehidupan masa muda yang penuh semangat vitalitas. Masa muda sebagai tonggak masa depan, telah mereka persembahkan dan dedikasikan bagi bangsa dan negara Indonesia. Luar biasa!
Kita semua patut beryukur dan berterima kasih kepada mereka semua, seluruh Tim Uber Cup - Thomas Cup, pelatih, pembina, penyandang dana, lebih-lebih kepada para pendahulu, mantan juara, senior dan para Champiun dunia di bidang olah-raga perbulutangkisan di Indonesia, yang telah meletakkan dasar yang kokoh bagi jalan lapang para yunior – generasi penerus, untuk meniti jalan lapang yang telah dirintis sebagai profesional di bidangnya – silakan sebut negara2 yang berlaga – jadi ini memang prestasi luar biasa
Maka kita sangat berharap kepada pemerintah Indonesia dan kepada siapapun yang peduli dan terpanggil akan kejayaan olah raga Bulu Tangkis ini. . .
Jangan sia-siakan kehidupan mereka,
Jangan terlantarkan masa depan mereka !
Karena sesungguhnya mereka ini adalah Para Pahlawan, Pejuang bagi kejayaan bangsa Indonesia saat ini dan masa depan. Sesungguhnya mereka ini adalah para penegak semangat kibaran Sang Saka Merah Putih di segala penjuru dunia.
Selamat berjuang sahabat dan teman2 Tim Uber & Tim Thomas! Untuk meraih impianmu……bagi kejayaan bangsa Indonesia!
Doa kami, selalu mengiringi langkah perjuangan,tetesan darah, kucuran peluh,yang kadang harus ber-urai dengan air mata!
Selamat berjuang Pahlawan!
Dari seluruh Wargi Paguyuban Sunda ( PWS ) - Medan
CEULEUKEUTEUK

JURU KAMPANYEU PILKADA
Ngarana oge kampanye, pidato teh kudu bari sumanget.
Kawas harita wae, waktu Bapa Jurkam keur daria naker pidato bari pepeta.
Kawas harita wae, waktu Bapa Jurkam keur daria naker pidato bari pepeta.
"Urang wajib ngarojong pangwangunan.
Hasil pangwangunan ku urang geus karasa.
Jalan leucir, listrik parat ka padesaan,
kitu deui pabrik dug-deg di mamana;
pabrik mobil, pabrik sapatu, pabrik keretas, jeung pabrik tektil..."
Hasil pangwangunan ku urang geus karasa.
Jalan leucir, listrik parat ka padesaan,
kitu deui pabrik dug-deg di mamana;
pabrik mobil, pabrik sapatu, pabrik keretas, jeung pabrik tektil..."
"Pa, kirang es," ceuk asistenna, ngaharewos. Maksudna, lain tektil tapi tekstil.
"Oh enya," ceuk Bapa Jurkam, "jeung pabrik es deuih!"
Keur naon boga suku?
Si Junéd budak ogoan.
Hiji mangsa rék nginjeum motor bapana.
“Pa nambut motor”
“Rék ka mana?”
“Ka réréncangan bade nambut buku palajaran”
Si Junéd budak ogoan.
Hiji mangsa rék nginjeum motor bapana.
“Pa nambut motor”
“Rék ka mana?”
“Ka réréncangan bade nambut buku palajaran”
“Di mana imahna?”
“Caket, di jalan Legok Mencenghul”
“Atuh leumpang waé! Keur naon boga suku?”
“Apan kanggo nincak rém sareng ngoper perseneleng”
Abah Téa.
“Caket, di jalan Legok Mencenghul”
“Atuh leumpang waé! Keur naon boga suku?”
“Apan kanggo nincak rém sareng ngoper perseneleng”
Abah Téa.
Kang Deddy Setiawan
PT. Krama Yudha Tiga Berlian Motor - Jakarta
Kamis, 15 Mei 2008
Bersabar Menunggu Panggilan

Seorang pria berumur 61 tahun bernama Asep Sudrajat menghidupi keluarganya dengan membuka sebuah toko berukuran 3 x 4 meter di sebuah jalan di kota Bandung. Tiada yang mendampingi hidupnya di rumah selain Asih, istrinya. Sudah puluhan tahun berumah tangga, Allah Swt Sang Maha Pencipta belum berkenan memberikan mereka keturunan
Namun baik Asep dan Asih adalah model makhluk Tuhan yang menerima segala ketetapan. Mereka selalu menghiasi hidup dengan pengharapan terhadap Tuhan. Bersyukur atas segala nikmat yang mereka terima, dan bersabar atas segala ujian yang diberikan. Hampir dua puluh tahun mereka menabung demi mewujudkan cita-cita. Sebuah cita-cita mulia yang mereka tanamkan dalam hati, untuk berangkat haji ke Baitullah, Mekkah Al Mukarramah. Dengan hasil dagang di toko yang seadanya, sedikit demi sedikit mereka sisihkan untuk menggapai cita-cita itu. Hanya ibadah haji saja dalam benak mereka yang belum pernah mereka lakukan.
