Menu Baru Web PWS Medan

Bergabunglah dengan Paguyuban Wargi Sunda versi FaceBook , dapatkan info PWS terbaru , Jangan lupa DOWNLOAD File berbentuk Powerpoint ( pps ) dari web ini , dan semuanya tentu saja Gratis untuk anggota dan pembaca setia Web PWS - Medan , Haturnuhun
Myspace tweaks at TweakYourPage.com

Senin, 07 Juli 2008

4 Tingkatan Derajat Dari Lisannya Seseorang


Berbicara amatlah mudah, hanya menggerakkan lidah tanpa harus mengeluarkan tenaga ataupun biaya, tetapi dampaknya amatlah luar biasa bisa mengukur derajat seseorang atau bahkan menentukan nikmat atau bencana dunia akherat.

Nabi kita tercinta Muhammad s.a.w. sungguh terpelihara lisannya, beliau tidak berkata kecuali yang benar, akurat, tak ada yang sia sia, bersih dari maksiat, tak melukai hati sarat dengan makna, penuh dengan ilmu, melimpah hikmah, runtut. Indah mudah dicerna, dan menggugah serta merubah menuju kebaikan siapapun yang tulus menyimaknya.

Rahasianya adalah buah dari hati yang tulus jauh dari riya, hati yang tawadhu tak tersentuh sombong dan takabur, hati yang penuh kasih sayang bersih dari dengki dendam dan benci,..hati yang bersih.. bening.

Dan pula selalu berhati hati, pandai membaca situasi, tepat memilih kata, jitu memilih waktu dan suasana, sehingga hanya manfaat dan manfaat yang bertabur, bila mendengar tutur katanya selalu benar.

4 Tingkatan Derajat orang yang berbicara :

1. DERAJAT MULIA -cirinya adalah bila berkata sarat dengan hikmah, tak sia sia, ilmu dan zikir, sehingga apapun yg dibicarakan niscaya membawa manfaat bagi siapapun yang mendengarkannya.

2. DERAJAT ORANG BIASA -ciri khasnya adalah sibuk menceritakan peristiwa, heboh segala diceritakan bahkan terkadang lebih banyak bumbu penyedap berbau bohong, kata berhambur banyak tapi miskin dari arti dan makna, sayang memang banyak membuang waktu yang amat berharga tanpa membawa manfaat.

3. DERAJAT ORANG RENDAHAN -cirinya adalah sibuk mengeluh, mencela, menghina, menggerutu, komentar negative untuk apa saja, sulit didengar kebaikan dari mulutnya.. inilah ciri-ciri orang berpenyakit yang mulai kronis hatinya, akan merusak suasana dan menghancurkan amalnya sendiri serta tak disukai orang lain,

4. DERAJAT ORANG DANGKAL - cirinya adalah sibuk menceritakan dirinya sendiri, jasa baiknya, kekayaannya, kedudukannya, amal amalnya tentu maksudnya agar dirinya dihargai, dipuji dan dihormati padahal yang terjadi adalah sebaliknya.. benar benar sebaliknya, hina dina tak berharga.

naudzulbillahi min dzalik !!!

Source : Daarut Tauhid

SEMANGAT


''Maka sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.'' (QS Al-Insyiroh [94]: 5-6).

Banyak orang yang optimistis memandang masa depan; ia yakin segala keinginannya akan terwujud. Namun, ketika mendapatkan hambatan, ujian, dan cobaan, ia tak sanggup lagi meneruskan perjuangan untuk menggapai cita-citanya itu.

Tak berhenti di situ, ia membuat kesimpulan: bahwa itu bukan jodohku, ini bukan jalanku, aku tidak cocok di sini, tidak pantas menjadi itu, dan masih banyak lagi alasan lain yang membuat seseorang menjadi kehilangan semangat. Ia menjadi patah arang, atau bahkan frustrasi.

