Menu Baru Web PWS Medan

Bergabunglah dengan Paguyuban Wargi Sunda versi FaceBook , dapatkan info PWS terbaru , Jangan lupa DOWNLOAD File berbentuk Powerpoint ( pps ) dari web ini , dan semuanya tentu saja Gratis untuk anggota dan pembaca setia Web PWS - Medan , Haturnuhun
Myspace tweaks at TweakYourPage.com

Kamis, 06 Desember 2007

Let's Go GREEN

Semakin berat mobil semakin banyak pula konsumsi bensinya ,
setiap penambahan 50 kg berarti pemakaian bensin 2 % lebih banyak ,
kecuali anda bekerja di Fallujah , Irak , maka anda tidak perlu
mengendarai Hummer ke kantor

Mendaur ulang 500.ooo kg kertas koran bekas ,
berarti kita sudah menyelamatkan pohon - pohon
yang dapat menyerap 67.500 kg CO2 tiap tahunnya

GENIUS = 1 % INSPIRASI, 99% KERINGAT


Katakanlah,”Hai kaumku! Lakukanlah apa yang dapat kamu (lakukan). Aku pun melakukan (apa yang dapat aku lakukan). Nanti kamu akan mengetahui. (QS. Az- Zumar: 39)

…dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. (QS. An Najm : 39).

Ibnu Jauzy Al Muhdisy berkata, "Hari - hari adalah lembaran baru untuk goresan amal perbuatan. Jadikanlah hari - harimu sarat dengan amalan yang terbaik. Kesempatan itu akan segera lenyap secepat perjalanan awan, dan menunda – nunda perkerjaan tanda orang yang merugi.

Dan barangsiapa yang bersampan kemalasan, ia akan tenggelam bersamanya"

Edison mengatakan,”Genius adalah 1% inspirasi (ide atau rencana) dan 99% keringat.” Hayatilah bahwa ide atau rencana itu hanya bernilai 1%, yang 99% adalah tindakan.

Konon, di dinding-dinding perusahaan sepatu Nike, terpampang semboyan just do it! Lakukan saja!

Kisah Napoleon. "Apakah mungkin untuk melewati jalan ini?" tanya Napoleon kepada para insinyur yang dikirim untuk menyelediki terusan St. Bernard yang menakutkan itu. "Barangkali, bukannya tidak mungkin," jawab mereka dalam nada ragu-ragu. "Laukan (tempuh) saja!" jawab Napoleon tanpa menghiraukan kesukaran-kesukaran yang hampir tak teratasi. Inggris dan Austria menertawakan keputusan Napoleon untuk menggerakkan tentara melintasi pegunungan Alpen. Tak pernah ada orang yang bisa, apalagi dengan membawa 60.000 tentara, dilengkapi dengan meriam- meriam besar, berpeti-peti peluru, dan barang dalam jumlah besar.

Akan tetapi ketika tindakan yang 'mustahil' itu selesai, orang-orang sekonyong- konyong tahu bahwa hal itu memang bisa dilakukan dari dulu.

Sekitar tahun 1993, saya mengikuti seminar, dimana si pembicara adalah Bob Sadino (wirausahawan) dan seorang profesor dari Jerman. Bob Sadino mengatakan kepada si profesor itu,”Kalau bapak akan berenang, maka bapak membaca buku dulu sebanyak satu almari. Bapak ingin menguasai dulu ilmu cara-cara berenang. Tetapi saya tidak seperti itu kalau akan belajar berenang. Saya langsung terjun ke kolam renang, dan saya belajar berenang dengan cara langsung seperti itu.”

Vernon A Magnesen yang dikutip Dryden dan Vos mengatakan,
“Kita belajar dari 10% apa yang kita baca;
20% dari apa yang kita dengar;
30% dari apa yang kita lihat;
50% dari apa yang kita lihat dan dengar;
70% dari apa yang kita katakan;
dan 90% dari apa yang kita katakan dan kita lakukan.”

Bacalah sekali lagi kata-kata terakhir Magnesen,

”…kita belajar 90% dari apa yang kita katakan dan kita lakukan…”


Rabu, 05 Desember 2007

Menyikapi Kegagalan


Karena , sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Alam Nasyroh : 5-6).

Ketika kita masih kanak-kanak, kita ini orang yang tangguh dalam menghadapi kegagalan. Apa buktinya?