Keinginan itu terus membuncah, menggelegak dalam dada seorang hamba yang rindu akan keridhaan Tuhannya. Hasil tabungan yang mereka kumpulkan tidak mereka tabung di bank. Sengaja uang sejumlah itu mereka simpan agar dapat memotivasi semangat mereka untukmencari tambahan uang sesegera mungkin. Sungguh dua puluh tahun dalam menabung, merupakan masa yang cukup panjang untuk bersabar demi mewujudkan ketaatan kepada Tuhan. Tidak banyak, manusia modern di zaman sekarang yang mampu memiliki niat sedemikian.
Malam itu, Asep dan Asih sekali lagi menghitung jumlah tabungan mereka. Uang yang mereka simpan untuk berhaji itu kini berjumlah Rp. 50.830.000. Sementara biaya haji pada saat itu berkisar kurang lebih Rp 27 juta per orang, belum lagi biaya bimbingan haji yang harusmereka ikuti, ditambah dengan uang jajan tambahan untuk membeli oleh-oleh. Mereka menghitung, kurang lebih mereka memerlukan dana berkisar Rp 10 juta.
Setiap malam berlalu, Asep dan Asih selalu menghitung peruntungan jualan mereka, dan sebagiannya mereka sisihkan untuk mewujudkan cita-cita berhaji. Suatu pagi, Asep mendengar kabar bahwa kawan karibnya dalam berjamaah shalat di Masjid As Shabirin jatuh sakit secara mendadak dan kini dirawat di RS. Dr. Hasan Sadikin. Setelah divisum oleh dokter rupanyapenyakit yang diderita tetangga sekaligus kawan karibnya itu adalah penyakit tumor tulang. Sebuah penyakit yang jarang terjadi pada masyarakat Indonesia.
Bersegeralah, Asep menjenguk kawan karibnya itu. Sesampainya di sana, sahabat tersebut masih berada di ruang ICU dan untungnya masih sadarkan diri sehingga dapat melakukan percakapan dengan Asep. Dari penuturannya Asep mengetahui bahwa tumor tulang tersebut telah membuat tetangganya tidak mampu untuk berdiri lagi, dan tumor tersebut harus diangkat segera. Sebab bila tidak, maka tumor tersebut dapat menjalar ke bagian tubuh lain. Asep bergidik mendengarnya. Namun ia masih terus membesarkan hati sahabatnya itu untuk senantiasa tawakkal dan berdoa kepada Allah Swt Yang Maha Menyembuhkan setiap penyakit hamba-Nya.
Hampir setiap hari Asep menjenguk sahabatnya itu. Pada hari kedelapan, sahabatnya itu telah dipindah ke ruang rawat inap kelas 3, bersama tujuh pasien lainnya dalam satu kamar. Kamar tersebut pengap dengan bau obat, dan tidak layak disebut sebagai kamar rumah sakit.Pemandangan yang berantakan. Jemuran baju pasien dan pendamping yang bertebaran di sepanjang jendela. Seprai kasur yang tidak rapi. Tikar dan koran bertebaran di pojok-pojok kamar. Itu semua membuat pemandangan kamar menjadi tidak asri dan pengap. Namun apa mau dikata, tetangganya adalah seorang yang mungkin memilik nasib sama dengan jutaan orang diIndonesia. Sudah masuk rumah sakit saja Alhamdulillah, nggak tahu bayarnya pakai apa?
Hari itu adalah hari kesebelas sahabatnya dirawat di rumah sakit. Kebetulan Asep sedang berada di sana, seorang perawat membawakan sebuah surat dari rumah sakit bahwa untuk membuang tumor yang berada di sendi-sendi tulang pasien haruslah dijalankan sebuahoperasi. Operasi itu akan menelan biaya hampir Rp 50 juta. Bila keluarga pasien mengharapkan kesembuhan, maka operasi tersebut harus dilakukan. Namun kalau mau berpasrah kepada takdir Tuhan, maka tinggal berdoa saja agar terjadi keajaiban.