Sungguh kasihan orang seperti ini! Padahal, Allah menjanjikan 'nikmat' lain: bahwa setelah kesulitan itu pasti akan datang kemudahan. Ia tidak dapat menikmati karunia Allah yang telah diberikan kepada setiap hambanya termasuk potensi yang dimilikinya. Lalu bagaimana solusinya?

Sebenarnya banyak ayat Alquran yang menegaskan agar kita jangan berputus asa. Begitu pula hadis-hadis yang dikemukakan Rasulullah SAW. Salah satu ayat yang berkaitan dengan itu adalah surat Al-Insyiroh ayat 5 dan 6 yang berbunyi,

"Maka, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.''

Pada ayat-ayat tersebut terdapat kata inna atau 'sesungguhnya' , kata yang biasa digunakan untuk memperkuat dan menegaskan terhadap lafal dalam bahasa Arab, tak terkecuali dengan ayat-ayat di atas. Terlebih ayat tersebut dinyatakan dua kali. Subhanallah!

Tak perlu dijelaskan arti sebuah kesulitan atau kegagalan, tapi dua ayat itu cukup untuk memotivasi kepada kita agar selalu tetap semangat menghadapi setiap masalah. Karena sesungguhnya, pertolongan Allah itu dekat. Mungkin tahun ini gagal masuk perguruan tinggi impian, tapi siapa tahu justru kegagalan itulah yang menuntun kita ke sukses lain yang lebih besar.

Meski masa depan itu samar, tidak ada yang tahu kecuali Allah SWT dan hamba-hamba- Nya yang Ia kehendaki, tetapi kita dianjurkan mempersiapkan segala hal untuk menghadapi kemungkinan- kemungkinan yang ada. Maka dari itu, selayaknyalah kita mengarahkan tujuan kita hanya kepada Allah.

Segala sesuatunya ikhlas karena Allah. Semuanya dilakukan untuk menggapai rahmat Allah SWT. Karena keinginan atau cita-cita selain kepada Allah itu batil, sia-sia, dan rugi, karena bagaimanapun juga kita akan kembali pada-Nya. Mari menyongsong masa depan yang lebih cerah yang dinaungi dengan rahmat dan ridha Allah.

Sumber: Republika - Jumat, 04 Juli 2008

Jumat, 04 Juli 2008

Harta Karun Fira'un


Kabayan , si orang bijak bercerita:

Alkisah, seorang firaun memiliki ruang rahasia di kuburan piramidnya yang dibangun sewaktu ia masih hidup, di mana berbagai hartanya disimpan dan dipercaya akan menjadi bekalnya di dunia akhirat.

Namun, seorang pekerja pembangun ruangan yang dulu, diam-diam tanpa diketahui,berhasil lolos ketika para pembuat ruangan rahasia itu dibunuh setelah ruangan itu jadi, bercerita kepada dua orang anaknya,

Aku akan mati sebagai orang miskin, tapi kalian dapat masuk ke ruangan harta karun melalui peta rahasia ini sebagai warisan, karena firaun adalah seorang tiran, dan sesungguhnya ia menghisap kekayaan dari orang-orang miskin seperti kita.”

Ketika dua anak itu kemudian berhasil mengambil sebagian harta itu berkat peta warisan, salah seorang di antara mereka terjebak oleh perangkap rahasia.

Penggal dan bawa pergilah kepalaku ! Karena kalau para penjaga mengenaliwajahku, bukan hanya aku yang mati, tapi kamu juga akan bernasib sama, “desaknya kepada saudaranya.

Mereka berdebat beberapa lama, tapi akhirnya saudaranya bisa dibujuk untuk melakukannya, dan akhirnya bisa lolos dengan selamat.

Firaun yang baru kaget dan marah mengetahui bahwa pencuri telah memasuki kuburan ayahnya. Dan ia lebih kesal lagi hanya mendapati sesosok mayat tanpa kepala.Ia memerintahkan agar mayat itu diikatkan di sebuah tembok, dan dijaga siang malam, dengan harapan bahwa keluarga yang merasa memiliki jenazah itu akan menginginkannya, dan jika mereka mengklaimnya, ia akan ditangkap,

Ternyata saudaranya yang masih hidup ini seorang yang panjang akal. Ia membeli beberapa kantung anggur keras, memuatkan mereka pada seekor keledai, dan pada suatu malam melepaskannya di dekat para petugas penjaga jenazah.