Ingatlah ketika kita berlatih berjalan, dulu sewaktu kita masih kanak-kanak. Siapa pun kita, pasti pernah jatuh dalam rangka belajar berjalan itu. Apa yang kita lakukan ketika kita jatuh? Kita bangun lagi, belajar berjalan lagi. Jatuh lagi, bangkit lagi, belajar berjalan lagi. Jatuh lagi, bangkit lagi. Begitulah berkali-kali kita jatuh, lalu bangkit lagi : sampai kita bisa berjalan!

Eh, apa jadinya saat itu ya, ketika kita jatuh dalam belajar berjalan, lalu kita tidak mau bangun dan belajar berjalan lagi? Mungkin kita tidak pernah bisa berjalan seperti saat ini.

Namun ketika usia terus bertambah, ketangguhan kita menghadapi kegagalan itu nampaknya semakin berkurang. Sampai-sampai kita ini jadi takut gagal.

Siti Hajar, ibu dari Nabi Ismail, mengalami kegagalan beruntun. Namun, beliau terus berupaya. Kita kutip cerita amat singkat tentang Siti Hajar dari buku Ary Ginanjar ESQ yang berjudul Emotional Spiritual Quotient berikut ini:

“Siti Hajar berlari-lari bolak-balik dari Shafa ke Marwah di tengah gurun yang tandus mencari air bagi anaknya. Ia tidak hanya berlari satu kali lalu berhenti ketika ia tidak menemukan air yang diperlukannya. Ia kembali lagi, dan berupaya lagi.

Ketika ia gagal, maka ia berusaha lagi untuk mencari air yang sangat dibutuhkannya itu. Ketika ia gagal, ia masih terus berusaha mencari sambil berlari-lari. Dalam hatinya yang suci dan teguh, ia hanya ingin menyelamatkan anaknya, karena Allah SWT.

Ia terus berupaya tanpa kenal putus asa. Meskipun sekian kali berusaha dan belum juga memperoleh air itu, ia masih terus berupaya dengan hati yang tegar tanpa kenal lelah. Setelah sekian kali berupaya, barulah ia menemukan mata air yang dibutuhkannya itu, atas pertolongan Allah Yang Maha Memberi.”

Ibrahim Hamd Al-Qu’ayyid memberikan resep manakala kita menghadpi kegagalan berikut ini :
Ketika merasa gagal, mendengar berita kegagalan, atau menangkap tanda-tandanya, maka Anda harus mengucapkan kalimat istirja’, yaitu kalimant innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kami berasal dari Allah dan hanya kepada-Nya kami kembali) dan laa haula walaa quwwata illaa billah (tiada daya dan kekuatan, melainkan dari Allah).

Buanglah jauh-jauh rasa gelisah, sedih, dan putus asa.
Ingatlah selalu nikmat Allah dan apa yang Dia berikan kepada Anda.
Analisislah kegagalan itu, hasil-hasilnya, dan factor-faktor yang menyebabkannya.
Berpikirlah positif, penuh harap dan jangan kaitkan kegagalan Anda dengan orang lain.

Membantu orang lain, memberi dukungan kepada mereka, meringankan penderitaan dan musibah mereka, serta memenuhi kebutuhan mereka menjadi kunci dihapuskannya kesulitan.

Rasulloh bersabda,”Barangsiapa yang membukakan satu kesempitan saudaranya dari kesempitan-kesempitan dunia, maka Allah akan membuka untuknya satu kesempitan dari kesempitan Hari Kiamat.” (Muttafaq ‘alaih).

Untuk menciptakan lampu pijar, Edison telah melakukan 9.000 percobaan yang gagal, dan 6.000 lebih bahan telah ia coba.

Sampai di sini, resapilah sebentar, “9.000 kali percobaan yang gagal dan 6.000 lebih jenis bahan dicoba…” Sementara itu Edison telah mencoba lebih dari 50.000 kali percobaan untuk menciptakan aki. Ketika asistennya bertanya mengapa dia terus melakukan percobaan lampu pijar, padahal sudah ribuan kali gagal, Edison mengatakan bahwa ia tidak pernah gagal satu kali pun!

Ia menganggap bahwa apa yang dilakukannya adalah menemukan ribuan benda yang tidak bermanfaat, yang tidak bisa dihindari dalam proses penciptaan.