Siapa orangnya yang tidak mau sembuh dari penyakit? Semua orang pun berharap sedemikian. Namun mau bilang apa? Keluarga sahabat Asep tersebut sudah menguras habis tabungan yang mereka miliki, namun itu semua untuk bayar biaya rumah sakit selama ini saja tidakcukup. Apalagi untuk membiayai proses operasi? Sungguh, yang mampu mereka lakukan adalah memohon pertolongan kepada Allah Swt. Hari kedua belas, ketiga belas, keempat belas….kondisi pasien semakin parah. Badannya terlihat kurus tak bertenaga. Kelemahan itu terlihat jelas dalam sorot cahaya mata yang kian meredup. Sang pasien tidak mampu lagi menanggapi lawan bicara. Tumor itu semakin mengganas dan menjalar ke seluruh tubuh. Pemandanganitu semakin menyentuh relung hati Asep yang terdalam. Maka di pinggir ranjang sahabatnya, Asep pun mengambil sebuah keputusan besar.
Setelah berpamitan dengan keluarga sahabatnya, ia bergegas pulang menuju rumah. Di sana terlihat olehnya Asih sedang melayani pembeli yang datang ke toko sederhana milik mereka. Saat pembeli sudah sepi, Asep lalu menyampaikan keputusannya itu kepada Asih.
“Bu…, Kang Endi tetangga kita yang sedang di rawat di rumah sakit itu kondisinya semakin memburuk. Bapak tidak sanggup melihat penderitaannya. Sepertinya kita harus bantu dia dan keluarganya. Tiga hari lalu, kebetulan bapak sedang di sana, seorang suster memberitahukan bahwa Kang Endi harus dioperasi segera. Keluarganya belum berani menyatakan iya, sebab biayaoperasi itu hampir Rp 50 juta….” Asep membuka pembicaraannya dengan kalimat yang panjang.
Asih pun mulai merasa iba dengan penderitaan Kang Endi dan keluarganya, “Kasihan mereka ya, Pak! Kita bisa bantu apa…?”
Asep pun langsung menyambung dengan cepat, “Kalau ibu berkenan, bagaimana bila dana tabungan haji kita diberikan saja kepada mereka semuauntuk biaya operasi?”
Kalimat itu diakhiri dengan sebuah senyum merekah di bibir Asep. “Diberikan….?!! Waduh pak…, hampir dua puluh tahun kita nabung dengan susah payah agar cita-cita berhaji dapat diwujudkan. Masa bisa pupus seketika dengan membantu orang lain yang bukan saudara kita?” Asih mengajukan penolakan atas usulan suaminya.
“Bu…., banyak orang yang berhaji belum tentu mabrur di sisi Allah. Mungkin ini adalah jalan buat kita untuk meraih keridhaan Allah Swt. Biarkan kita hanya berhaji di pekarangan rumah kita sendiri, tidak perlu ke Baitullah. Bapak yakin bila kita menolong saudarakita, Insya Allah, kita akan ditolong juga oleh Dia Yang Maha Kuasa.”
Kalimat itu meluncur dari mulut Asep dan menohok relung hati Asih sehingga begitu membekas di dasarnya. Tak kuasa, Asih pun mengangguk dan setuju atas usul suaminya.
Keesokan pagi, Asep dan Asih pun datang berdua ke rumah sakit untuk menjenguk. Toko mereka ditutup hari itu. Mereka berdua datang ke rumah sakit dengan membawa sebuah amplop tebal berisikan uang sejumlah Rp 50 juta yang tadinya mereka siapkan untuk berhaji.Keduanya tiba di rumah sakit dan menjumpai Kang Endi dan keluarganya di sana. Usai membacakan doa untuk pasien, keduanya datang kepada istri Kang Endi. Merekaserahkan sejumlah uang tersebut, dan suasana menjadi haru seketika. Bagi keluarga Kang Endi ini adalah moment dimana doa diijabah oleh Tuhan. Sementara bagi Asep dan Asih, ini merupakan saat dimana keikhlasan menolong saudara harus ditunjukkan. Lalu pulanglah Asep dan Asih ke rumah setelah berpamitan kepada keluarga.
Uang itu kemudian segera dibawa oleh salah seorang anggota keluarga ke bagian administrasi rumah sakit. Formulir kesediaan menjalani operasi telah diisi. Besok pagi jam 08.00 operasi pengangkatan tumor di sendi-sendi tulang Kang Endi akan dilakukan. Alhamdulillah!Esoknya Kang Endi sudah dibawa ke ruang operasi.Sebelum dioperasi, dokter spesialis tulang yang selama ini menangani Kang Endi sempat berbincang dengan keluarga. “Doakan ya agar operasi berjalan lancar dan Pak Endi semoga lekas sembuh! Kalau boleh tahu…, darimana dana operasi ini didapat?”
Dokter mencetuskan pertanyaan tersebut, karena ia tahu sudah berhari-hari pasien tidak jadi dioperasi sebab keluarga tidak mampu menyediakan dananya.