Para pengawal itu mengambil kantung-kantung anggur dan minum hingga mabuk. Saat mereka lengah sang saudara mengambil mayat itu dan menguburkannya secara layak.


Kabayan si Bijak berkata,

Cerita ini sesuai dengan kerja dari pikiran. Harta karun itu melambangkan ilmu pengetahuan, sang firaun adalah kecenderungan pikiran yang sesat untuk menghalangi orang untuk belajar sesuatu yang berguna bagi mereka.

Sang ayah adalah orang yang mengetahui bagaimana cara mendapatkan pengetahuan,sedang dua orang anaknya adalah dua kondisi dari pikiran.
Anak pertama merepresentasikan fungsi pikiran yang gigih namun imajinatif; sedang saudaranya menunjukkan prinsip pikiran yang aktif dan selalu bisa bertahan, yang tak kalah cerdiknya dengan yang satunya.”

Dengan cara demikianlah baik seperti pada anak pertama atau kedua” , lanjut si Kabayan , “ pelayanan terhadap kemanusiaan berlanjut. Camkanlah bahwa pengajaran berlangsung dengan jalan yang istimewa.”

“ Tidak penting apakah cerita ini nyata atau rekaan sebab yang terpenting ia sesuai untuk menjadi ilustrasi pengajaran.”

see article on :

Kamis, 03 Juli 2008

CEULEUKEUTEUK


BAHAN BOM

Yeuh manéh geus nyaho henteu béja ikhwal SPBU anu di peuntaseun kantor pulisi?”
“Encan. Na kunaon kitu?”
“Enya, kanyahoan nimbun jeung ngajual bahan bom rancangan urang Rusia”
“Gening teu di ségel ku pulisi?”
“Henteu, da cenah mah teu ngalawan aturan hukum”
“Gening?”
“Da bénsin mah perelu keur mobil jeung motor”
“Oh….bahan bom Molotov…….”


DI PERPUSTAKAAN

Kriiiiiiiing..........harita téh kira-kira jam 2 peuting telpon disada di imah kapala perpustakaan.

"
Halo, punten pa. Badé naros, perpustakaan téh bukana jam sabaraha ?"
"Ieu téh jam 2 peuting, kuring keur saré, lain wayah nananyakeun nu kitu deuleu !", ngambek.
"Tapi ieu penting pa"
"Jam 10 isuk-isuk bukana !"
"Henteu tiasa langkung énjing deui pa ?"
" Naha manéh maké kudu datang isuk-isuk pisan ? Pira gé nginjeum buku !"
"Sanés badé nambut buku pa, abdi ayeuna kakonci dilebet perpustakaan pa !"

Abah Téa
Kang Deddy Setiawan
PT. Krama Yudha Tiga Berlian Motor - Jakarta

Selasa, 01 Juli 2008

Paguyuban Warga Sunda di Medan Fokus Kegiatan Sosial

Paguyuban Warga Sunda (PWS) Medan Sekitarnya akan lebih fokus kepada aksi-aksi sosial dalam setiap kegiatannya.

Hal ini demi terjalinnya silaturahmi, baik sesama warga sunda maupun dengan warga lainnya di Kota Medan. Demikian disampaikan ketua panitia kegiatan bakti sosial PWS Kang Asep Syarifuddin, didampingi Ketua PWS Medan Tembung, Ade Hidayat, serta beberapa unsur pengurus PWS lainnya kepada beberapa mass media di Medan , di sela-sela acara sunatan massal dan donor darah di aula Masjid Taqwa Islamic Center Muhammadiyah, Jalan Mustafa, Medan, Minggu (29/6).