Hasil penelitian Dean Keith -seperti dikutip Tony Buzan- terhadap 2.036 penemu atau ilmuwan menunjukkan bahwa ilmuwan yang paling terhormat bukan hanya menghasilkan lebih banyak karya besar, tetapi juga lebih banyak karya buruk dibandingkan dengan ilmuwan lain.

Kolonel Sanders, telah ditolak oleh seribu lebih toko ketika ia menawarkan resep masakan ayam goreng. Akhirnya ia begitu tersohor dengan Kentucky Fried Chicken-nya (KFC).

Mesin photo copy Xerox sebelum tersohor seperti sekarang ini, pernah ditolak oleh 20 perusahaan.

Walt Disney runtuh 302 kali sebelum menjadi sebuah bisnis begitu gagah dan kuat.
Henry Ford mengalami kebangkrutan sebanyak 5 kali.
Watson, pendiri IBM bahkan mengatakan, “Kalau ingin sukses, lipatgandakan kegagalan.” Charles Franklin Kattering, penemu starter mobil otomatis berkata, “Sekarang apa yang ingin Anda lakukan adalah belajar bagaimana menyikapi kegagalan.

Setelah Anda mengalami kegagalan, analisislah dan temukan mengapa Anda gagal. Karena kegagalan adalah satu langkah yang akan membimbing ke puncak kesuksesan. Dan Anda tidak akan bisa sampai langkah terakhir kalau Anda tidak melewati semua langkah. Cobalah lagi apabila Anda gagal. Karena ketika pertama kali Anda melakukan sesuatu, sesungguhnya Anda adalah orang amatir (tidak profesional) – yakni seseorang yang melakukan sesuatu untuk pertama kali.

Orang yang mampu sukses ketika pertama kali melakukan sesuatu sebenarnya adalah benar-benar suatu kecelakaan –di luar kebiasaan--.”

Kata Ary Ginanjar, “Kita butuh kegagalan, untuk menyempurnakan sikap dan mental kita…Kewajiban manusia adalah berusaha tiada henti, tanpa kenal putus asa…

Kegagalan akan menghancurkan kesombongan, sehingga menciptakan sikap rendah hati (tawadhu)... “


[Muhammad Musrofi]

Let's Go GREEN

Jika satu juta orang menukar 8 km perjalanan dengan mobil
setiap minggu dengan naik sepeda , emisi CO2 akan berkurang
100.000 ton per tahun.

Selasa, 04 Desember 2007

BERLAYARLAH MENEMBUS BADAI


Setangguh apapun perahu diciptakan, ia takkan berdaya guna bila hanya tertambat di dermaga. Anda adalah perahu itu.
Kesejatian perahu adalah mengarungi samudra, menembus badai dan mendarat di pantai harapan.

Dermaga adalah masa lalu.
Sedangkan tali penambat itu adalah ketakutan dan penyesalan.
Jangan sia-siakan seluruh kekuatan yang ada pada diri anda.
Jangan biarkan masa lalu menambat anda di situ.
Lepaskan diri anda dari beban ketakutan dan penyesalan.

Berlayarlah. Berkaryalah.

Yang memisahkan perahu dengan pantai harapan adalah topan badai, gelombang dan batu karang.
Yang memisahkan anda dengan keberhasilan adalah masalah dan tantangan.
Di situlah tanda kesejatian teruji.

Hakikat perahu adalah untuk berlayar menembus segala rintangan.
Hakikat diri anda adalah untuk berkarya menemukan kebahagiaan.

KEBERHASILAN PRIBADI UNTUK KEBERHASILAN TEAM


Meski ia adalah pemain bola hebat, menyandang ban kapten kesebelasan, selalu berada pada posisi tepat, bermain dalam team yang berkeyakinan penuh untuk menang... seberapa pun sempurnanya semua keadaan... ia takkan mampu mencetak sebuah goal pun, bila tak ada pemain lain yang mau memberikan umpan padanya.


Ia hanya bisa berlari ke sana-kemari tanpa arti.

Bila ia cukup angkuh, bolehlah ia memaki-maki.

Atau, keluar lapangan menyadari kesia-siaannya.