Istri Kang Endi menjawab, “Ada seorang tetangga kami bernama pak Asep yang membantu, Alhamdulillah dananya bisa didapat, Dok!”
“Memangnya, beliau usaha apa? Kok mau membantu dana hingga sebesar itu?” Dibenak dokter, pastilah pak Asep adalah seorang pengusaha sukses.
“Dia hanya punya usaha toko kecil di dekat rumah kami. Saya saja sempat bingung saat dia dan istrinya memberikan bantuan sebesar itu!” Istri Kang Endi menambahkan
Di dalam hati, dokter kagum dengan pengorbanan pak Asep dan istrinya. Hatinya mulai tergerak dan berkata,
“Seorang pak Asep yang hanya punya toko kecil saja mampu membantu saudaranya. Kamu yang seorang dokter spesialis dan kaya raya, tidak tergerak untuk membantu sesama.” Suara hati itu terus membekas dalam dada pak dokter. Pembicaraan itu usai, dan dokter pun masuk ke ruang operasi.
Alhamdulillah operasi berjalan sukses dan lancar. Ia memakan waktu hingga 4 jam lebih. Semua tumor yang berada pada tulang Kang Endi telah diangkat. Seluruh keluarga termasuk dokter dan perawat yang menangani merasa gembira. Kang Endi tinggal menjalani masa penyembuhan pascaoperasi. Pak Asep masih sering menjenguknya. Suatu hari kebetulan pak dokter sedang memeriksa kondisi Kang Endi dan pak Asep pun sedang berada di sana. Keduanya pun berkenalan. Pak dokter memuji keluasan hati pak Asep. Pak Asep hanya mampu mengembalikan pujian itu kepada Pemiliknya, yaitu Allah Swt. Hingga akhirnya, pak dokter meminta alamat rumah pak Asep secara tiba-tiba.
Beberapa minggu setelah Kang Endi pulang dari rumah sakit. Malam itu, Asep dan Asih tengah berada di rumahnya. Toko belum lagi ditutup, tiba-tiba ada sebuah mobil sedan hitam diparkir di luar pagar rumah. Nampak ada sepasang pria dan wanita turun dari mobil tersebut. Cahaya lampu tak mampu menyorot wajah keduanya yang kini datang mengarah ke rumah pak Asep.Begitu mendekat, tahulah pak Asep bahwa pria yang datang adalah pak dokter yang pernah merawat sahabatnya kemarin.
Gemuruh suasana hati Asep. Ia terlihat kikuk saat menerima kehadiran pak dokter bersama istrinya. Terus terang, seumur hidup, pak Asep belum pernah menerima tamu agung seperti malam ini. Maka dokter dan istrinya dipersilakan masuk. Setelah disuguhi sajian ala kadarnya, maka mereka berempat terlibat dalam pembicaraan hangat. Tidak lama pembicaraan kedua keluarga itu berlangsung. Hingga saat pak Asep menanyakan maksud kedatangan pak dokter dan istri. Maka pak dokter menjawab bahwa ia datang hanya untuk bersilaturrahmi kepada pak Asep dan istri.
Pak dokter menyatakan bahwa ia terharu dengan pengorbanan pak Asep dan istri yang telah rela membantu tetangganya yang sakit dan memerlukan dana cukup besar. Ia datang bersilaturrahmi ke rumah pak Asep hanya untuk mengetahui kondisi pak Asep dan belajar cara ikhlas membantu orang lain yang sulit ditemukan di bangku kuliah. Semua kalimat yang diucapkan oleh pak dokter dielak oleh pak Asep dengan bahasa yang selalu merendah.
Tiba saat pak dokter berujar,
“Pak Asep dan ibu…., saya dan istri berniat untuk melakukan haji tahun depan. Saya mohon doa bapak dan ibu agar perjalanan kami dimudahkan Allah Swt… Saya yakin doa orang-orang shaleh seperti bapak dan ibu akan dikabul oleh Allah…”
Baik Asep dan Asih menjawab serentak dengan kalimat, “Amien…!”
Pak dokter menambahkan,
“Selain itu, biar doa bapak dan ibu semakin dikabul oleh Allah untuk saya dan istri, ada baiknya bila bapak dan ibu berdoanya di tempat-tempat mustajab di kota suci Mekkah dan Madinah…”
Kalimat yang diucapkan pak dokter kali ini sama-sama membuat bingung Asep dan Asih sehinggamembuat mereka berani menanyakan, “Maksud pak dokter….?”
“Ehm…, maksud saya, izinkan saya dan istri mengajak bapak dan ibu Asep untuk berhaji bersama kami dan berdoa di sana sehingga Allah akan mengabulkan doa kita semua!”