Menurut Asep, warga Sunda di Medan dan sekitarnya perlu bekerja sama dan mengeratkan tali silaturrahmi. Salah satu kegiatan yang paling tepat adalah dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan sosial keagamaan.

Kami berharap dengan kegiatan-kegiatan sosial yang kami laksanakan, dapat mempererat silaturahmi warga sunda di medan, baik itu dengan sesama warga Sunda maupun dengan warga suku lainnya,” ujarnya.

Warga Sunda di Medan dan sekitarnya, lanjutnya, saat ini berjumlah lebih kurang 2.000 orang, dan angka tersebut baru yang terdata. Diharapkannya, dengan kegiatan sosial ini warga Sunda lainnya dapat bergabung untuk mempererat silaturahmi.

Kang Ade Hidayat menambahkan, PWS akan rutin melaksanakan kegiatan-kegiatan sosial, bahkan akan dilaksanakan setahun sekali. Dana untuk kegiatan-kegiatan PWS murni berasal dari sumbangan para anggota.

Namun untuk kegiatan kali ini, dia sangat berterima kasih kepada Pimpinan Anak Cabang Muhammadiyah Kampung Dadap Medan, yang telah memberi izin kepada PWS untuk menggunakan tempat bagi pelaksanaan acara.

Pada kegiatan bakti sosial tersebut, PWS melaksanakan kegiatan khitanan massal terhadap 120 orang anak yang berasal dari keluarga kurang mampu. Sedangkan untuk kegiatan donor darah di ikuti oleh 60 orang peserta. Kegiatan tersebut dilaksanakan bekerja sama dengan tim kesehatan dari RS dr Pirngadi Medan dan RS Adam Malik Medan.

Senin, 23 Juni 2008

Kisah Delapan Mata Angin

Ada seorang murid yang sudah bertahun-tahun belajar ilmu kebijakan dari seorang guru di sebuah pulau terpencil. Kini ia merasa telah cukup ilmu dan berniat untuk mengabdikan dirinya pada masyarakat di seberang pulau.

Singkat kata, ia pamit pada sang guru dan meninggalkan pulau terpencil tersebut.


Beberapa lama kemudian ia mendirikan sebuah perguruan dan memiliki banyak murid pula. Teringat ia pada sang guru, ia ingin menunjukkan hasil pengabdiannya selama ini. Ia lalu menulis sebuah kitab yang berisi ajaran-ajaran kebijakan.

Kitab itu diberi judul "Kitab Delapan Mata Angin" karena bila orang mengamalkan isi kitab itu maka ia akan tetap tegar dalam kebenaran meski didera angin badai dari delapan penjuru mata angin.

Ia mengutus seorang muridnya untuk mengantarkan kitab itu pada gurunya di

seberang pulau.

Sang guru , si Kabayan menerima kiriman "Kitab Delapan Mata Angin" dengan suka cita.
Namun, setelah membaca isinya, tanpa terduga-duga beliau mencorat-coret sampul kitab itu dengan tulisan "Kamu tak lebih dari angin kentut belaka".
Sang guru mengembalikan kitab itu.

Betapa terkejutnya si murid ketika menerima dan membaca tulisan sang guru. Mukanya merah padam. Ia memutuskan untuk menemui gurunya dan meminta
penjelasan apa maksud tulisan itu. Bergegas ia melepas tali perahu dan mendayung sendiri menemui gurunya.

Sesampai di sana, ia langsung bertanya pada gurunya,
"Apa maksud guru menulis kata-kata kotor seperti ini?"

Jawab sang guru dengan kalem,

"Lho... katanya kamu mampu bertahan dari
gempuran angin badai yang datang dari delapan penjuru mata angin. tapi,
mengapa, hanya dengan tiupan angin kentut saja, sudah membuatmu terpental
dari seberang sana ke pulau terpencil ini, heh..?

Mendengar jawaban gurunya, ia langsung menyesali kesalahannya.