Seberapa pun tinggi kedudukan anda jabat, itu tak berguna bila tak ada orang mau memberikan umpan yang dapat anda tendang jadi sebuah goal.

Kemenangan bukanlah kemenangan bagi anda seorang, namun milik seluruh pemain, pelatih,bahkan penonton yang bersorak-sorak.


Karenanya, apakah anda sedang bermain untuk diri sendiri atau team kerja anda?

Jawaban itu dapat anda gunakanuntuk memahami apa arti sebuah keberhasilan.


Senin, 03 Desember 2007

Musibah Polonia , Hukuman atau Ujian ?


Satu lagi musibah menimpa kita khususnya warga kota Medan dengan terbakarnya Terminal Keberangkatan Domestik Bandara Polonia , Sabtu malam , 01 Agustus 2007 sekitar pk. 08.45Wib. dan baru bisa dipadamkan pada Minggu dinihari.
Saya yang kebetulan berada dekat sekitar lokasi hanya bisa tertegun , berdoa dan prihatin sekaligus ngeri melihat api yang membumbung sangat besar , dan masih untung tidak ada korban jiwa pada peristiwa tersebut.

Tentu kita tidak bisa berpasrah begitu saja , apapun penyebabnya tentu harus diselidiki .
Aparat terkait , khususnya pihak kepolisian dibawah komando penuh Kapolda Sumut , Kang Nurrudin Usman ( yang juga pelindung dan Pembina PWS – Medan ) , dibantu oleh Kang Dani Kustoni ( yang Ketua Umum PWS ) dan kawan kawan dari Poltabes – Medan tentu punya tugas berat untuk menyelidiki dan menuntaskan kasus musibah ini.

Dan kerja keras otoritas bandara pun boleh diacungi jempol , segala potensi fasilitas yang ada dimaksimalkan untuk diperdayakan..
Minggu pagi penerbangan domestic dari Polonia sudah bisa “ air borne “ , beberapa pesawat komersial jenis Boeing 737 tampak parkir di apron Lanud TNI – AU Kelapa Sawit untuk loading , yang letaknya memang cuma berseberangan dengan bandara Polonia.

Situasi ini memang tidak seperti biasanya mengingat area tersebut selama ini termasuk daerah “ angker “ , khusus tempat stand by nya pesawat intai udara angkut berat Hercules C – 130 dan jet tempur buru sergap yang canggih F – 16 Fighting Falcon , pengawal udara Sumatra Utara dan Aceh.

Namun tentu kita tidak membahas musibah ini lebih dalam , yang penting adalah bagaimana kita bersikap terhadap musibah apapun itu bentuknya.

Musibah adalah rahmat bagi orang yang berpikir dengan hati. Hanya saja cara penyampaian rahmat tersebut yang kadang manusia tidak bisa memahami dan menerimanya.
Allah SWT memberi ‘kado’ untuk kita, namun kadang kita tidak menyukai bungkus dari kado / hadiah itu.


Anda mau menolak kado / hadiah berisi mutiara yang dibungkus kertas lusuh?

Atau anda mau menerima kado berisi sampah yang dibungkus kertas kado yang indah dan diberi pita?

Ada dua kemungkinan yang dapat diambil dari suatu musibah.

Sebagai hukuman atau sebagai ujian.


Renungkan dan ingat-ingat apa yang sudah kita perbuat pada masa lalu dan semoga akan ditemukan apa sebabnya.

Besi yang terus menerus terkontaminasi kotoran tanpa pernah dibersihkan secara berkala, besi tersebut akan berkarat. Jika karat itu sudah membatu maka tidak ada yang bisa dilakukan kecuali membuang besi itu ke sampah. Apakah anda ingin dibuang sia-sia oleh pencipta anda sekalian?Jika musibah itu adalah ujian, maka bergembiralah. Seorang murid tidak akan naik kelas sebelum dia melewati tes/ujian akhir semester.

Dalam Al Qur’an pun tentang musibah dan cobaan ini , disinggung pada Surah Al-Baqarah ayat 286
“ Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. “

Melihat dengan mata dan mendengar dengan telinga ada batasnya, namun melihat dengan hati hasilnya unlimited alias tak terbatas.Selalu berpikir positif atas segala yang telah menimpa, maka Allah SWT akan memberikan mutiara hidup kepada anda.