Kalimat itu berakhir menunggu jawaban. Sementara jawaban yang ditunggu tidak kunjung datang hingga air mata keharuan menetes di pipi Asep dan Asih secara bersamaan.
Beberapa menit keharuan meliputi atmosfir ruang tamu sederhana milik Asep dan Asih. Seolah bagai rahmat Tuhan yang turun menyirami ruh para hamba-Nya yang senantiasa mencari keridhaan Tuhan.
Asep dan Asih hanya mampu mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Usai pak dokter pulang, keduanya tersungkur sujud mencium tanah tanda rasa syukur yang mendalam mereka sampaikan kepada Allah Yang Maha Pemurah.
Akhirnya, mereka berempat pun menjalankan haji di Baitullah demi mencari keridhaan Allah Azza waJalla.
Sungguh, kesabaran dan keikhlasan panjang yang diakhiri dengan pengorbanan kebaikan, akan berbuah di tangan Allah Swt menjadi balasan yang besar dan anugerah yang tiada terkira.
Artikel dikutip dari Kartu Pintar produksi Visi Victory Bandung
CEULEUKEUTEUK

IKAN HIAS
Eneng: "Ku naon tadi maneh Nung, basa di pasar parea-rea omong jeung tukang ikan hias?"
Enung: "Sebel tuda ngahina, taya rasrasan ka pantar parawan kieu!"
Eneng: "Pedah naon kitu?"
Enung: "Cek tukang ikan hias, mun beuki nongnong, loba nu mikaresep jeung hargana ge mahal pisan!"
Eneng: "Rumasa teu? Jeungna deui maneh mah Nung henteu nongnong, ngan tarang rada leuwih ka hareup!"
Enung: "Puguh Enung ge era, hanas ngesek-ngesekeun."
Eneng: "Ari kitu?"
Enung: "Tukang ikan hias teh lain ngomongkeun Enung, eta cenah nawarkeun Lou Han ka nu rek meulina!"
ANEH TAPI NYATA.
Basa Sunda mah sok araraneh, teuing kumaha baheulana, coba bae tengetkeun:
Kecap anu ditungtungan ku ‘ol’ biasana boga harti ‘kaluar’ atawa ‘buleud panjang”.
Contona: borojol, nonghol, kohkol, pestol, botol, odol, dodol, morojol, benjol, brol,
Kecap anu ditungtungan ku ‘it’ atawa ‘ik’ biasana boga harti ‘leutik’
Contona: alit, bintit, leutik, camperenik, rikrik, pelit, sulit, irit, murilit, sipit,
Basa Sunda mah sok araraneh, teuing kumaha baheulana, coba bae tengetkeun:
Kecap anu ditungtungan ku ‘ol’ biasana boga harti ‘kaluar’ atawa ‘buleud panjang”.
Contona: borojol, nonghol, kohkol, pestol, botol, odol, dodol, morojol, benjol, brol,
Kecap anu ditungtungan ku ‘it’ atawa ‘ik’ biasana boga harti ‘leutik’
Contona: alit, bintit, leutik, camperenik, rikrik, pelit, sulit, irit, murilit, sipit,
Abah Tea
Anda di Masa Yang Akan Datang

Saya tertarik memikirkan masa depan ...
katakan 5 tahun mendatang ...
terhitung dari sekarang ...
Bagaimanakah posisi keuangan kita saat itu?…
Masih begitu saja?…
Sedikit lebih maju?…
Ataukah berkembang luarbiasa?
Bagaimanakah pekerjaan kita ?…
Masih membanting tulang ?…
telah mempunyai usaha kecil ?…
ataukah telah pensiun kaya?
Saat ini…detik ini…
Kita di persimpangan jalan.
Jalan yang bisa menuju ke atas ...
terjal ke bawah,
menikung samping…
atau buntu …
Hanya ada satu cara,
Untuk memastikan,… jalan menuju kejayaan …
Periksalah ! Saat ini juga !
Siapa rekan bergaul kita ?
Pengetahuan apa yang sedang kita pelajari ?
Dan kapan Anda mulai menerapkannya ?
Anda di masa datang …ditentukan oleh …Anda di masa kini ...
Rabu, 14 Mei 2008
Jadwal Latihan Seni Sunda-PWS
Hiliwir angin gunung ngadalingding
Mega bodas pagulung gulung dipasieup langit bulao....
Lamat-lamat, hariring kuring kadangu atra pisan
Nyulusup di daun eurih katebak angin.
Emutan urang ka Alam Priangan.
Cur-cor cai nyusu ngagenyas herang.
Asa waas pamandangan tikajauhan di dieu ti tegalan.
Aya sora Degung dina hate kuring.