Renungan ...!
Setinggi apa pun kebijakan yang terucap di bibir atau tertulis di
buku tak lebih berarti daripada yang terpatri dalam hati.

Arti Sekeping Upah

Seorang pemuda yang telah lama membujang akhirnya memutuskan untuk menikah dan segera mempunyai anak.

Katanya,

"Apalah artinya aku bekerja setiap hari,
bila tak tahu kepada siapa aku harus membelanjakan upah yang kuterima?"

Apakah artinya upah bagi anda? Setiap sen upah yang anda terima adalah wujud hasil kerja dan kekuatan diri anda.

Upah adalah sebentuk baru dari energi kekuatan yang mengalir melalui setiap tetes keringat anda.
Energi itu sebelumnya telah mengarungi lautan komis, sinar matahari, gelombang ombak samudra bahkan
dedaunan hijau. Kini ia singgah di genggaman anda.

Namun, anda takkan dapat menghentikan perjalanannya. Ia harus terus melaju ke manapun ia akan mengalir.
Energi adalah aliran abadi alam raya. Itulah mengapa anda selalu berkeinginan membelanjakan upah anda.

Namun, bukan sekedar menghamburkannya, anda harus menjadi tempat persinggahan terbaik bagi energi itu. Anda bisa tunjukkan jalan kemana energi itu menuju.

Berikan kepada mereka yang anda cintai dengan setulus hati demi kebaikan hidup ini. Di sanalah anda temukan makna dalam setiap keping upah yang anda terima.

Sabtu, 21 Juni 2008

Mohon Maaf

Sehubungan dengan faktor teknis , kami kesulitan meng akses blogspot beberapa hari ini.

Sehingga posting artikel menjadi terhambat.

PWS - Medan

Rabu, 18 Juni 2008

SI JONI TÉA .......

Juma'ah kamari di masjid Cisomang, Cikalong.
Geus pukul dua welas saparapat can aya kénéh anu adan.
Cenah mah alatan mang Sarkawi tukang adan resmi, nuju teu damang.

"Saha anu tiasa adan ?", mama ajengan naros.
"Geus, aing lah........pira ogé adan....." ceuk si Joni maju.

Si Joni téh katelah budak baong, préman pasar.
Hadirin marolohok mata simeuteun.....teu nyangka.
Ceuleungkeung si Joni adan........ alus naker !

"Haayya allasshhoolllaaaaahhh....!"

Celetuk aya budak ngaharéwos ka baturna :

"Gening bisaeun nya si Joni téh adana "

Sigana mah kadéngéeun ku si Joni nu keur adan, pék ngomong bari agul :

"Si Joni téa atuh ! Tibubudak ogé geus bisa !" ceuk si Joni nyelang heula.

Atuh geumpeur saréréa da kana speaker masjid !

Abah Téa

Senin, 16 Juni 2008

IBROH


Suatu sore, ditahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ terasa hening mencengkam. Jendral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis,tengah memeriksa setiap kamar tahanan.

Setiap sipir penjara membungkukkan badannya rendah-rendah ketika 'algojo penjara' itu berlalu dihadapan mereka. Karena kalau tidak, sepatu 'jenggel' milik tuan Roberto yang fanatik Kristen itu akan mendarat di wajah mereka.

Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci.

"Hai...hentikan suara jelekmu! Hentikan...!" Teriak Roberto sekeras-kerasnya sembari membelalakan mata.

Namun apa yang terjadi ? Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyu'nya. Roberto bertambah berang. Algojo penjara itu menghampiri kamar tahanan yang lasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang.

Dengan congak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala.

Sungguh ajaib... Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yang pucat kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata Rabbi, waana'abduka...

Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata,

"Bersabarlah wahai ustadz...Insya Allah tempatmu di Syurga."

Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz olehsesama tahanan, 'algojo penjara' itu bertambah memuncak amarahnya. Ia diperintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-keras hingga terjerembab di lantai.