Ada kata-kata bijak dari Norman Vincent Peale yang patut anda renungkan. Dalam bukunya You Can If You Think You Can, ia mengatakan,
''Apabila Tuhan ingin menghadiahkan sesuatu yang berharga, bagaimanakah Ia memberikannya kepada anda?
“Apakah Ia menyampaikan dalam bentuk suatu kiriman yang indah dalam nampan perak?
Tidak!
Sebaliknya Tuhan membungkusnya dalam suatu masalah yang pelik, lalu melihat dari jauh apakah anda sanggup membuka bungkusan yang ruwet itu, dan menemukan isinya yang sangat berharga, bagaikan sebutir mutiara yang mahal harganya yang tersembunyi dalam kulit kerang.''

Pernyataan di atas bukan sekedar kata-kata indah untuk menghibur anda yang dan sedang kalut menghadapi suatu masalah.
Ini adalah perubahan paradigma dan cara berpikir.

Keadaan apa pun yang kita hadapi sebenarnya bersifat netral. Kita lah yang memberikan label positif atau negatif terhadapnya.

Seperti yang dikatakan filsuf Cina, I Ching, ... ''Peristiwanya sendiri tidak penting, tapi respon terhadap peristiwa itu adalah segala-galanya.''




Djodi

Kamis, 29 November 2007

Benih Sukses


"Try not to become a man of success, but rather a man of value."~ Albert Einstein ~
Alkisah, ada seorang penabur benih yang pergi membawa sekarung benih. Sepanjang perjalanannya, sebagian benih jatuh di pinggir jalan, setelah beberapa waktu, datanglah seekor burung dan memakannya.

Sebagian lagi jatuh di tanah yang berbatu, yang tidak banyak tanahnya, dan benih itu pun segera tumbuh, tetapi tidak dapat bertahan lama karena tanahnya tipis, maka akarnya pendek, segeralah ia menjadi kering dan layu.

Sebagian lagi jatuh di semak berduri, lalu seiring dengan pertumbuhan benih tersebut, ia terhimpit oleh semak belukar, sehingga ia tidak berbuah.

Dan sebagian lainnya jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan subur dan banyak buahnya, dan menghasilkan banyak sekali panenan. Benih hidup kitaHidup manusia pun bisa dianalogikan seperti benih di atas.

Seperti benih pertama, beberapa orang hidup tanpa berhasil mengaktualisasi potensi diri mereka atau bahkan tidak berhasil menemukannya. Mereka sama sekali tidak menghasilkan apa-apa dalam hidupnya, bahkan sampai mereka meninggal.

Beberapa seperti benih kedua, yang mampu berkembang dengan cepat dan pesat, namun sesungguhnya akarnya(hidupnya) sangat rapuh dan kering. Orang-orang sepertinya adalah orang yang tidak henti-hentinya bekerja secara terus menerus, tanpa mempedulikan kualitas kesehatan fisik, mental, ataupun sosial. Mereka memiliki kualitas hidup yang kurang baik, mungkin sakit-sakitan, memiliki tingkat kebahagiaan yang rendah, ataupun terdapat ketidakharmonisan di keluarganya. Secara sekilas, mereka terlihat memiliki segalanya, tetapi sesungguhnya kehidupan mereka kering.

Beberapa seperti benih ketiga, walaupun mereka punya akar kuat dan mampu tumbuh tinggi, tetapi mereka tidak berbuah. Orang-orang seperti ini hanya hidup untuk dirinya sendiri, dan sesungguhnya mereka tidak memberikan ‘nilai’ yang berarti bagi orang-orang di sekitar mereka. Mereka hanya hidup untuk ambisi pribadi sendiri, tanpa memperdulikan orang lain.

Mereka sama sekali tidak menghasilkan ‘buah’ yang bisa diberikan untuk orang lain.

Dan tentunya, sedikit orang seperti benih keempat, di mana mereka berhasil mempunyai tanah yang subur dengan mineral yang cukup, di mana akhirnya potensi dari benih tersebut bisa sampai maksimal dan juga menghasilkan buah bagi orang lain. Merekalah yang bisa menjaga keseimbangan di antara seluruh aspek hidup mereka, karena selain berbuah dengan baik, juga memiliki akar yang kuat.