Sorana minuhan alam.
Aya kacapi suling diluhureun pucuk-pucuk pare ngagelik, kasaeur katebak angin pasawahan Tuh Gunung.
Tuh pasir.
Anu ngak ukur bade ngawawaas
Anu bade ulubiung
anu hoyong diajar
Anu hoyong tiasa nepak, kawih jsb
Mangga....urang latihan Seni Sunda, dihaturanan kanggo sumping
Dinten : Saptu (minggon ka-1 sareng ka-3)
Tabuh : 03.00 Pasosonten
Tempat : Kampus Universitas Sumatera Utara
Gedung Jurusan Etnomusikologi Lt.2
Jl. Setia Budi
Medan
Materi :
1. Degung
2. Rampak Sekar
3. Kacapi Suling
4. Dog-dog
5. Calung.
Diantos kasumpinganana. Hatur nuhun.
Ketua Seksi Seni : Kang Ade H. S.Sn
Kuncen Web : Kang Djodi
Bewara ku : Sahman
Mega bodas pagulung gulung dipasieup langit bulao....
Lamat-lamat, hariring kuring kadangu atra pisan
Nyulusup di daun eurih katebak angin.
Emutan urang ka Alam Priangan.
Cur-cor cai nyusu ngagenyas herang.
Asa waas pamandangan tikajauhan di dieu ti tegalan.
Aya sora Degung dina hate kuring.
Sorana minuhan alam.
Aya kacapi suling diluhureun pucuk-pucuk pare ngagelik, kasaeur katebak angin pasawahan Tuh Gunung.
Tuh pasir.
Anu ngak ukur bade ngawawaas
Anu bade ulubiung
anu hoyong diajar
Anu hoyong tiasa nepak, kawih jsb
Mangga....urang latihan Seni Sunda, dihaturanan kanggo sumping
Dinten : Saptu (minggon ka-1 sareng ka-3)
Tabuh : 03.00 Pasosonten
Tempat : Kampus Universitas Sumatera Utara
Gedung Jurusan Etnomusikologi Lt.2
Jl. Setia Budi
Medan
Materi :
1. Degung
2. Rampak Sekar
3. Kacapi Suling
4. Dog-dog
5. Calung.
Diantos kasumpinganana. Hatur nuhun.
Ketua Seksi Seni : Kang Ade H. S.Sn
Kuncen Web : Kang Djodi
Bewara ku : Sahman
Minggu, 11 Mei 2008
Pertemuan PWS Medan , 11 Mei 2008
Pertemuan rutin Paguyuban Wargi Sunda – Medan yang sekaligus sebagai ajang temu kangen yang berlangsungn kemarin 11 Mei 2008 dihadiri cukup banyak anggota wargi Sunda di Medan , sekitar 60 orang datang beserta keluarga. Bertempat di Warung Bakso Wonogiri , Jl. Karya Jaya No. 75 C – Medan Johor.
Namina wae Bakso Wonogiri , lamun pemilikna mah Urang Sunda , Kang Arman.
Lokasi pertemuan , Bakso Wonogiri , Jl. Karya Jaya No. 75 C Dalam pembukaan, Kang Asep Sy ( Seksi Sosial PWS ) melantunkan kalam Ilahi yang intinya adalah agar para wargi menjadikan Shalat dan sabar sebagai suatu media untuk menghadapi masalah dan persoalan yang hidup . Dijelaskan juga pertemuan rutin ini makin hari makin ramai dan tingginya antusiame peserta untuk datang.
Pada acara kemarin dibahas beberapa rencana kegiatan dan informas seputar aktivitas PWS sebagai berikut :
Dari Kang Dedi Mulyadi , Bendahara PWS :
1. Info dari Bendahara bahwa jumlah Kas PWS sekarang sementara berjumlah Rp. 3.313.000,-
2. Pembuatan Jacket bagi pengurus PWS dengan harga Rp. 120.000,- yang dibebankan pada masing – masing anggota pengurus.
Pembukaan oelh Kang Asep Sy ( Seksi Soaial ) ketiga dari kanan , ditemani Kang Dani dan Kang Asep ( Ketua dan Wakil Ketua PWS ) No. 1 dan 2 dari kanan , beserta tuang rumah Kang Arman , ketiga dari kiri . Kang Dani Kustoni , Ketua Umum PWS pada acara tersebut kembali menerangkan rencana kegiatan yang telah dibahas pada pertemuan sebelumnya sbb :
1. Sebelumnya atas nama seluruh wargi PWS , Kang Dani mengucapkan terima kasih kepada Kang Arman dan keluarga yang telah menyiapkan tempat untuk pertemuan PWS kali ini , sebelumnya beliau sudah merencanakan untuk membuat suatu pertemuan akbar bagi seluruh anggota PWS untuk kumpul bersama , namun ada kendala teknis menyangkut biaya , pendataan dll.