"Hai orangtua busuk! Bukankah engkau tahu,aku tidak suka bahasa jelekmu itu?! Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu! Ketahuilah orang tua dungu, bumi Spanyol ini kini telah berada dalam kekuasaan bapak kami, Tuhan Yesus. Anda telah membuat aku benci dan geram dengan 'suara-suara' yang seharusnya tak pernah terdengar lagi di sini."

Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mau minta maaf dan masuk agama kami."

Mendengar"khutbah" itu orang tua itu mendongakkan kepala,menatap Roberto dengan tatapan tajam dan dingin.
Ia lalu berucap,

"Sungguh...aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, ALlah. Bila kini aku berada dipuncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya,patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh."

Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendarat diwajahnya. Laki-laki itu terhuyung.Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah bersimbah darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah 'buku kecil'.

Adolf Roberto bermaksud memungutnya

Namun tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat.

"Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!" bentak Roberto.

"Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!"ucap sang ustadz dengan tatapan menghina pada Roberto. Tak ada jalan lain,akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu.

Sepatu lars berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto.Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus.

Bahkan 'algojo penjara' itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur.

Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung.

"Ah...sepertinya aku pernah mengenalbuku ini. Tapi kapan? Ya, aku pernah mengenal buku ini." suara hati Roberto bertanya-tanya.

Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu. Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan "aneh" dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Sepanyol.

Akhirnya Roberto duduk disamping sang ustadz yang telah melepas nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam.Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak.Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto. Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak-kanaknya terjadi kericuhan besar dinegeri tempat kelahirannya ini.

Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan dilapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia. Di hujung kiri lapangan,beberapa puluh wanita berhijab(jilbab) digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara.

Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para rahib.

Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu masih berdiri tegak dilapangan Inkuisisi yang telah senyap. korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua. Bocah mungil itu mencucurkan airmatanya menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang gantungan.

Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi yang tak sudah bernyawa, sembari menggayutinya.Sang bocah berkata dengan suara parau,

"Ummi, ummi,mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa....? Ummi, cepat pulang kerumah ummi..."

Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah. Akhirnya bocah ituberteriak memanggil bapaknya

"Abi...Abi...Abi..."

Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.

"Hai...siapa kamu?!" teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati sang bocah.

"Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi..." jawab sang bocah memohon belas kasih.

"Hah...siapa namamu bocah, coba ulangi!"bentak salah seorang dari mereka.

"Saya Ahmad Izzah..." sang bocah kembali menjawab dengan agak grogi.

Tiba-tiba "plak! sebuah tamparan mendarat di pipi sang bocah.
"Hai bocah...! Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu.

Sekarang kuganti namamu dengan nama yang bagus. Namamu sekarang 'Adolf Roberto' ..Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!" ancam laki-laki itu.

Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata. Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka.

Roberto sedar dari renungannya yang panjang. Sang Jendral itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah 'tanda hitam' ia berteriak histeris,

"Abi...Abi...Abi..."

Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu. Fikirannya terus bergelut dengan masa lalunya.Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada didalam genggamannya adalah Kitab Suci Al Qur'an milik bapaknya,yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya.

Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai 'tanda hitam' pada bahagian pusar. Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya selama ini.Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut,

"Abi... aku masih ingat alif, ba, ta, tha..."

Hanya sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya.

Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyiksanya habis-habisan kini tengah memeluknya.

"Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi,tunjukkan aku pada jalan itu..."

Terdengar suara Jendral Roberto memelas. Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya. Airmatanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, ditempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran ALlah.

Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap :

"Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu,"

Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah

"Asyahaduanla Illaaha ilAllah, wa asyahadu anna MuhammadRasullullah...'.

Beliau pergi dengan menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini.

Kini Ahmad Izzah telah menjadi seorang alim di Mesir.Seluruh hidupnya dibaktikan untuk agamanya, 'Islam,sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru dengannya... " Al-Ustadz Ahmad IzzahAl-Andalusy.

Benarlah firman Allah...

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut arahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS>30:30)


Paguyuban Wargi Sunda - Medan