Benih yang manakah kita? Manakah benih yang paling menggambarkan hidup kita? Apakah hidup kita seperti benih yang pertama, yang hidup dengan sia-sia tanpa menghasilkan apa pun?Ataukah seperti benih kedua, yang dibutakan oleh harta semata tanpa mempedulikan kebahagiaan dan kesehatan kita? Dan akhirnya kita akan merasa hidup kita sia-sia dan kering?
Ataukah seperti benih ketiga, yang hanya egois memperhatikan diri sendiri, tetapi tidak memberikan kontribusi(nilai) apa pun bagi sesama kita?

Berbeda dengan benih, kita mempunyai kekuatan dan daya untuk menentukan hendak berada di tanah yang manakah kita berada. Jika pun kita telah berada di tanah yang salah, kita masih mempunyai kemampuan untuk berpindah.

Tidak seperti benih yang hanya bisa pasrah, kita masih mempunyai ‘kaki’, pikiran, dan hati untuk meninggalkan tanah yang lama dan menuju tanah subur impian benih tersebut. Jika kita merasa belum berada di tanah subur kita, maka jangan buang waktu lagi, carilah tanah tersebut.

Tanamkanlah akar dengan kuat, tumbuhkanlah batang pohon kita dengan tinggi, dan yang paling penting: hasilkanlah buah yang manis untuk orang lain. Karena hanya dengan demikianlah, benih (orang) tersebut telah mengeluarkan potensi maksimal dalam dirinya. Benih yang berhasil menanamkan akar yang kuat, dan telah meumbuhkan batang yang menjulang tinggi, tapi tidak menghasilkan buah apapun, sama saja dengan tidak berguna. Ia akan ditebang dan dibuang, dan akan digantikan dengan pohon yang lain..

Regards,
Djodi Ismanto

Rabu, 28 November 2007

Belut Bodas


Legenda atawa carita rakyat teh hiji sarana anu bisa digunakeun keur kapentingan naon bae. Ringkesna mah kapentingan anu dibungkus atawa disilibkeun dina legenda atawa carita rakyat. Kaasup oge didieu migunakeun rupa-rupa simbol pikeun nyamunian eta kepentingan. Soal kapentingan anu dibungkusna bisa kapentingan anu hade atawa kapentingan anu goreng.


Anu hadena, upamana, dina raraga nyalindungan jeung mulasara lingkungan, sepuh atawa karuhun urang teh sok nyilibkeun ku rupa-rupa pantangan atawa carita simana (B.Ind: keangkeran) jeung sangetna hiji patempatan, sangkan eta patempatan anu mibanda fungsi lingkungan (sumber cai, sumber kahirupan sejenna) heunteu sagawayah diruksak jeung dirogahala.


Naha kudu make simbol atawa silib sarupa kitu? Duka teuing, eta mah kawijakan sapuh kapungkur.


Upamana bae di Situ Sanghiyang aya pantangan teu meunang dipotret di sabudeureun eta patempatan. Atuh pon kitu keneh, patempatan- patempatan anu mibanda ajen sajarah atawa fungsi lingkungan heunteu kurang ku pantangan, silib jeung simbol.

Ari anu gorengna mah taya lian yen heunteu saeutik legenda, simbol jeung silib teh anu ngahaja dijieun ku anu keur kawasa harita. Tujuanna nya sangkan rahayat di eta patempatan tetep bodo jeung heunteu engeuh kana kabeungharan lingkunganana.


Nya anu kieu meureun anu kaasup mitos teh. Umpana bae, carita atawa mitos teu meunang urang Sunda kawin ka urang wetan anu sababaraha waktu ka tukang rame dipadungkeun di ieu milist anu kuat sangkaan eta teh jieunan pangjajah Walanda. Kalan-kalan, mitos atawa legenda sarupa kitu teh dijieun oge ku bangsa urang, keur kapentingan saharitaeun.


Upamana bae, dongeng belut bodas di Waduk (bendungan) Darma, di wewengkon Kuningan, baheula, basa eta waduk keur diwangun (dijieun).Harita basa waduk Darma diwangun, pangwangunana teh kaasup anu ngayayay, teu anggeus-angeus nepi ka meakeun waktu mantaun-taun. Loba anu heran, kunanon ngawangu waduk anu teu kawilang badag na make kudu lila jeung meakeun beaya anu heunteu saeutik, duti rahayat tea. Loba anu panasaran, hayang nyaho siga kumaha eta waduk diwjieunna, ngan rahayat umumna sieuneun laha-loho ka puseur pangwangunan waduk teh, sabab cenah, di "poros bendungan" (tempat heureut di walungan anu arek dipenggel sangkan jadi waduk) di Darma teh aya siluman belut bodas.