2. Dibahas pula visi rencana kegiatan PWS yang benar - benar " customized " buat anggotanya teruatama wargi PWS yang bergerak di sektor informal.
Hal ini dikarenakan adanya " keengganan " " keisisinan " " kesungkanan " bagi mereka untuk guyub pada setiap kegiatan PWS.
Dari masukan anggota pada pertemuan ada beberapa saran al :
- Rencana kegiatan kesenian dengan memanfaatkan fasilitas kesenia PWS yang selama ini dipinjamkan pada Ruang Etno Piskology Fakultas Sastra Universitas Sumatra Utara . Kegiatan akan dikordinir oleh Kang Ade Herdiat , waktu dan tanggal akan ditentukan kemudian.
Kang Dedi Mulayadi ( angkat Jempol ) " selalu mantap " , nombok pun , mantap weh. . . - Rencana perayaan !7 Agustus oleh komunitas PWS di daerah Tembung
- Sumbangan pakaian bekas bagi keluarga korban kebakaran yang nota bene adalah warga PWS dengan mekanisme sbb :
Pakaian dikumpul dalam beberapa pool :
a. Daerah Amplas : Rumah Kang Asep
b. Daerah Pancing : Rumah Kang Dede
c. Daerah Helvetia: Rumah Kang Hasan
d. Daerah Johor : Rumah Kang Djodi
Bagi warga berkenan menyumbang pakaian bekas atau lainnya agar menghubungi penangung jawab dimaksud.
- Rencana pengumpulan data base anggota PWS yang dilakukan secara manual mulai dibenahi , sekaligus dalam rangka memastikan jumlag warga PWS di Medan , sementara untuk proses IT , Kang Sahman , anggota baru PWS akan membantu bersama Kang Djodi membuat data secara elektronik.
Kang Didit ( kedua dari Kiri dari Bank Agro ) bersama Kang Rahmat , sesepuh PWS ( paling kanan) Diharapkan pula jika rencana kegiatan ini berjalan sekaligus tujuan PWS tercapai dan komunikasi antar wargi juga berjalan baik.
Selain pengajian rutin yang telah berjalan baik ini , rencana kegiatan yang telah direncanakan dan sedang menuju realisasi adalah : Pengobatan Massal dan Sunatan Massal
Adapun jumlah target anak yang akan di khitan adalah 100 orang , sampai saat ini telah terdaftar 60 orang , dan masih ada kesempatan bagi 40 anak lainnya .
Kegiatan ini akan berlangsung tanggal 29 Mei 2008 , tempat pastinya menggunakan gedung Muhammmadiyah di daerah Bilial ( alamat lengkap akan dinformasikan kemudian).
Dan kepada semua yang akan di khitan diberikan fasilitas antar jemput.
Kang Sahman ( angota baru , paling kiri ) Kegiatan ini juga melibatkan instansi terkait di kota Medan diantaranya adalah PS - Pirngadi Medan.
Rencana lain adalah audisi Pengurus PWS dengan pimpinan pemerintahan di kota Medan , diantaranya , Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih Sumut , Walikota Medan dll.
Kang Dede " nu paling ageng " menikmati ubi rebusMengingat begitu luasnya penyebaran anggota komunitas PWS di Medan ini , maka dibentuk kantong - kantong PWS dibeberapa sektor kota , yang tujuannya untuk menggerakkan anggota yang ada didaerah dimaksud agar komunikasi serta aktivitas PWS dapat lebih solid lagi.
Kang Ade ( Kedua dari kiri ) seksi kesenianKantong - kantong lokasi PWS dimaksud adalah sebaran komunitas PWS dengan lokasi sbb :
Daerah Amplas dikordinir oleh Kang Asep Yudi
Daerah Pancing oleh Kang Dede
Daerah Helvetia oleh Kang Hasan
dan Daerah Johor oleh Kang Dedi Mulyadi sareng Kang Djodi.
Wah pisang jeung ubi rebusna raos pisanDari sumbangan spontan berupa uang tunai untuk warga PWS yang menjadi korban kebakaran di daerah Tembung , terkumpul dana sekitar Rp. 1.200.000,- yang penggunaannya dibagi 2 , masing - masing 50 % untuk sumbangan musibah , dan 50 % lagi untuk dana kas PWS.