Enya belut bodas anu nya badag nya pikasieuneun. Atuh lokasi pangwangunan waduk Darma teh jadi tempat angker alias geueumeun tepi ka arang langka rahayat anu lunta ka lebah dinya. Nya sabatae anu keur ngawangun waduk teh jongjon digarawe, kaasup migawean naon rupa anu teu hade sakumaha engke kanyahoan.Kabehdieunakeun karek kapanggih, dina pangwangunan waduk darma teh loba pisan korupsina. Nya korupsi anggaran, nya koruspi bahan-bahan (material) keur ancengan fisik waduk kayaning semen, keusik, jsb.


Cindekna, "legenda" belut bodas Darma anu mimiti rame jadi carita rakyat nalika waduk Darma keur diwangun efektif pisan dina ngahulag rakyat ngontrog jeung ngawaskeun prak-prakan ngawangun eta waduk. Tepi ka anu digarawe teh, umumna marake topi gawe warna bodas-payus pisan nyilibkeun maneh ku belut bodas-jongjon ngasupkeun semen, batu, keusik, jeung tangtu bae duit ka pabeasan sewang-sewangan.


Enya jahat "belut bodas" tehpisan nyilibkeun maneh ku belut bodas-jongjon ngasupkeun semen, batu, keusik, jeung tangtu bae duit ka pabeasan sewang-sewangan. Enya jahat "belut bodas" teh geuningan, matak pibahyaeun ka rahayat kulantaran teu seubeuh-sebeuh. Moal kitu nalika ngawangun rawayan (jembatan) Cipeles-Sumedang anu kamari runtag oge mahabu "belut bodas" sarupa kitu?

MENGASAH KAPAK


Alkisah ada seorang penebang pohon yang sangat kuat. Dia melamar pekerjaan pada seorang pedagang kayu, dan dia mendapatkannya. Gaji dan kondisi kerja yang diterimanya sangat baik. Karenanya sang penebang pohon memutuskan untuk bekerja sebaik mungkin.Sang majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerjanya.

Hari pertama sang penebang pohon berhasil merobohkan 18 batang pohon. Sang majikan sangat terkesan dan berkata, "Bagus, bekerjalah seperti itu!"Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari sang penebang pohon bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 15 batang pohon.

Hari ketiga dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hanya berhasil merobohkan 10 batang pohon. Hari-hari berikutnya pohon yang berhasil dirobohkannya makin sedikit. "Aku mungkin telah kehilangan kekuatanku",pikir penebang pohon itu.


Dia menemui majikannya dan meminta maaf, sambil mengatakan tidak mengerti apa yang terjadi.

"Kapan saat terakhir kau mengasah kapak?" sang majikan bertanya.

"Mengasah? Saya tidak punya waktu untuk mengasah kapak. Saya sangat sibuk mengapak pohon," katanya.


Catatan:


Kehidupan kita sama seperti itu. Seringkali kita sangat sibuk sehingga tidak lagi mempunyai waktu untuk mengasah kapak.

"Di masa sekarang ini, banyak orang lebih sibuk dari sebelumnya, tetapi mereka lebih tidak berbahagia dari sebelumnya.

Mengapa?


Mungkinkah kita telah lupa bagaimana caranya untuk tetap tajam?

Tidaklah salah dengan aktivitas dan kerja keras.

Tetapi tidaklah seharusnya kita sedemikian sibuknya sehingga mengabaikan hal-hal yang sebenarnya sangatpenting dalam hidup, seperti kehidupan pribadi, menyediakan waktu untukmembaca, dan lain sebagainya.

Kita semua membutuhkan waktu untuk tenang, untuk berpikir dan merenung,untuk belajar dan bertumbuh.

Bila kita tidak mempunyai waktu untuk mengasah kapak, kita akan tumpul dan kehilangan efektifitas.


Jadi mulailah darisekarang, memikirkan cara bekerja lebih efektif dan menambahkan banyak nilai ke dalamnya.