Bagi anggota ataupun warga Sunda pembaca blog ini di seluruh dunia yang tergerak untuk menyumbang , mangga silahkan menghubungi bendahara Kang Dedi Mulyadi di email , dedimulya@berlian.co.id
Acara ditutup sekitar jam 17.00 , dengan optimisme dan harapan agar pertemuan kemarin dapat menbawa manfaat bagi seluruh keluarga besar PWS - Medan , dan Kang Arman sebagai tuan rumah mempersilahkan kepada semua tamu untuk mencicipi Bakso Wonogirinya . . . .
wah . . . Maknyuss.
Yang mau makan lagi silahkan datang lagi , tetapi kali ini harus bayar sendiri. . . . .
Mailing List PWS Medan
Kanggo kalancaran komunikasi diantara wargi Sunda terutami PWS Medan tos medal grup surelek (mailing list) PWS Medan.
Paguyuban Wargi Sunda Medan nyaeta Paguyuban lokal urang Sunda di Medan. Tujuan Paguyuban nyaeta kanggo ngamumule budaya Sunda kanggo Wargi Sunda anu aya di Medan. Salian ti eta kanggo silaturahmi sadaya urang Sunda di Medan, di sakabeh wilayah Indonesia atanapi dimana wae ayana. Hayu urang Ngamumule sareng silaturahmi kanggo kalangsungan budaya urang.
Mangga geura gabung ka :
Group home page: http://groups.yahoo.com/group/pwsmedan
Group email address: pwsmedan@yahoogroups.com
Hatur nuhun
Paguyuban Wargi Sunda Medan nyaeta Paguyuban lokal urang Sunda di Medan. Tujuan Paguyuban nyaeta kanggo ngamumule budaya Sunda kanggo Wargi Sunda anu aya di Medan. Salian ti eta kanggo silaturahmi sadaya urang Sunda di Medan, di sakabeh wilayah Indonesia atanapi dimana wae ayana. Hayu urang Ngamumule sareng silaturahmi kanggo kalangsungan budaya urang.
Mangga geura gabung ka :
Group home page: http://groups.yahoo.com/group/pwsmedan
Group email address: pwsmedan@yahoogroups.com
Hatur nuhun
Sabtu, 10 Mei 2008
Allah SWT. beserta kita

Ada sebuah suku pada bangsa Indian yang memiliki cara yang unik untuk mendewasakan anak laki-laki dari suku mereka. Jika seorang anak laki-laki tersebut dianggap sudah cukup umur untuk di dewasakan, maka anak laki-laki tersebut akan di bawa pergi oleh seorang pria dewasa yang bukan sanak saudaranya, dengan mata tertutup. Anak laki-laki tersebut di bawa jauh menuju hutan yang paling dalam.
Ketika hari sudah menjadi sangat gelap, tutup mata anak tersebut akan di buka, dan orang yang menghantarnya akan meninggalkannya sendirian. Ia akan dinyatakan lulus dan diterima sebagai pria dewasa dalam suku tersebut jika, ia tidak berteriak atau menangis hingga malam berlalu sampai esok pagi.
Malam begitu pekat, seorang anak kepala suku yang sedang diuji bahkan tidak dapat meilhat telapak tangannya sendiri, begitu gelap dan ia begitu ketakutan. Hutan tersebut mengeluarkan suara-suara yang begitu menyeramkan, auman serigala, bunyi dahan bergemerisik, dan ia semakin ketakutan, tetapi ia harus diam, ia tidak boleh berteriak atau menagis, ia harus berusaha agar ia lulus dalam ujian tersebut. Satu detik bagaikan berjam-jam, satu jam bagaikan bertahun-tahun, ia tidak dapat melelapkan matanya sedetikpun, keringat ketakutan mengucur deras dari tubuhnya.
Dan ketika cahaya pagi mulai tampak sedikit, ia begitu gembira, ia meilhat sekelilingnya, dan kemudian ia menjadi begitu kaget, ketika ia mengetahui bahwa ayahnya berdiri tidak jauh dibelakang dirinya, dengan posisi siap menembakan anak panah, dengan golok terselip dipinggang, menjagai anaknya sepanjang malam, jikalau ada ular atau binatang buas lainnya, maka ia dengan segera akan melepaskan anak panahnya, sebelum binatang buas itu mendekati anaknya. sambil berdoa agar anaknya tidak berteriak atau menangis.
Renungan :
Dalam mengarungi kehidupan ini, sepertinya Allah SWT " begitu kejam" melepaskan hamba - hambaNya kedalam " hutan " kehidupan yang berat ini.
Terkadang kita tidak dapat melihat penyertaanNya, namun satu hal yang pasti Allah SWT selalu setia, Ia selalu menyayangi kita, dan Ia selalu berjaga-jaga dan dekat dengan kita , tentunya selama kita tetap beriman kepadaNya.
Langganan:
Postingan (Atom)









